ADB: Mendesak untuk Tingkatkan Ketahanan guna Atasi Perubahan iklim

Senin, 06 Mei 2024, 00:00 WIB

TBILISI - Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menekankan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan ketahanan, khususnya dalam mengatasi perubahan iklim, dan tekanan panas serta dampaknya terhadap pertanian, infrastruktur, kesehatan, dan kesetaraan gender.

Hal tersebut disampaikan Presiden ADB, Masatsugu Asakawa, dalam pembukaan Pertemuan Tahunan ke-57 Dewan Gubernur ADB, di Tbilisi, Georgia, Sabtu (4/5).

Ket. Foto: Asian Develop­ment Bank (ADB) — Sumber: ISTIMEWA

"Kita bersatu pada saat masyarakat di wilayah kita menghadapi tantangan yang memerlukan perhatian dan koordinasi yang erat. Dampak perubahan iklim tidak henti-hentinya, dan risiko konflik dan krisis dapat dengan cepat melemahkan penghidupan dan bahkan kelangsungan hidup masyarakat," kata Masatsugu.

Seperti dikutip dari Antara, Masatsugu mengatakan untuk itu pembangunan ke depan juga harus memprioritaskan ketahanan dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim dan dampaknya. Kondisi itu membutuhkan aksi nyata dari seluruh pihak sehingga bisa bekerja sama membangun jembatan menuju masa depan yang sejahtera, inklusif, berketahanan, dan berkelanjutan.

"Ancaman perubahan iklim ini tidak bisa diabaikan, dan respons kita tidak bisa ditunda," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Tekanan panas telah berdampak terhadap masyarakat dan menjadi ancaman terhadap pembangunan di masa depan.

Semakin Rentan

Tanaman pangan dan sistem pangan semakin rentan. Mencairnya gletser menyebabkan kerusakan besar di bagian hilir. Selain itu, para pekerja, mulai dari ladang hingga pabrik, terutama perempuan, sangat menderita akibat tekanan panas.

Tekanan panas merupakan ancaman besar dalam berbagai dimensi mulai dari ketahanan pangan, infrastruktur, sumber daya air, kesehatan, pekerjaan, hingga kesetaraan gender. "Oleh karena itu, masa depan bergantung pada bagaimana kita mendukung masyarakat, sektor, dan ekosistem yang terkena dampak panas," tuturnya.

Dalam acara tersebut, Presiden ADB juga menyoroti tentang globalisasi dan menganjurkan kerja sama regional yang lebih dalam untuk membangun perekonomian yang lebih ramah lingkungan dan terbuka, menolak proteksionisme demi memperkuat rantai pasokan yang tangguh dan mengurangi emisi karbon.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.