Kemdiktisaintek Dukung Upaya Penurunan Risiko Stunting di NTT

Rabu, 26 Mar 2025, 23:08 WIB
JAKARTA -  Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendukung upaya penurunan risiko stunting dan pengentasan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Upaya tersebut diinisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan, menyampaikan konsorsium ini melibatkan beberapa perguruan tinggi. Meski demikian, konsorsium ini tetap dibentuk dengan semangat yang sama, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. 
“Misi kita adalah untuk mensaintifikasi kebutuhan masyarakat. Termasuk di stunting, pangan, energi, dan sebagainya. Jadi, eksekusi program dilakukan dengan pertimbangan ilmu pengetahuan. Harapan besarnya, kita akan menjadi ekosistem atau komunitas yang dapat berkontribusi pada kehidupan masyarakat,” ujar, dalam diskusi KPT untuk Penurunan Stunting di NTT, di Jakarta, Rabu (26/3).
Dia menjelaskan, sebagai bagian dari upaya strategis menurunkan angka prevalensi stunting, pihaknya berperan sebagai integrator yang menjembatani berbagai pihak dalam konsorsium, termasuk di dalamnya akademisi, pemerintah, dan sektor industri. Dengan pendekatan ini, konsorsium diharapkan memberikan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
"Konsorsium diharapkan juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi dan penguatan ekosistem riset yang berkelanjutan," jelasnya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendiktisaintek Fauzan Adziman menyampaikan bahwa program ini dapat dijadikan percontohan bagi pembentukan konsorsium lainnya. Menurutnya, konsorsium yang baik sedapatnya melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan keberlanjutan serta efektivitas program yang dijalankan.
Dia berharap program tersebut dapat dilaksanakan secara menyeluruh atau holistik, dengan pelaksanaan yang berkelanjutan. Lebih jauh, program tersebut juga bisa diimplementasikan di wilayah-wilayah lain.
"Kementerian sedang membangun program pendanaan riset yang cocok untuk konsorsium ini, baik dari aspek pengabdian kepada masyarakat, riset, maupun pendampingan,” katanya.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan tahun 2023, Propinsi NTT memiliki prevalensi stunting sebesar 37,9 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari rata-rata prevalensi stunting Indonesia sebesar 21,5 persen. 
Menurut Kepala LLDIKTI XV Adrianus Amheka, kasus stunting di NTT hampir merata di seluruh kabupaten/kota. Dalam Konsorsium ini, Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang selaku penggagas konsorsium ini telah merumuskan Rencana Aksi (Renaksi) KPT untuk penurunan risiko stunting dan pengentasan kemiskinan. 
“Bapak Gubernur NTT menyampaikan untuk segera membantuk satuan tugas untuk mengawal program strategis daerah ini. Objek penerima manfaatnya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah dua tahun,” tuturnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.