Rekomendasi JPPI untuk Pendidikan 3T: Perubahan Mindset dan Desakan Upaya Kreatif
Senin, 05 Mei 2025, 14:28 WIBJAKARTA - Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menekankan perlunya perubahan mendasar pada pola pikir masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terkait pentingnya pendidikan. Perubahan ini dinilai krusial untuk mencegah tingginya angka putus sekolah di wilayah tersebut.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyampaikan hal ini dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi X DPR RI, Senin (5/5) hari ini. Ubaid menjelaskan, masih banyak masyarakat di daerah 3T yang memprioritaskan ketahanan ekonomi keluarga jangka pendek dibandingkan pendidikan, karena belum memiliki keyakinan bahwa sekolah dapat meningkatkan taraf hidup.
"Mereka berpikiran kalau sekolahnya ujung-ujungnya jadi petani, sehingga dari sekarang saja mereka menjadi petani. Jadi, kenapa harus jauh-jauh, dua jam, tiga jam naik perahu hanya untuk lulus SMP," ungkap Ubaid, menggambarkan tantangan mindset yang dihadapi.
Selain itu, JPPI mengidentifikasi lima faktor utama penyebab putus sekolah di daerah 3T, yaitu keterbatasan jumlah dan kualitas sekolah, aksesibilitas yang sulit, keterbatasan biaya, pernikahan dini dan pekerja anak, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan.
Jarak tempuh yang jauh untuk jenjang SMP dan SMA menjadi kendala tersendiri, terutama karena sekolah yang dekat dengan permukiman umumnya hanya tersedia untuk tingkat dasar.
Dr. Sukarno Umar, seorang pakar pendidikan daerah terpencil, berpendapat tentang perlunya pendekatan kreatif untuk mengubah pola pikir masyarakat.
"Pemerintah dan pegiat pendidikan perlu menunjukkan contoh nyata bagaimana pendidikan dapat membuka peluang ekonomi yang lebih baik. Program-program pelatihan keterampilan yang relevan dengan potensi daerah, pendampingan usaha, dan testimoni keberhasilan alumni daerah 3T yang sukses melalui pendidikan bisa menjadi cara yang efektif," ujarnya.
Menariknya, Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi, menambahkan bahwa pendidikan di daerah 3T harus dikemas secara menarik dan relevan dengan konteks lokal.
"Kurikulum yang adaptif, pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kondisi geografis, serta pelibatan tokoh masyarakat dan budaya setempat dapat meningkatkan minat anak-anak dan orang tua terhadap pendidikan. Selain itu, penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya formal di sekolah, tetapi juga pembelajaran keterampilan hidup yang berguna," katanya.
Mengubah pola pikir masyarakat di daerah 3T memerlukan upaya yang berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak. Terobosan kreatif dalam penyampaian manfaat pendidikan dan penyediaan akses yang lebih baik menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Yuniar Dwi Setiawati
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.