Perundingan dalam Upaya Capai Gencatan Senjata di Gaza Berlangsung 'Alot'

Senin, 06 Mei 2024, 00:00 WIB

QATAR - Perundingan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza berlangsung "alot", diperkirakan akan dilanjutkan pada hari Minggu (5/5) setelah para pejabat dari kelompok Hamas dan Israel secara terbuka tidak setuju atas tuntutan untuk mengakhiri perang tujuh bulan mereka.

Sementara mediasi berlangsung di Mesir, Ketua Program Pangan Dunia PBB, mengatakan ada kelaparan di Gaza utara dan meminta gencatan senjata.

Ket. Foto: Menlu AS, Antony Blinken memberikan keterangan di pelabuhan Ashdod, Israel, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/EVELYN HOCKSTEIN/POOL

Dikutip dari Yahoo News, dampak perang semakin terasa di seluruh dunia ketika mahasiswa pro Palestina dari Australia hingga Meksiko dan Eropa mengikuti gelombang demonstrasi yang dilakukan di Amerika Serikat.

Perang paling berdarah di Gaza dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.170 orang, sebagian besar warga sipil, menurut angka resmi Israel.

Seorang koresponden AFP dan saksi pada hari Minggu melaporkan penembakan di wilayah Kota Gaza, tembakan helikopter di Gaza tengah dan selatan, dan serangan rudal terhadap sebuah rumah di wilayah Rafah.

Korban sipil Palestina telah memperburuk hubungan antara Israel dan pemasok militer utama serta sekutunya, Amerika Serikat.

"Satu-satunya penghalang bagi rakyat Gaza dan gencatan senjata adalah Hamas," kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken.

Jeda Pertempuran

Para perunding telah mengusulkan jeda 40 hari dalam pertempuran dan pertukaran sandera bagi tahanan Palestina, menurut rincian yang dikeluarkan oleh Inggris.

Ini akan menjadi gencatan senjata pertama sejak gencatan senjata selama seminggu yang membebaskan 105 sandera pada November lalu dengan imbalan warga Palestina yang ditahan oleh Israel.

Mediator Qatar, Mesir, dan AS bertemu dengan delegasi Hamas di Kairo pada hari Sabtu dan sumber senior Hamas yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan akan ada babak baru perundingan pada hari Minggu.

Setelah tidak ada perkembangan pada putaran pertama, seorang pejabat senior Hamas secara terpisah menegaskan pada Sabtu malam bahwa kelompok tersebut tidak akan menyetujui dalam keadaan apa pun terhadap gencatan senjata yang tidak secara eksplisit mencakup penghentian total perang, termasuk penarikan Israel dari Gaza.

Pejabat tersebut, yang tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka, mengutuk upaya Israel untuk mencapai kesepakatan pembebasan sandera tanpa menghubungkannya dengan mengakhiri agresi di Gaza.

Dia menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara pribadi menghalangi upaya gencatan senjata karena kepentingan pribadi.

Seorang pejabat tinggi Israel, yang juga tidak berwenang memberikan komentar, mengatakan pada hari Sabtu bahwa Hamas menggagalkan kemungkinan mencapai kesepakatan dengan menolak memenuhi tuntutannya untuk mengakhiri perang.

Sebuah sumber yang mengetahui perundingan tersebut pada hari Rabu mengatakan bahwa proposal Israel berisi konsesi nyata termasuk periode tenang berkelanjutan, namun sumber tersebut mengatakan penarikan Israel dari Gaza kemungkinan besar masih menjadi perdebatan.

Pejabat Israel pada hari Sabtu mengatakan bahwa Israel belum menyetujui jaminan apa pun bahwa perang akan berakhir.

Negosiasi sebelumnya terhenti karena permintaan Hamas untuk melakukan gencatan senjata jangka panjang dan janji Netanyahu untuk menghancurkan sisa pejuang kelompok tersebut di Kota Rafah di bagian selatan, tempat separuh penduduk Gaza berlindung.

Israel belum mengirimkan delegasi ke Kairo. Pejabat Israel mengatakan pihaknya akan melakukan hal tersebut hanya jika ada gerakan positif pada kerangka yang diusulkan. "Negosiasi yang 'alot' dan panjang diperkirakan akan menghasilkan kesepakatan nyata," tambah pejabat itu.

Netanyahu telah berjanji untuk menyerang Rafah terlepas dari apakah gencatan senjata tercapai, dan meskipun ada kekhawatiran dari AS, negara-negara lain, dan kelompok bantuan.

Blinken, pada hari Jumat, mengatakan Israel belum mengajukan rencana untuk melindungi warga sipil. "Tanpa hal tersebut, kami tidak dapat mendukung operasi militer besar-besaran di Rafah karena kerusakan yang ditimbulkannya melebihi batas yang dapat diterima," kata Blinken.

Netanyahu pada hari Kamis berjanji untuk melakukan apa yang diperlukan untuk memenangkan dan mengatasi musuh kita, termasuk di Rafah.

Pada awal perang, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan negaranya akan memberlakukan pengepungan total yang menghalangi makanan, air, dan pasokan lainnya.

Permintaan yang terus-menerus dari kelompok-kelompok bantuan, PBB dan para pemimpin dunia untuk mendapatkan akses yang lebih besar telah membuahkan hasil.

Israel mengatakan perbatasn Erez di Gaza utara telah dibuka kembali untuk masuknya bantuan, dan bantuan telah tiba melalui pelabuhan Ashdod di Israel

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.