Kontroversi Dedi Mulyadi Kirim 'Anak Nakal' ke Militer, Ahli Pendidikan Menolak

Senin, 05 Mei 2025, 11:42 WIB

JAKARTA - Ide mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mengirim anak-anak yang dianggap "nakal" ke barak militer terus menuai polemik. Banyak pihak menilai pendekatan ini bertentangan dengan prinsip pendidikan humanis dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak.

Kritik tajam dilontarkan terkait durasi pendidikan militer yang singkat, kurangnya fokus pada aspek akademik, serta potensi mengabaikan prinsip ramah anak dan kesetaraan gender. Para ahli pendidikan khawatir, pendekatan ini justru akan memicu trauma dan ketidakadilan.

Ket. Foto: Ide mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengirim anak-anak yang dianggap "nakal" ke barak militer terus menuai polemik. — Sumber: WorldToday

Dr. Ratna Megawangi, seorang pakar pendidikan karakter, menilai ide Dedi Mulyadi sebagai langkah mundur.

"Pendidikan karakter tidak bisa dicapai dengan metode militeristik yang kaku. Pendekatan ini mengabaikan pentingnya dialog, empati, dan pemahaman terhadap kebutuhan individu anak. Anak-anak yang dianggap 'nakal' seringkali membutuhkan pendampingan psikologis dan pendekatan yang lebih personal, bukan hukuman fisik atau isolasi," ujarnya.

Kak Seto Mulyadi, psikolog anak dan tokoh pendidikan, juga menekankan pentingnya prinsip ramah anak dalam setiap metode pendidikan.

"Pendidikan di barak militer harus tetap mengedepankan pendekatan yang sesuai dengan usia dan perkembangan psikologis anak. Kekerasan fisik atau verbal tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk kondisi psikologis mereka. Kita perlu belajar dari negara-negara Skandinavia yang menerapkan pendekatan humanis dan restoratif dalam menangani anak-anak yang bermasalah," jelasnya.

Kontroversi ini juga menyoroti peran orang tua dan sekolah dalam mendidik anak. Banyak pihak mempertanyakan mengapa orang tua yang merasa gagal mendidik anak justru menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada militer.

Maka dari itu, penting sekali untuk menyusun re-desain kurikulum yang fokus pada pengembangan potensi dan minat anak, serta menghindari pelabelan "anak nakal" yang berpotensi merusak citra diri mereka. Pendidikan militer, jika tetap diterapkan, harus diintegrasikan dengan pembelajaran akademik dan pengembangan keterampilan sosial agar memberikan manfaat yang holistik bagi anak didik.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.