Trump Minta Tim Ekonomi Kaji Potensi Tarif Baru Impor Mineral Langka
📅 Kamis, 17 Apr 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Brendan SMIALOWSKI/AFP
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) memerintahkan jajaran kabinetnya khususnya Menteri Perdagangan, Howard Lutnick untuk mengkaji potensi tarif baru pada semua impor mineral penting negara tersebut.
Perintah tersebut mengungkap apa yang telah lama diperingatkan oleh para produsen, konsultan industri, akademisi, dan pihak lain kepada Washington kalau AS terlalu bergantung pada Beijing dan pihak lain untuk versi mineral olahan yang menggerakkan seluruh ekonominya.
Sebagai informasi, Tiongkok merupakan produsen global teratas untuk 30 dari 50 mineral yang dianggap penting oleh Survei Geologi AS dan telah membatasi ekspor dalam beberapa bulan terakhir.
Presiden Donald Trump diberitakan sudah menandatangani perintah yang mengarahkan Menteri Perdagangan Howard Lutnick untuk memulai tinjauan keamanan nasional berdasarkan Bagian 232 dari Undang-Undang Perluasan Perdagangan tahun 1962. UU tersebut sama yang digunakannya pada masa jabatan pertamanya untuk mengenakan tarif global sebesar 25 persen untuk baja dan aluminium. Regulasi itu juga yang digunakannya pada Februari untuk meluncurkan kajian terhadap potensi tarif tembaga.
Kebergantungan AS pada impor mineral meningkatkan potensi risiko terhadap keamanan nasional, kesiapan pertahanan, stabilitas harga, dan kemakmuran serta ketahanan ekonomi,” kata Trump dalam perintah yang dilansir Reuters, pada Rabu (16/4).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam waktu 180 hari, Lutnick diharuskan melaporkan temuannya kepada presiden, termasuk jika harus mengenakan tarif. Gedung Putih menyatakan jika Trump akhirnya mengenakan tarif pada mineral penting suatu negara, maka tarif tersebut akan menggantikan tarif timbal balik yang dikenakan Trump awal bulan ini.
Peninjauan tersebut akan menilai kerentanan AS untuk pemrosesan semua mineral penting, termasuk kobalt, nikel, dan 17 mineral langka lainnya serta uranium.
AS saat ini mengekstraksi dan memproses litium dalam jumlah sedikit, hanya memiliki satu tambang nikel tetapi tidak memiliki peleburan nikel, dan tidak memiliki tambang atau kilang kobalt. Meskipun memiliki beberapa tambang tembaga, AS hanya memiliki dua peleburan tembaga dan bergantung pada negara lain untuk memproses logam merah utama tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyelidikan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi beberapa negara pemasok yang bersahabat dan ingin mendapatkan pengecualian. Apalagi AS sebelumnya telah menandai potensi pengurangan tarif untuk energi dan mineral lain yang tidak tersedia di dalam negeri.
“Australia adalah pemasok tepercaya mineral penting bagi industri AS, penyelidikan ini memberikan peluang bagi negara tersebut untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok sumber daya penting yang andal ini,” kata CEO Minerals Council of Australia, Tania Constable.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!