Hati-Hati Kelola APBN di Tengah Melemahnya Daya Beli

Rabu, 12 Mar 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Pemangkasan rating oleh Goldman Sachs terhadap pasar saham dan obligasi Indonesia dinilai akan berdampak kurang baik terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka pendek. Seperti diketahui, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu, memangkas peringkat sejumlah aset investasi mereka di Indonesia, utamanya yang ada di pasar saham dan surat utang.

Goldman Sachs memotong peringkat saham Indonesia dari overweight menjadi market weight, sedangkan di pasar obligasi, mereka juga menyesuaikan peringkat untuk surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun hingga 20 tahun menjadi netral dari sebelumnya termasuk disukai.

Ket. Foto: Budi Frensidy Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) - Faktor yang mendorong Goldman Sachs memangkas rating, di antaranya risiko fiskal Indonesia yang semakin meningkat seiring adanya berbagai insentif yang ditawarkan Pemerint — Sumber: antara

Para analis Goldman Sachs menilai risiko itu berpusat pada kekhawatiran atas kondisi ekonomi, setelah Pemerintah mengumumkan serangkaian langkah termasuk realokasi anggaran serta perluasan kebijakan perumahan untuk keluarga berpenghasilan rendah, yang diproyeksikan akan dapat memperburuk defisit. Strategist Goldman Sachs, Timotius Moe menyebutkan dengan laba perusahaan yang lebih rendah dan likuiditas sistem perbankan yang ketat menjadi tekanan tambahan kepada pasar. 

“Penundaan yang tidak biasa anggaran bulanan Indonesia pada Januari membuat para investor mengajukan pertanyaan tentang keadaan keuangan pemerintah,” kata Timotius. Menanggapi hal itu, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan pemangkasan rating oleh Goldman Sachs terhadap pasar saham dan obligasi Indonesia, dalam jangka pendek akan berdampak kurang baik. “Dalam jangka pendek, prospek tentunya kurang baik,” kata Budi saat dihubungi Antara, di Jakarta, Selasa (11/3).

Menurutnya, faktor yang mendorong Goldman Sachs untuk memangkas rating, di antaranya risiko fiskal Indonesia yang semakin meningkat seiring adanya berbagai insentif yang ditawarkan Pemerintah. Dia pun merekomendasikan agar pemangku kebijakan harus lebih berhati-hati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah melemahnya daya beli masyarakat, menurunnya jumlah kelas menengah,

 serta stagnasi rasio pajak. Guru Besar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Imron Mawardi, menjelaskan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan global. Salah satunya adalah kebijakan perdagangan Donald Trump, yang tidak hanya berdampak pada hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Kanada dan Meksiko saja, tetapi juga memicu reaksi keras dari negara-negara lain, seperti negara-negara Eropa.

 “Jika AS menerapkan tarif tertentu, negara lain yang merasa dirugikan akan cenderung membalas dengan kebijakan serupa. Investor merasa khawatir dengan berbagai kebijakan tersebut, karena berpotensi mempengaruhi kinerja perusahaan- perusahaan di Indonesia,” katanya. “Makanya, banyak investor melakukan aksi jual meskipun saham tersebut secara fundamental sebenarnya masih cukup baik. Akibatnya, banyak harga saham terkoreksi dan terlihat lebih murah, meskipun kondisi fundamentalnya tetap kuat,” kata Imron.

Sentimen negatif juga datang dari dalam negeri, seperti kasus korupsi di sektor-sektor penting. Sentimen itu meningkatkan ketidakpercayaan pasar, sehingga mendorong aksi jual dan menyebabkan nilai saham turun hingga ke level 6.400-an dari sebelumnya yang sempat mendekati level 7.000. “Dalam jangka waktu sekitar dua minggu terakhir, faktor global memang lebih dominan. Namun, ada juga faktor domestik yang berperan,” ungkapnya.

Cenderung Negatif

Dalam kesempatan terpisah, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menilai keputusan Goldman Sachs jika dilihat secara seksama memang tidak terlepas dari kebijakan fiskal pemerintah. Misalnya pemberian insentif ekonomi dapat meningkatkan beban fiskal negara, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keseimbangan anggaran.

“Dalam jangka pendek kebijakan Goldman Sachs ini dapat cenderung negatif, menurunkan kepercayaan investor asing sehingga lebih hati hati menanamkan modal di Indonesia dan modal asing yang selama ini berperan besar di pasar saham dan obligasi Indonesia bisa keluar lebih cepat (capital outflow),

menyebabkan tekanan pada nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar,” kata Badiul. Seiring dengan meningkatnya risiko fiskal, investor akan meminta imbal hasil (yield) lebih tinggi untuk menutupi risiko tambahan, sehingga beban bunga utang pemerintah bisa meningkat dan ini akan menekan APBN. “Dalam jangka panjang pemerintah perlu menyeimbangkan insentif yang diberikan dengan langkah langkah peningkatan pendapatan, dan efisiensi belanja negara,”katanya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Libur Panjang Bikin Stasiun Jakarta Padat, 38.842 Penumpang Berangkat Naik Kereta

Bupati Sintang Imbau Warga untuk Peduli dan Hentikan Bakar Hutan dan Lahan

Kerajinan Badui Banjir Pesanan di Bazar Harkop Harnas, UMKM Lokal Raup Omzet

Senangnya! Cerita Komik "Oki dan Nirmala dari Negeri Dongeng" akan Diangkat ke Layar Lebar!

'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.