Pulau Dua, Permata di Ujung Barat Sulawesi Tengah
Jumat, 31 Mei 2024, 06:10 WIBBanggai memiliki pulau kecil dengan bukit yang berkontur unik. Setelah mendaki dengan kemiringan terjal, dari puncaknya tersaji pemandangan indah yang menyegarkan mata dan menenangkan pikiran.
Banggai sebuah Kabupaten di ujung Sulawesi Tengah, memiliki pulau kecil dengan pemandangan unik. Pulau yang menjadi ikon bahari kabupaten ini itu adalah Pulau Dua yang berada di Desa Kampangar, Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.
Jaraknya dari Luwuk ke Desa Kampangar mencapai 96 kilometer yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 41 menit. Luwuk sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Banggai, tempat Bandara Syukuran Aminuddin Amir sebagai akses penting ke kabupaten ini berada.
Perjalanan dari Luwuk melewati jalan aspal yang mulus mekis tidak cukup lebar, namun juga kadang melewati jalan berbatu. Pertama-pertama perjalanan akan melewati pesisir pantai yang menghadap Selat Peling, laut yang memisahkan antara Pulau Peleng dengan Pulau Sulawesi.
Setelah memasuki Kecamatan Masama, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan provinsi yang membelah pedesaan dan hutan. Perjalanan ini cukup menyenangkan karena di kanan-kiri tersaji pemandangan hijau yang membuat mata terhibur.
Beberapa puluh menit kemudian akan tiba di Desa Kampangar. Desa ini seolah ujung dari perjalanan dari Luwuk. Jalan selanjutnya adalah jalan kecil bercabang menuju ke desa-desa di sekelilingnya.
Dari Desa Kampangar, Pulau Dua yang berwarna cokelat terlihat di kejauhan. Dari desa ini juga titik penyeberangan menuju ke pulau tersebut berada. Masyarakat menyediakan perahu kecil bercadik dengan mesin kecil ini yang biasa digunakan untuk mencari ikan sebagai alat transportasi penyeberangan.
Tarif perahunya sekitar 350 ribu rupiah dengan kapasitas 10 penumpang. Agar lebih murah, pelancong bisa datang berombongan sehingga bisa berpatungan. Cara lainnya adalah bersama dengan wisatawan lain yang sama-sama ingin menuju ke Pulau Dua.
Dalam perjalanan selama 15 menit, wisatawan akan menikmati eloknya pemandangan alam sekitar. Di belakang perahu adalah pemandangan Pulau Sulawesi. Laut di kawasan ini sangat biru meski belum jauh dari bibir pantai karena tidak ada sungai yang bermuara di sini.
Setelah agak mendekati, terlihat juga pulau lainnya yang luasnya lebih kecil di sebelah kanan yang sebelumnya sedikit terhalang oleh daratan Pulau Sulawesi. Adanya pulau inilah yang membuat gugusan dua pulau ini dinamakan Pulau Dua.
Bagai yang hobi memancing, sepanjang rute laut menuju Pulau Dua merupakan habitat bagi ikan-ikan. Biota laut yang ada di dalamnya seperti terumbu karang (coral), dan ikan-ikan yang berlindung di karang yang merupakan sumber makanan bagi ikan predator.
Perahu selanjutnya diarahkan untuk mengelilingi pulau setengah lingkaran menuju tempat bersandar. Hal ini karena titik sandar perahu yang berada di balik pulau yang menghadap laut Maluku yang luas. Ombak laut ini terlihat mengalun cukup tenang ketika menyentuh bibir pantainya yang berpasir putih.
Ada beberapa bangunan rumah panggung yang dibangun dengan kondisi yang kurang terawat di pulau yang tidak berpenghuni ini ketika perahu disandarkan. Dari rumah-rumah ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju puncak menaiki ratusan anak tangga.
Telah dibangun jalan setapak dengan paving block untuk menuju puncak. Jalan ini menerobos pepohonan dan semak tinggi. Kadang tumbuhan liar ini batangnya menghalangi jalan wisatawan, sehingga perlu rajin untuk memangkasnya.
Di balik semak dan pepohonan ini kemudian muncul pemandangan indah yaitu bukit indah bernama Bukit Tandalo. Kontras dengan suasana sebelumnya berupa pepohonan dan semak yang didominasi warna hijau, perbukitan ini memiliki warna kecoklatan terutama ketika musim kemarau tiba.
