Biaya Logistik Tinggi, Ikut Menambah Beban Keuangan Masyarakat
Jumat, 21 Agu 2026, 00:45 WIBPenyimpanan Barang
JAKARTA - Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) Berty Argiyantari menilai integrasi sistem menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.
Indonesia katanya telah memiliki berbagai aset pendukung logistik, mulai dari pelabuhan, gudang hingga depo, namun pemanfaatannya perlu semakin terhubung sebagai satu kesatuan sistem.
âSecara aset, kita sudah punya konektivitas, pelabuhan, gudang, depo, tapi secara sistem belum terintegrasi.
Masih jalan sendiri-sendiri sehingga biaya naik dan lead time panjang,â kata Berty dalam sesi Transportation pada Industrial Summit 2026 di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurut dia, peningkatan kinerja logistik tidak cukup dilakukan dengan mengoptimalkan masing-masing aset secara terpisah, tetapi memerlukan keterhubungan antartitik dalam rantai pasok agar pergerakan barang semakin efisien.
Berty menilai sistem logistik yang terintegrasi diperlukan untuk menopang aktivitas ekonomi karena teknologi maupun infrastruktur yang tersedia perlu terhubung hingga proses pengiriman barang kepada konsumen.
âKe depannya, kita harap semua terkoneksi dari demand sampai konsumen secara end-to-end,â ujarnya.
Salah satu tantangan yang dicatat Berty adalah backhaul atau ketersediaan muatan balik setelah kendaraan mengirimkan barang ke daerah tujuan.
âMasalah terbesar adalah backhaul, muatan balik. Kita kirim 10 truk ke Surabaya, baliknya yang ada isinya cuma 4-5 truk. Sisanya kosong atau menunggu,â tuturnya.
Menurut Berty, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kapasitas angkutan yang dapat dioptimalkan dengan mempertemukan kebutuhan pengiriman dari berbagai titik dalam suatu sistem logistik yang lebih terhubung.
Karena itu, ia menilai indikator keberhasilan pengelolaan logistik perlu bergeser dari sekadar kinerja setiap aset menuju optimalisasi keseluruhan proses rantai pasok.
âKey Performance Indikator (KPI) kita harus bergeser dari sekadar performa aset ke optimalisasi end-to-end yang menciptakan nilai bagi konsumen,â ujarnya.
Pemerintah sendiri menargetkan biaya logistik turun dari angka dasar 14,29 persen terhadap PDB pada 2022 menjadi 12,5 persen pada 2029 dan terus ditekan hingga 8 persen pada 2045.
Lebih lanjut, Berty menilai penguatan keterhubungan antarpelaku, aset dan proses dalam rantai pasok menjadi bagian penting dalam membangun sistem logistik yang semakin efisien serta mendukung transformasi ekonomi Indonesia.
Tertinggi di ASEAN
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menyebut biaya logistik Indonesia saat ini berada pada kisaran 14,29 hingga 23 persen dari PDB yang menempatkannya sebagai salah satu negara yang tertinggi di ASEAN dan hampir dua kali lipat dibanding negara maju yang berada di level 8â10 persen.
Berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) World Bank, kinerja logistik Indonesia berada di posisi 61 dari 139 negara dengan skor 3,0.
Jauh di bawah Singapura yang peringkat 1 dengan skor 4,14.
Malaysia ada di peringkat 32 dengan skor 3,43 dan biaya logistik sekitar 13 persen dari PDB.
Thailand berada di peringkat 45 dengan skor 3,26.
Esther menjelaskan tingginya biaya logistik berdampak langsung pada harga barang.
Biaya pengiriman yang mahal membuat harga jual kebutuhan pokok dan barang seharihari ikut melonjak.
Kondisi ini memberatkan beban finansial masyarakat secara keseluruhan.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Buntut Kasus Dokter Magang, Kemenkes Perbaiki Tata Kelola Magang Kedokteran
-
Pemberantasan Korupsi Harus Dibarengi Kesadaran Etika dan Moral
-
21,4 Kg Sabu Gagal Diselundupkan ke Indonesia, Satgas Pamtas Yonarhanud 1 Kostrad Amankan WNA di Entikong.
-
Jakarta Jadi Tuan Rumah Ajang Penyelenggaraan "Harmony in Diversity Award 2026"
-
Indonesia Tegaskan Dukungan bagi Perdamaian Myanmar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.