- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kevin Warsh Berjanji akan ...
Kevin Warsh Berjanji akan Mereformasi The Fed Seiring Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga
Jumat, 19 Jun 2026, 00:29 WIBKebijakan Moneter
WASHINGTON DC â Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berjanji melakuÂkan reformasi besar-besaran di bank sentral Amerika SeriÂkat (AS) setelah memimpin rapat kebijakan moneter perÂtamanya pada Rabu (17/6). Pada saat yang sama, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen untuk pertemuan keÂempat berturut-turut.Â
Keputusan tersebut diÂsetujui secara bulat oleh seÂluruh anggota komite peneÂtapan suku bunga, menandai pertama kalinya dalam seÂtahun kebijakan The Fed mendapat dukungan penuh.
Dalam konferensi pers usai rapat, Warsh menegasÂkan komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga di tengah inflasi AS yang maÂsih berada pada level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
âHarga yang terus-menerus tinggi menjadi beban bagi rakyat Amerika. Namun, kondisi dalam beberapa taÂhun terakhir tidak harus menÂjadi gambaran masa depan,â ujar Warsh.
Dilansir dari AFP, melalui Ringkasan Proyeksi Ekonomi (Summary of Economic ProÂjections/SEP), para pembuat kebijakan The Fed menaikkan perkiraan suku bunga akhir tahun, yang mengindikasikan kemungkinan satu kali keÂnaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
The Fed menilai inflasi maÂsih berada pada level tinggi, terutama akibat lonjakan harga energi yang dipicu keteÂgangan geopolitik dan konflik antara AS dan Iran. Kondisi tersebut turut mendorong tekanan harga di berbagai sektor ekonomi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus meningkatkan tekanan terhadap inÂdependensi The Fed. Trump sebelumnya melancarkan kriÂtik keras terhadap kebijakan bank sentral dan mendorong penurunan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Meski mengaku sulit percaya The Fed akan menaikkan suku bunga, Trump meÂnyatakan tetap menÂdukung Warsh yang ia tunjuk sebagai ketua bank sentral.
The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga inflasi di sekitar target jangka panÂjang 2 persen sekaligus meÂmastikan tingkat lapangan kerja tetap tinggi.
Dalam rapat kali ini, bank sentral memberi sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih kuat sehingga fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menekan inflasi.
Proyeksi terbaru menunÂjukkan inflasi berdasarkan indeks Pengeluaran KonÂsumsi Pribadi (PCE) diperkiÂrakan mencapai 3,6 persen pada akhir tahun, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,7 persen.
Menariknya, Warsh meÂmilih tidak memasukkan proyeksi pribadinya dalam dokuÂmen SEP. Ia juga menegaskan keinginannya untuk menguÂrangi intensitas komunikasi publik The Fed agar pasar tiÂdak terlalu bergantung pada petunjuk verbal dari bank sentral.
âKami ingin membuka baÂbak baru bagi bank sentral deÂngan menghadirkan pemikiÂran-pemikiran yang segar,â kata Warsh.
Menurutnya, pelaku pasar seharusnya lebih fokus menganalisis data ekoÂnomi daripada terus menafsirkan setiap sinyal atau pernyataan dari pejabat The Fed.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Sikapi Kemenangan Takaichi, Tiongkok: Kebijakan Kami Tak Berubah
-
Siap siap Sebentar Lagi El Nino: Berikut Jurus Kementan Hadapi Kemarau Ekstrem
-
Iran Menegaskan Tidak akan Membuka Kembali Selat Hormuz Jika Angkatan Laut AS Tetap Melakukan Blokade
-
Agustiar Sabran: Putra-Putri Kalteng Harus Bisa Sekolah dan Kuliah
-
Potensi Ikan Gabus untuk Jadi Superfood Lokal Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.