• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • “Mbah Sayem” Lelaki  ...

“Mbah Sayem” Lelaki  yang Terkubur Bersama Daging Sapi Bakar

Sabtu, 11 Jan 2025, 06:15 WIB

Museum Song Terus di Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menyimpan berbagai koleksi peninggalan prasejarah di kawasan karst Gunung Sewu. Salah satu koleksinya yang banyak mencuri banyak perhatian adalah “Mbah Sayem.”

1736521193_7484b873f68cf0fff90e.jpg

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Museum dan Cagar Budaya

Mbah Sayem ditemukan bersama dengan fosil-fosil lain di dalam Goa Song Terus. Ditemukan para arkeolog pada 1999, ia memiliki hubungan yang erat dengan manusia prasejarah awal yang tiba di Pulau Jawa pada 1,6 juta tahun lalu. Seperti penemuan tengkorak Homo Erectus ditemukan di Kubah Sangiran, di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Goa Song Terus memiliki panjang 150 meter lebar 10 hingga 20 meter dan tinggi 10 meter. Berada pada ketinggian 330 meter di atas permukaan laut, lokasinya relatif dekat dengan pantai yang menyediakan sumber protein, dan natrium atau garam.

Para arkeolog dan warga setempat sepakat menamainya Mbah Sayem. Kerangka ini dalam posisi meringkuk dengan kedua tangannya menggenggam alat dari batu dan alat dari tulang. Usianya diperkirakan berusia 40 tahun-50 tahun.

Ada beberapa kepala monyet ekor panjang atau makaka tersebar di sekelilingnya. Kuburannya ditutupi daun pakis, yang di atasnya terdapat daging sapi bakar. Keadaan ini membuat para arkeolog bertanya-tanya apa yang terjadinya dengannya.

Lelaki hampir separuh baya itu, kemungkinan pulang dari berburu binatang ke hutan di sekitar “rumahnya” dengan senjata terbuat dari batu dan tulang. Hari itu menjadi hari keberuntungan baginya. Dia berhasil membawa pulang membawa beberapa ekor monyet.

1736521186_42c76ea7a8d1a5488e37.jpg

Setiba di rumahnya yang berupa goa itu, lelaki itu mungkin menyiapkan alat pembakaran yang masih sangat sederhana. Untuk melengkapi menu makan hari itu, barangkali dia menyiangi beberapa lembar daun pakis.

Sedangkan monyet-monyet buruan hari itu diputuskannya untuk disantap pada lain waktu karena mungkin masih ada sepotong daging sapi untuk makan hari itu. Ia lalu meletakkan potongan daging sapi di atas pembakaran.

Sayangnya nasib berkata lain. Belum sempat makanan terhidang di depanya bencana alam keburu menimpa lelaki itu. Dengan alat batu dan tulang yang masih tergenggam di tangannya serta daun-daun pakis dan potongan daging sapi terbakar di atasnya, lelaki tersebut diperkirakan jatuh dengan posisi meringkuk.

Lelaki yang kemungkinan hidup sendiri atau terpisah dari kelompoknya hingga ajal menjemput di tempat ditemukan. Ia terkubur tepat di tepian dinding goa Song Terus, sebelum ditemukan puluhan ribu tahun kemudian oleh tim arkeologi.

Mereka berasal dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Arkeologi Nasional (Arkenas) bekerja sama dengan Museum Sejarah Alam Nasional Perancis (Museum National d’histoire Naturelle). Tim dipimpin oleh Truman Simanjuntak dan Francois Semah itu menggali tanah di pintu masuk gua dengan dua lubang uji yang digali hingga kedalaman 16 meter.

Sejak penemuan tersebut, Goa Song Terus ditetapkan sebagai Situs Prasejarah oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Pacitan. Kegiatan arkeologi tersebut melanjutkan penggalian pertama pada 1950-an yang dilakukan oleh Profesor RP Soejono dan Profesor HR van Heekeren.

Dikira Perempuan

Sayem dalam budaya Jawa merupakan nama perempuan. Awalnya warga mengira fosil itu kerangka dari seorang perempuan, sehingga kemudian diberi nama tersebut.  Namun setelah diselidiki ternyata tulang-tulang itu adalah laki-laki.

1736521174_8aedab87f0d8c626c829.jpg

Penelitian lebih lanjut di laboratorium arkeologi menemukan angka volume otaknya yaitu 900 hingga 1.100 cc. Ia memiliki alis mata tebal, dan dahi yang menonjol yang menandakan memiliki ras Australomelanesoid yang hidup pada periode Pleistosen, yakni sekitar 2,5 juta-11.700 tahun. Usia fosil Mbah Sayem sendiri mencapai 10.000 tahun ketika ditemukan.

Peralatan hidup terbuat dari batu dan masih sangat sederhana serta kebiasaan berburu menunjukkan ia hidup pada masa Paleolitikum (50.000-10.000 Sebelum Masehi). Bagi manusia saat itu doa menjadi tempat ternyaman untuk berlindung dari terik, hujan, angin, dan serangan binatang buas.

Sungai-sungai bawah tanah yang terdapat di dalam goa menjadi sumber air bagi kehidupan manusia paleolitikum tersebut. Mereka diperkirakan hidup berkelompok dengan anggota antara 10-15 orang per kelompok.

Mereka hidup dengan nyaman di goa selama bertahun-tahun.  Hal ini dibuktikan dengan penemuan peralatan dan cangkang-cangkang moluska, yang dagingnya menjadi sumber protein bagi kelompok manusia yang belum mengenal cara bercocok tanam itu.  hay

  • Museum Song Terus
  • Jejak Peradaban

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.