Mendiktisaintek Nilai Penyiapan Guru Masih Biasa Saja
Senin, 27 Jan 2025, 18:44 WIBJAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro, menilai, saat ini penyiapan guru masih biasa saja. Menurutnya, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus mampu memunculkan terobosan.
"Sampai saat ini saya melihat bahwa pendidikan kita secara umum terutama dalam penyiapan guru-guru kita di sekolah baik dari PAUD STD SMP SMA itu masih terkesan seperti yang biasa-biasa saja. Belum ada terobosan dari LPTK," ujar Satryo, dalam Pelantikan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode 2025-2030, yang diakses secara daring, Senin (27/1).
Dia menjelaskan, terobosan dan inovasi LPTK dibutuhkan agar guru yang dihasilkan mampu meningkatkan literasi para murid. Dia menyinggung nilai PISA Indonesia untuk kategori numerasi, sains, dan membaca yang terendah nomor dua dari 69 negara.
Satryo melanjutkan, literasi penting untuk menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka mencapai Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kunci keberhasilan negara maju karena lulusan perguran tinggi dan sekolah mempunyai tingkat literasi yang tinggi.
"Kalau bisa agak difokuskan sedikit bagaimana guru-guru kita ke depan itu mampu untuk menciptakan generasi muda kita yang sangat tinggi tingkat literasinya baik dalam numerik sains dan membaca," jelasnya.
Metode Baru
Dia menekankan, tidak ada murid yang bodoh. Menurutnya, wilayah-wilayah yang kerap disebut tertinggal seperti Papua terkendala karena tidak mendapat kesempatan dan metode pembelajaran yang terpat.
"Nah untuk itu memang diperlukan beberapa metode pembelajaran yang harus kita kembangkan. Ciptakanlah berbagai metode belajar yang ada di dunia ini atau kita lihat yang sudah ada di tempat-tempat tertentu best practice-nya seperti apa," katanya.
Satryo meminta agar metode tersebut tidak diciptakan dari kaidah atau teori yang sudah ada. Hal tersebut karena tantangan ke depan penuh ketidakpastian sehingga inovasi sangat diperlukan.
"Bagaimana cara kita menyiapkan generasi muda supaya mereka mampu mengatasi ketidakpasastian," terangnya.
Dia menyebut, salah satu hal terpenting bagi peserta didik adalah dengan mampu menanamkan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, guru harus bisa memantik daya kritis para siswa.
"Tidak hanya menghafal atau memahami tapi mampu berpikir kritis di luar dari soal-soal yang sifatnya rutin. Jadi gurunya pun harus mampu membuat anak-anak berpikir kritis gurunya pun harus berpikir kritis juga," ucapnya.
Berita Terkait:
-
Harpelnas 2026, GASPOL Pertamina Lubricants Digelar untuk Pengemudi Maxim
-
Pesta Literasi Indonesia 2026 Hadirkan Ruang Bertukar Gagasan
-
Nostalgia Bikin Haru, Carlo Saba “Kembali” di Konser 40 Tahun Kahitna
-
Satgas Yonif 725 Temukan Kebun Ganja 21.400 Batang di Yahukimo
-
Pemkab Bekasi Bentuk FKDM, Potensi Kerawanan Sosial Dipantau Sejak Dini
-
IIPE 2026 Ramai Pengunjung, Coucou Tebar Diskon hingga 30 Persen
-
Abu Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, BNPB Kerahkan OMC untuk Datangkan Hujan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.