Jangan Ragu! Investasi EBT Kunci Menuju Kemandirian Energi
Jumat, 28 Feb 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Indonesia harus berani masuk kepada investasi energi baru terbarukan atau EBT. Pasalnya, investasi di sektor tersebut memiliki risiko tinggi yang menjadi tantangan utama selama ini.
Wakil Menteri (Wamen) Investasi dan Hilirisasi/ Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengakui upaya menarik inveatasi ke sektor EBT menjadi pekerjaan rumah besar ke depannya. Investasi di energi terbarukan ini merupakan tantangan sangat besar dikarenakan cukup high risk.
"Saya juga setuju bahwa di situ butuh teknologi dan investment capital expenditures (capex) yang sangat besar dengan risiko yang tinggi, tetapi dengan adanya situasi saat ini dan apalagi kita masuk ke dalam konsep Danantara yang merupakan konsep kemandirian berinvestasi kita, saya pikir dan ini juga memang sudah ditetapkan oleh Bapak Presiden RI, kita harus berani masuk kepada investasi energi terbarukan itu sendiri," ujar Todotua Pasaribu di Jakarta, Kamis (27/2).
Menurut dia, khususnya di bidang panas bumi atau geotermal, Indonesia memiliki cadangan terbesar kedua di dunia. "Kita meyakini karena hampir sebagian besar wilayah Indonesia itu dilalui oleh garis gunung berapi," katanya.
Berbicara terhadap energi baru dan terbarukan. Total potensial energi baru dan terbarukan yang menjadi target Indonesia ke depannya adalah di angka 3.700 gigawatt. Namun, realisasinya saat ini masih sangat rendah.
"Ini memang hal yang serius dari angka yang baru termanfaatkan sekitar 14,4 gigawatt atau hanya baru sekitar 0,39% daripada potensi 3.700 gigawatt, ini memang adalah suatu tantangan atau potensi yang sangat besar untuk kita masuk serius pengelolaannya ke depan. Apalagi ke depan tren kondisional saat ini dan ke depan memang isu masuk kepada energi terbarukan ini adalah is a must (wajib)," kata Wamen Investasi.
Peluang Besar
Sebagai informasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengajak 35 delegasi perusahaan asal Prancis tergabung dalam asosiasi pengusaha internasional dari Prancis (MEDEF) untuk menanamkan modalnya di sektor energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Rosan mengatakan para investor Prancis memiliki peluang besar dalam mengembangkan sektor energi terbarukan di Indonesia, mengingat energi tersebut mencapai sekitar 3.700 gigawatt dan baru 1 persen yang dimanfaatkan, atau sekitar 13,08 gigawatt.
Potensi itu tersebar di berbagai wilayah, dengan potensi terbesar berasal dari energi surya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Duolingo Gandeng Niki Ubah Lirik Lagu 'Backburner' Jadi Cara Seru Belajar Bahasa Inggris
-
Percepat Transisi Energi Terbarukan
-
Nggak Perlu Bangun PLTU Baru! Ini Jurus PLN Tekan Emisi Pakai Limbah Kebun Milik Warga
-
Chelsea Melaju ke Final Piala FA Setelah Tundukan Leeds United 1-0
-
Film Terbaru "Spider Man: Brand New Day" Ceritakan Babak Selanjutnya Kisah Peter dan MJ
-
Hasil Liga Jerman: Eintracht Frankfurt Diimbangi Koln di Kandang
-
Kebutuhan Gas Pembangkit Naik 4,5% per Tahun, LNG Jadi Andalan Transisi Energi hingga 2034
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.