Untuk menuju ke puncak Bukit Tandalo masih perlu menaiki beberapa ratus anak tangga dengan pagar kayu di kanan-kiri. Karena kemiringannya antara 60 hingga 80 derajat, maka pelancong perlu berhati-hati agar tidak terpeleset.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2-3 kilometer dari tempat perahu bersandar, maka akan tiba puncak di puncak yang ditunggu. Ada dua persimpangan ke kanan dan ke kiri di puncak ini. Untuk rute ke kiri jalan setapaknya menurun namun lebih pendek. Untuk ke kanan konturnya menurun namun memanjang hingga ujung Pulau Dua di sisi selatan.
Setelah menapaki jalan setapak berupa anak tangga yang turun lalu naik, maka sampailah pada puncak kedua. Puncak ini berupa bangunan beton yang dibuat bundar. Di tengahnya dibuat tiang untuk memasang beberapa plang bertuliskan Bukit Tandalo, Pulau Dua, Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, dan Sulawesi Tengah.
Bangunan bundar tersebut merupakan titik terbaik menikmati Pulau Dua. Dari sini pengunjung dapat berfoto dengan latar belakang yang bisa dipilih. Di sisi baratnya terhampar pemandangan daratan Pulau Sulawesi. Sedangkan di sisi timur, selatan, dan utara, adalah Laut Maluku yang luas dan membiru.
Dari puncak tersebut terlihat pemandangan pantai timur pulau yang berombak. Kontras dengan pantai barat pulau yang sangat tenang, tanpa riak-riak sedikitpun.
Dari puncak kedua, eksplorasi Pulau Dua dilanjutkan dengan menuruni anak tangga menuju sisi selatan pulau. Di sini pemandangannya mirip dengan Pulau Kenawa di Lombok meski pantainya kurang lebih mirip seperti Pulau Padar di Taman Nasional Komodo.
Perjalanan bisa dilanjutkan hingga mencapai ujung pulau mendekati wilayah yang berbatu karang jika belum puas. Setelah melakukan pengamatan, eksplorasi dilanjutkan kembali menuju arah puncak, namun sebelum itu ada pertigaan. Percabangan ini mengarah menuju pantai menuruni ratusan anak tangga. Di pantai yang berpasir putih, perahu penjemput telah siap untuk mengantarkan kembali ke Desa Kampangar atau menyelami alam bawah laut di sekitar pulau.
Eksplorasi Karang Lunak
Pulau Dua memiliki pemandangan laut dengan terumbu karang yang masih terjaga. Tercatat ada 35 spot selam yang amat dalam. Beberapa diantaranya adalah Ondoliang Rock, Nemo Rock, Alibaba, dan Batu Gong. Namun ada juga beberapa titik untuk melakukan snorkeling dengan terumbu karang yang lebih dangkal.
Keanekaragaman hayati bawah lautnya dipenuhi dengan terumbu karang lunak (soft coral) yang mencapai 90 persen. Jenis karang ini akan mati jika terinjak oleh penyelam atau terkena baling-baling kapal.
Bagi penyelam yang datang dari jauh, tidak mungkin untuk membawa alat sendiri. Tapi jangan khawatir kerana di pulau ini tersedia layanan selam dengan nama Tompotika Dive Resort, yang menyewakan alat selam dan memandu penyelam hingga titik yang diminta.
Tapi kalau hanya ingin sekadar snorkeling, ada baiknya pelancong membawa sendiri alat snorkel dan juga fin yang dibutuhkan. Untuk menikmati terumbu karang yang agak dangkal, dapat dengan cara snorkeling. Tarif sewanya 15.000 rupiah per set lengkap dengan kaki kataknya.
Di Pulau Dua tidak ada warung yang menyediakan makanan dan minuman. Oleh karenanya disarankan untuk membawa perbekalan dan peralatan yang cukup agar jangan sampai mengalami masalah, apalagi pada siang hari udaranya cukup panas.
Untuk menginap telah tersedia beberapa penginapan di Desa Kampangar. Beberapa orang melakukan perjalanan ke Pulau Dua pada dini hari karena mereka ingin mengejar sunrise dari puncak Bukit Tandalo. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Bayer Leverkusen Siapkan Perlawanan Terbaik Hadapi PSG
-
Update Program Rutilahu Kabupaten Bandung: Target 15.000 Rumah Selesai dalam 3 Tahun
-
Belgia Pesta 6 Gol ke Gawang Liechtenstein, Belanda Gagal Taklukkan Polandia di Rotterdam
-
BBMKG Catat Rentetan Gempa Kecil di Buleleng Bali pada 26–27 November
-
Kemensos Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Rob di Jakarta Utara
-
Laporan Palo Alto Networks Ungkap Taktik Baru Serangan Ransomware
-
HUT ke-131 Poso Sebagai Momentum Refleksi Pencapaian Pembangunan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.