Mendag apresiasi BUMDes di Banyumas mampu ekspor ke Hungaria
Kamis, 01 Mei 2025, 15:35 WIBBanyumas, Jawa Tengah -- Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengapresiasi badan usaha milik desa (BUMDes) Kabul Ciptaku, Desa Langgongsari, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang melakukan ekspor gula semut atau gula kelapa kristal sebanyak 18,5 ton ke Hungaria.
"Pelepasan ekspor ini terasa istimewa. Jadi, ini saya baru pertama kali menghadiri pelepasan ekspor yang dilakukan oleh BUMDes," katanya dalam sambutan pada pelepasan ekspor gula kelapa kristal ke Hungaria di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.
Menurut dia, biasanya pelepasan ekspor dilakukan oleh perusahaan swasta atau badan usaha milik negara (BUMN), namun di Desa Langgongsari dilakukan oleh BUMDes Kabul Ciptaku.
"Kami juga mengucapkan selamat kepada BUMDes Kabul Ciptaku yang telah berhasil mengekspor produk gula ini dengan nilai 30.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp584 juta ke Hungaria," katanya menegaskan.
Lebih lanjut, dia mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2025 sebesar 7,1 persen atau meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,9 persen.
Dalam hal ini, kata dia, pemerintah ingin mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, sehingga target pertumbuhan ekspornya harus tinggi, yakni sebesar 7,1 persen.
"Untuk itu, kita mempunyai tiga program, pertama adalah pengamanan pasar dalam negeri, kemudian perluasan pasar ekspor, dan program UMKM Bisa Ekspor. Bisa ekspor artinya berani invasi dan siap adaptasi, ini yang telah dilakukan oleh Desa Langgongsari," katanya.
Lebih lanjut, Budi mengatakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) telah mempunyai nota kesepahaman.
Menurut dia, pihaknya langsung menindaklanjuti nota kesepahaman tersebut dengan mengidentifikasi sebanyak 2.332 desa yang dibagi menjadi dua klaster.
"Klaster yang pertama sebanyak 734 desa siap ekspor, kemudian klaster kedua sebanyak 1.598 desa belum siap ekspor. Klaster satu dan klaster dua nanti ada perlakuan yang berbeda, artinya ada pembinaan yang berbeda," katanya.
Ia mengatakan bagi desa siap ekspor akan difasilitasi pertemuan bisnis secara daring dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, sedangkan untuk desa yang belum siap ekspor akan dilakukan pembinaan atau pelatihan pengembangan ekspor, termasuk pengemasan produk.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
-
Darurat Pinjol Ilegal! OJK Blokir 953 Pindar dalam Tiga Bulan
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
BUMDes kelola wisata UFO Menoreh
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Hasil Liga Italia: AC Milan Dipermak Udinese 0-3 di San Siro
-
Pemkot Jaksel Targetkan Keruk 6.842 Meter Kubik Lumpur Kali Krukut
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.