Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

UKT Sesuai dengan Kondisi Demografi

📅 Jumat, 17 Mei 2024, 03:13 WIB | Oleh:
UKT Sesuai dengan Kondisi Demografi Doc: Koran Jakarta/M.Ma'ruf
Ket. Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Tjitjik Sri Tjahjandarie.

JAKARTA - Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Tjitjik Sri Tjahjandarie, mengatakan, skema pembayaran kuliah melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT) sesuai dengan kondisi demografi di Indonesia. Adapun saat ini Indonesia tengah mengalami bonus demografi di mana usia produktif mendominasi jumlah penduduk.

"Indonesia ini, jumlah penduduknya sekarang ini sudah 280 juta. Bonus demografi ini kan mulai dari sekarang itu kan besarnya di sini. Nah apakah kemudian UKT berkeadilan yang tepat? Tepat," tegas Tjitjik, kepada Koran Jakarta, Kamis (16/5).

Dia menjelaskan, jumlah penduduk menjadi salah satu tantangan Indonesia untuk bisa mengcover seluruh biaya pendidikan tinggi. Apalagi, pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia masih jauh di bawah negara lain.

Tjitjik menerangkan, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia juga beragam. Menurutnya, jika pembayaran kuliah menggonakan skema rata antar mahasiswa, maka bisa mempersulit masyarakat tidak mampu.

"Padahal, salah satu strategi dari bangsa ini adalah dengan misalnya dari masyarakat-masyarakat yang kurang mampu tadi untuk bisa mempunyai akses ke pendidikan ini bisa mengubah perekonomian dan kesejahteraan keluarganya," jelasnya. Sebagai informasi, skema UKT memiliki beberapa kategori pembiayaan sesuai kemampuan ekonomi mahasiswa. Masyarakat kerap mengeluhkan mekanisme UKT sebab peningkatan biayanya tinggi dan kerap tidak sesuai dengan kondisi ekonomi.

Butuh Kajian

Secara terpisah, Anggota Komisi X DPR RI, Illiza Sa'aduddin Djamal menyebut jika UKT yang tinggi bakal menghalangi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi masa depan butuh untuk mendapat pendidikan tinggi.

Dia berharap kebijakan UKT ini harus dikaji sebaik mungkin. Menruutnya, penambahan biaya kuliah sangat mungkin terjadi, tapi tidak secara mendadak dan langsung tinggi seperti saat ini.

"Kalau ada peningkatan penambahan biaya yang tidak signifikan, yang penambahan tiap tahun sedikit itu bisa ditolerir, tapi kalau yang berkali lipat sampai tiga, sampai lima kali lipat ini tentu akan menjadi masalah. Jadi mengambil kebijakan ini jangan malah menambah masalah," katanya.

Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji menilai, kondisi masyarakat saat ini sulit untuk membayar UKT serta Iuran Pengembangan Institusi (IPI) atau uang pangkal. Hal tersebut melihat pendapatan perkapita masyarakat Indonesia itu hanya 75 juta rupiah per tahun.

Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Maulana Ihsanul Huda, mengungkapkan, UKT di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) mengalami kenaikan signifikan sebesruf/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.