Tiongkok Membuat Robot Ahli Kimia yang Canggih dan Cerdas

Jumat, 08 Nov 2024, 01:15 WIB

HEFEI – Bayangkan seorang asisten laboratorium dengan daya komputasi dan operasional setara 10 mahasiswa PhD, yang mampu bekerja di lingkungan ekstrem seperti Mars.

Visi itu telah menjadi kenyataan di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok (University of Science and Technology of Tiongkok/USTC). Di universitas tersebut, tim ilmuwan mengembangkan ahli kimia robotik yang mereka namakan Luke.

Ket. Foto: Mahasiswa PhD Tiongkok, Zhao Luyuan memperkenalkan robot ahli kimia di laboratorium Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok di Hefei, Provinsi Anhui, beberapa pekan lalu. — Sumber: ANTARA/Xinhua/Zhang Duan

Dengan rangka badan atas putih ramping, dua lengan robotik, dan komponen-komponen canggih seperti sistem visual, platform komputasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan perangkat lunak interaksi manusia-mesin, Luke menangani tugas-tugas rumit seperti menuangkan cairan dan menggiling benda padat, sembari secara mandiri merancang eksperimen dan menguji hipotesis.

Dibandingkan dengan manusia, Luke dapat melakukan eksperimen tanpa henti, mencapai presisi 0,1 milimeter dalam pengoperasiannya.

"Yang paling luar biasa adalah kapasitas Luke untuk belajar dan menganalisis," kata Zhao Luyuan, seorang mahasiswa PhD berusia 26 tahun yang telah mengerjakan proyek itu selama lebih dari tiga tahun.

Luke, kata Zhao, dapat belajar dari 50.000 makalah akademis dalam dua pekan dan memverifikasi lebih dari 3,76 juta formulasi eksperimental dalam enam pekan.

"Robot menjadi alat yang efektif bagi para ilmuwan. Berikan mereka masalah ilmiah, dan mereka dapat merancang eksperimen, menyelesaikannya dengan efisiensi dan presisi tinggi, dan menawarkan solusi yang dioptimalkan," ujar Jiang Jun, seorang profesor di Fakultas Ilmu Kimia dan Material di bawah USTC.

Tonggak Penting

Sejak tahun lalu, robot ahli kimia AI yang dikembangkan di universitas itu telah mencapai tonggak penting, termasuk menciptakan katalis untuk menghasilkan oksigen berdasarkan meteorit Mars, sebuah langkah untuk memungkinkan manusia tinggal di Mars dalam jangka panjang. Robot-robot itu juga meneliti lapisan film organik untuk teknologi antipemalsuan uang dan konversi batu bara menjadi minyak yang hemat biaya.

Menurut Jiang, AI mendorong revolusi di bidang penelitian ilmiah, memungkinkan para ilmuwan untuk menerobos batasan fisik dan mental, meningkatkan produktivitas secara eksponensial, serta mempercepat penemuan ilmiah.

Proyek-proyek ahli kimia robotik telah menjadi pusat penelitian global, yang menarik minat dari berbagai institusi di negara-negara, seperti Inggris, Swiss, dan Amerika Serikat.

Pengembangan itu sejalan dengan upaya Tiongkok dalam mengembangkan robot humanoid, sebuah konvergensi teknologi AI, manufaktur kelas atas, dan material baru.

Tiongkok menargetkan untuk membangun sebuah sistem inovasi awal untuk robot humanoid pada 2025, menurut sebuah pedoman dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok. Pada 2027, negara itu akan memiliki sistem industri dan rantai pasokan yang aman dan andal, sementara produk-produk terkait akan sangat terintegrasi ke dalam ekonomi riil.

Menurut sebuah laporan yang dirilis dalam Konferensi Industri Robot Humanoid Tiongkok (Chinese Humanoid Robot Industry Conference) pertama pada April, skala pasar industri robot humanoid di Tiongkok diprediksi mencapai 75 miliar yuan (1 yuan = 2.218 rupiah) pada 2029, menyumbang 32,7 persen dari total global.

Terlepas dari kemajuan-kemajuan ini, masih ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Sun Tao, seorang profesor di Fakultas Teknik Mesin di Universitas Tianjin, mengatakan masih perlu peningkatan dalam daya tahan baterai, pengambilan keputusan, dan kemampuan interaksi alami sebelum robot humanoid dapat digunakan dalam skala besar.

Namun, bagi Jiang, makna sesungguhnya dari kemunculan rekan robotiknya adalah potensinya untuk memberikan kebebasan kepada para ilmuwan manusia agar dapat berinovasi lebih besar, memberi mereka waktu untuk mengejar impian dan penemuan yang mendorong batas-batas imajinasi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.