Mendikdasmen Minta Wisuda di Sekolah Tidak Berlebihan dan Dipaksakan

Selasa, 29 Apr 2025, 19:40 WIB

JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, meminta kegiatan wisuda di jenjang sekolah tidak berlebihan. Menurutnya, wisuda merupakan momen rasa syukur sekaligus mendekatkan orang tua dan sekolah.

“Wisuda itu jangan berlebih-lebihan dan juga jangan dipaksakan. Itu kan sebagai tanda gembira, tanda syukur gitu kan,” ujar Mu'ti, di Jakarta, Selasa (29/4).

Ket. Foto: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti dalam acara Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah, di Jakarta, Selasa (29/4). — Sumber: istimewa

Dia menekankan, wisuda juga tidak boleh membebani perekonomian orang tua siswa. Selain itu, jangan juga dalam kegiatan wisuda tersebut ada penyebutan siswa terbaik. “Yang penting jangan memberatkan, jangan dipaksakan, dan jangan berlebih-lebihan gitu,” jelasnya.

Terkait adanya larangan wisuda di sekolah oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Mendikdasmen enggan mengomentari lebih jauh. Meski begitu, dia menyebut, kebijakan wisuda harus dikembalikan ke masing-masing sekolah. “Karena itu maka menurut saya, ya lah itu dikembalikan saja kepada masing-masing sekolah,” katanya.

Sebagai informasi, dalam akun media sosialnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berdebat dengan seorang siswa terkait boleh atau tidaknya kegiatan wisuda di sekolah. Dedi melarang kegiatan wisuda karena terkesan memberatkan perekonomian orang tua.

Kasus Menyontek

Pada kesempatan tersebut, Mendikdasmen juga menanggapi adanya temuan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menemukan banyaknya kasus mencontek di sekolah. Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi karena beberapa hal mulai dari bentuk soal, rasa percaya diri murid, dan orientasi pendidikan.

“Itu menjadi salah satu dari beberapa sebab kenapa menyontek itu masih cukup tinggi angkanya sesuai dengan survei yang dilakukan oleh KPK,” ucapnya.

Dia menyebut, pihaknya akan berusaha menjadikan SPI Pendidikan 2024 sebagai landasan perbaikan sistem pembelajaran. Pihaknya menyiapkan konsep pembelajaran mendalam atau deep learning dengan soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir tinggi.

“Jadi tidak mungkin mereka menyontek karena semua berasal dari pemikiran-pemikiran dan juga gagasan yang memang menjadi ukuran kemampuan mereka,” terangnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.