Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hindari Gangguan Dagang, Pemerintah Perlu Dorong Diversifikasi Pasar Ekspor

📅 Kamis, 17 Apr 2025, 08:24 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hindari Gangguan Dagang, Pemerintah Perlu Dorong Diversifikasi Pasar Ekspor Doc: istimewa
Ket. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri pada menilai pengetatan pasar yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dapat menjadi titik balik untuk memperluas pasar ekspor

JAKARTA-Indonesia perlu mengurangi kebergantungan pada pasar tradisional. Pemerintah perlu memperluas hubungan dagang ke negara negara non tradisional seperti Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan. Perluasan pasar ekspor membuat perdagangan lebih dinamis dan tidak rentan terhadap dinamika perdagangan global.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri pada menilai pengetatan pasar yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dapat menjadi titik balik. "Ketergantungan terhadap pasar traditional AS harus segera dikurangi. Pemerintah perlu memperluas pasar ekspor ke wilayah-wilayah non-tradisional seperti Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan,"tegas Freesca pada Koran Jakarta, Kamis (17/4).

Selain itu lanjutnya, ekspor harus diarahkan pada produk bernilai tambah. Contohnya, alih-alih mengekspor crude palm oil (CPO) mentah, Indonesia bisa mendorong ekspor biodiesel yang lebih ramah lingkungan dan bernilai lebih tinggi.

Kenaikan harga produk impor AS sebagai imbas dari tarif balasan Indonesia juga membuka peluang munculnya gerakan "cinta produk lokal." Konsumen domestik kemungkinan akan lebih memilih produk dalam negeri, beras lokal ketimbang gandum impor, atau tekstil lokal ketimbang produk luar.

"Fenomena ini bisa menjadi momentum kebangkitan industri dalam negeri, asalkan didukung oleh kebijakan afirmatif seperti subsidi bahan baku, peningkatan kualitas produk, dan kemudahan perizinan bagi pelaku UMKM dan industri kecil-menengah,"tegasnya.

Muhammad Zulfikar Rakhmat, Direktur MENA-Indonesia di Celios, menyatakan bahwa gejolak perekonomian global, terutama setelah adanya kebijakan peningkatan

tarif oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada berbagai negara melahirkan tantangan baru bagi banyak pihak. 

Dengan semakin ketatnya hambatan masuk ke pasar domestik Amerika Serikat, negara-negara pemasok komoditas perlu beralih ke region lain yang lebih menjanjikan. Hal ini tentulah melahirkan peluang baru bagi negara-negara Selatan untuk mempererat jalinan kerja sama dagang antar satu sama lain sebagai bentuk solidaritas dan langkah menghadapi kebijakan tarif

Trump. 

"Ini sebabnya kerja sama Selatan-Selatan perlu kembali hadir dalam mengatasi isu global diera modern,"ucapnya dalam diskusi bertajuk Gaung Konferensi Bandung: Mengembalikan Semangat Kerja Sama Selatan-Selatan" yang digelar Senin (15/4).

Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Asia Pasifik dan Afrika di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menyampaikan, kerja Sama Selatan-Selatan tidak hanya mendukung tujuan pembangunan, tetapi juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi akses pasar, mempromosikan perdamaian global, mengatasi tantangan global, dan menangani bencana alam.

Indonesia perlu mengakhiri kebergantungan pada ekspor komoditas. Pengetatan pasar yang dilakukan Amerika Serikat (AS) menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan reformasi struktural serta memperkuat industri dalam negeri. Tujuannya agar dominasi ekspor ke depannya lebih pada produk bernilai tambah bukan lagi bahan mentah.

Reformasi Struktural

Pengamat kebijakan publik Fitra Badiul Hadi menegaskan pemerintah harus melakukan reformasi struktural, fundamental, dan masif. "Perang dagang merupakan panggilan untuk membongkar ilusi kenyaman ekonomi kita selama ini. Ketergantungan pada komoditas mentah, rendahnya nilai tambah industri membuat kita rapuh saat perdangangan dan ekonomi dunia terguncang,"tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

39 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

44 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.