Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Daya Beli Kelas Menengah Bawah Terus Tergerus

📅 Kamis, 27 Jun 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Daya Beli Kelas Menengah Bawah Terus Tergerus Doc: Sumber: Bank Indonesia - KJ/ONES

JAKARTA - Peningkatan pendapatan masyarakat dinilai tidak sebanding dengan naiknya harga-harga kebutuhan. Hal itu berpotensi menyebabkan belanja masyarakat kelas menengah ke bawah tertekan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Etika Karyani, baru-baru ini mengatakan tertekannya belanja masyarakat menengah ke bawah itu karena kenaikan biaya cicilan setelah pandemi Covid-19. Apalagi, bank juga langsung merespons kenaikan suku bunga acuan dengan penyesuaian suku bunga kredit.

Etika mengatakan belanja kelas menengah dan bawah masih ditopang oleh tabungan. Fenomena makan tabungan sudah terjadi sejak kuartal IV-2023. Hal itu mengindikasikan adanya pelemahan pada daya beli.

"Dengan demikian maka kita bisa mengatakan bahwa cicilan utang meningkat, daya beli masyarakat menengah ke bawah ini kian tergerus karena adanya peningkatan pendapatan mereka tidak sejalan dengan naiknya harga-harga," tutur Etika.

Selain kelas menengah, sektor yang juga berkontribusi pada pergerakan ekonomi adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berperan sangat besar untuk pertumbuhan perekonomian dengan jumlahnya mencapai 90 persen dari keseluruhan unit usaha. Pada 2023 lalu, pelaku UMKM sudah mencapai sekitar 66 juta dan berkontribusi 60 persen dari pendapatan domestik bruto Indonesia.

UMKM, jelasnya, terus menghadapi hambatan dalam mengakses kredit atau kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan. Di sisi lain, penyaluran kredit UMKM masih dalam tahap pemulihan setelah pandemi Covid-19 sehingga perlu adanya perbaikan dari sektor riil.

Pertukaran Lokal

Diminta secara terpisah, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan kondisi saat ini semakin diperparah dengan pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). "Ini memicu kenaikan harga produk yang kandungan bahan baku impornya tinggi," kata Awan.

Sebab itu, perlu akselerasi swasembada pangan dan intensifikasi pertukaran lokal. Konkret dari intensifikasi pertukaran lokal dalam bentuk jual beli produk lokal di dalam wilayah, semacam pasar komunitas.

"Ini menjadi jaring pengaman ekonomi, mengurangi kebergantungan. Selain itu, tujuan lainnya agar sumber daya tidak banyak tersedot ke luar," kata Awan.

Dalam kegiatan itu, pemerintah harus terlibat, jangan hanya mengandalkan belanja masyarakat di pasar komunitas tersebut. Belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Daerah (APBN/APBD) perlu dialokasikan dalam skema tersebut.

Fenomena makan tabungan, terang Awan, artinya sebentar lagi mereka akan jatuh miskin apabila tidak ada tambahan pemasukan lagi. Mereka hanya bisa bertahan sejauh tabungannya masih ada, sehingga harus segera diatasi. Pemerintah harus benar-benar turun membantu untuk mencegah meningkatnya angka kemiskinan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Ekonomi
Jangan Asal Ngecas! Ini Tat...
Daerah
3.000 Agen Perlinsos Siap B...

Gempa Bumi M6.1 Guncang Sumba Barat Daya, NTT

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Daerah
Gempa Bumi M6.1 Guncang Sum...
Advertisement
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.