• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Catat! PAFI Ungkap Penyeba...

Catat! PAFI Ungkap Penyebab Batuk TBC dan Cara Pengobatannya

Jumat, 18 Apr 2025, 01:28 WIB

JAKARTA - Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) pafikabupatenkerinci.org aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab batuk TBC (Tuberkulosis), serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.  TBC menjadi salah satu gangguan kesehatan yang cukup berbahaya. 

Infeksi bakteri dari mycobacterium tuberculosis dapat menyebabkan batuk TBC, yang biasanya terjadi di paru-paru. Namun, bahayanya bakteri ini juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti kelenjar getah bening, tulang, dan otak. Ketika seseorang menderita batuk TBC membutuhkan penanganan medis segera.

Ket. Foto: — Sumber: Freepik/bangunstock_productions

PAFI adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Organisasi kesehatan ini berupaya untuk meningkatkan profesionalisme dalam industri farmasi, memastikan bahwa setiap ahli farmasi di Indonesia memiliki standar kualifikasi dan etika yang tinggi dalam praktiknya.

Apa saja faktor penyebab terjadinya batuk TBC?

Pada umumnya, TBC (Tuberkulosis) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, dan salah satu gejala utamanya adalah batuk berkepanjangan. Batuk TBC biasanya berlangsung lebih dari dua minggu dan sering disertai dengan dahak yang kental berwarna kuning atau hijau, serta kadang-kadang bercampur darah. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya batuk TBC yang perlu diperhatikan meliputi:

1. Adanya infeksi bakteri

Bakteri mycobacterium tuberculosis adalah sumber dan penyebab utama TBC. Bakteri ini menyerang paru-paru dan dapat menyebar ke organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, dan otak. Infeksi ini biasanya dimulai di paru-paru, yang kemudian dapat menyebabkan gejala seperti batuk berkepanjangan, dahak yang kental, dan kadang-kadang bercampur darah.

2. Penularan TBC melalui udara

Penularan TBC dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung bakteri ini, biasanya melalui percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Oleh karena itu, penularan lebih mudah terjadi di lingkungan yang padat penduduk atau di tempat-tempat tertutup tanpa ventilasi yang baik.

3. Lingkungan yang padat penduduk

Lingkungan yang padat penduduk adalah suatu kondisi di mana jumlah penduduk di suatu wilayah relatif tinggi dibandingkan dengan luas lahan yang tersedia. Kepadatan penduduk ini sering diukur dengan membandingkan jumlah penduduk dengan luas wilayah dalam satuan tertentu, seperti per kilometer persegi. Lingkungan padat penduduk bisa menimbulkan berbagai penyakit, salah satunya malaria hingga batuk TBC.

4. Malnutrisi

Malnutrisi adalah suatu kondisi medis yang terjadi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan asupan nutrisi, baik karena kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan energi dan nutrisi lainnya. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada kesehatan dan fungsi tubuh.

5. Kondisi medis lainnya

Kondisi kesehatan yang buruk, seperti HIV/AIDS, atau penyakit kronis lainnya, dapat meningkatkan risiko terinfeksi TBC karena sistem imun yang lemah. Selain itu, penggunaan obat-obatan imunosupresif juga dapat meningkatkan risiko ini.

Apa saja obat yang tepat untuk mengobati batuk TBC?

PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari batuk TBC. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala batuk TBC serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:

1. Isoniazid

Isoniazid adalah salah satu obat paling efektif dalam mengobati TBC. Ia bekerja dengan menghambat replikasi bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri. Isoniazid sering digunakan dalam kombinasi dengan obat lain untuk mencegah resistensi bakteri.

2. Rifampicin

Rifampicin adalah obat lain yang sangat efektif dalam membunuh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ia sering dikombinasikan dengan isoniazid dan obat lain untuk memastikan pengobatan yang komprehensif. Rifampicin bekerja dengan mengganggu sintesis RNA bakteri, sehingga mencegah bakteri bereproduksi.

3. Pyrazinamide

Pyrazinamide digunakan dalam kombinasi dengan isoniazid dan rifampicin. Ia bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, terutama di dalam sel-sel tubuh. Pyrazinamide sangat efektif dalam membunuh bakteri yang berada dalam kondisi dorman.

Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengobati batuk TBC adalah lebih banyak minum air putih serta menghindari rokok maupun asap rokok. Hal ini dapat membantu untuk menghindari iritasi pada saluran pernapasan.. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.

(IKN)

  • TBC
  • Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI)

Penulis: Tim Redaksi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.