Bantuan Sosial Harus Difokuskan Biayai Kegiatan Produktif
Senin, 05 Agu 2024, 00:02 WIBJAKARTA - Penyaluran bantuan sosial (bansos) perlu difokuskan agar lebih mendorong masyarakat penerima menggunakannya untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif. Fokus tersebut diperlukan agar manfaat dari bantuan bisa dirasakan oleh para penerima untuk waktu yang lebih lama.
Deputi bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, pekan lalu, berharap bansos yang disalurkan dapat mendorong masyarakat miskin maupun rentan miskin untuk bisa lebih produktif.
Salah satu dampak pemberian bansos, sebut Amalia, adalah tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia telah mencapai 0,8 persen per Maret 2024, sesuai dengan sasaran target pemerintah yakni 0-1 persen pada akhir tahun ini.
Sementara itu, tingkat kemiskinan di Indonesia per Maret lalu turun menjadi 9,03 persen. Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa penurunan tingkat kemiskinan tersebut masih perlu dipercepat.
"Bappenas terus mengevaluasi program-program bansos yang ada dan proses perbaikan ke depan tentunya akan terus dilakukan," kata Amalia.
Selain bansos yang lebih produktif, Amalia mengatakan bahwa masyarakat juga membutuhkan lapangan kerja yang berkualitas agar dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja sehingga menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, yang diminta pendapatnya, mengatakan sudah seharusnya bansos disalurkan dalam bentuk yang lebih produktif. Tanpa itu, bansos hanya menimbulkan kebergantungan dan sejumlah persoalan baru.
"Bansos dapat efektif dan produktif bergantung bagaimana distribusinya bisa rata dan transparan, ini menyangkut kepercayaan masyarakat," kata Bagong.
Program bansos, jelasnya, tidak banyak berdampak karena logika pemerintah membayangkan kalau masyarakat itu kondisi ekonominya nol, lalu diberi uang tunai misalnya 300 ribu rupiah, sehingga hasilnya akan surplus 300 ribu.
"Masalahnya, orang miskin ini banyak utangnya sehingga bisa-bisa malah minus. Makanya harus bersifat produktif, kalau diberikan hanya seksdar sebagai rasa kasihan dan berlebihan akan menimbulkan kebergantungan. Saat penyaluran dihentikan, mereka akan kehilangan, menyisakan ketidakberdayaan," katanya.
Bantuan harus diarahkan agar masyarakat melakukan diversifikasi usaha dan tidak berpatokan pada pekerjaan pokok. Orang miskin harus diajari dan didorong untuk memperkuat penyanggah ekonomi keluarga.
Bantuan Struktural
Pada kesempatan berbeda, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan sebagian bansos dapat direformulasi menjadi bantuan struktural dalam bentuk share kepemilikan bagi rumah tangga miskin terhadap perusahan baru (lama) yang dikelola kolektif melalui pendampingan pemerintah dan perguruan tinggi.
"Dengan demikian, di akhir tahun, rumah tangga miskin mendapat dividen secara permanen seiring perkembangan perusahaan tersebut," katanya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Produksi Industri, Penguatan Rantai Pasok Lokal Tak Bisa Ditunda
-
Ini Alasan Mengapa Gerbong Perempuan KRL Ditempatkan di Ujung Rangkaian?
-
MGBKI Desak Audit Independen Kasus Dokter Magang Meninggal Dunia sat Dirawat di RSMH Palembang
-
Harkitnas Harus Jadi Momentum Reflektif Bangsa
-
Liga Inggris: Tottenham Selamat, West Ham Terdegradasi di Hari Perpisahan Guardiola dan Salah
-
Messi Tinggalkan Laga MLS karena Cedera, Argentina Dihantui Kekhawatiran Jelang Piala Dunia
-
Wow! Ekosistem Burung Kicau di Indonesia Bernilai Hingga Rp2 Triliun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.