Rupiah Bakal Letoi, IHSG Tertekan
Senin, 27 Apr 2026, 10:28 WIBJAKARTA - Â Hari ini diprediksi kekuatan rupiah limbung. Demikian juga IHSG, cukup tertekan. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah Senin, diprediksi melemah seiring kegagalan negosiasi damai antara AS dengan Iran.
âRupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS seiring gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian ASâIran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan menguatkan dolar AS,â katanya, Senin.
Meski nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi, menguat 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.211 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.229 per dolar AS, hari ini diprediksi bakal melemah.
Mengutip Anadolu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pihaknya tidak akan berunding di bawah tekanan, ancaman, atau blokade. Titik temu dan lingkungan kondusif dinilai menjadi syarat utama bagi dialog yang efektif.
Menurut Pezeshkian, pengalaman negosiasi sebelumnya justru memperdalam ketidakpercayaan publik di Iran karena dialog berlangsung bersamaan dengan sanksi, tekanan, dan blokade. Ia menegaskan prasyarat penting untuk menyelesaikan perselisihan, yaitu menghentikan sikap bermusuhan dan jaminan hal itu tidak terulang lagi.
Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sebelumnya dijadwalkan berangkat pada Sabtu (25/4), tetapi sejumlah laporan menyebutkan bahwa delegasi Iran telah lebih dulu meninggalkan Pakistan.
Sementara itu, sentimen dari domestik pada umumnya masih lemah terkait kondisi defisit anggaran dan Bank Indonesia (BI) yang belum memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga.
âWalau demikian, seperti yg disampaikan pada hari Kamis (23/4), BI akan meningkatkan intensitas intervensi untuk mendukung rupiah,â ucap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi akan berada pada kisaran Rp17.100-Rp17.200 per dolar AS.
IHSG Juga Tertekan
Selain itu, Â meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Senin pagi menguat 29,02 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.158,51, diprediksi cenderung tertekan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, dalam analisanya di Jakarta, Senin, menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak campuran (mixed) dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah.
Tekanan dipicu oleh sentimen global yang didominasi aksi risk-off serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong potensi arus keluar modal asing.
Secara teknikal, setelah penutupan akhir pekan kemarin, Jumat (24/4) di level 7.129, indeks saat ini berada di area oversold usai menutup gap pada kisaran 7.308-7.346.
Kondisi ini membuka peluang technical rebound jangka pendek, meski ruang penguatannya terbatas.
"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," ujar Brigita.
Dari sisi global, belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi.
Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai energi global yang dapat menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Selain itu, Brigita menerangkan ekspektasi terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) kembali bergeser lebih hawkish seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi.
Secara keseluruhan, kondisi global mendorong investor mengadopsi sikap risk-off, dengan potensi peralihan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi sebagai instrumen lindung nilai.
Sementara dari sisi domestik, dua katalis utama yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah di kisaran Rp17.315 per dolar AS.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Dex Series sejak 18 April dinilai mencerminkan respons terhadap harga energi global yang masih tinggi sekaligus menjaga kredibilitas fiskal.
Namun demikian, pasar mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi jangka pendek, terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 April 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
"Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi," kata Brigita.
Ia menambahkan kombinasi penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat menunjukkan sikap otoritas yang defensif dan pre-emptive dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Meski demikian, pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal.
"Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing," ujarnya.
- IHSG
- Nilai Rupiah
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat, Pasar Cermati Arah Moneter Global di Tengah Konflik AS-Iran
-
Kemenpar Sebut Ajang DXI 2026 Perkuat Posisi Wisata Petualangan Indonesia
-
IHSG Hari Ini Menguat Mengikuti Bursa Asia dan Global
-
IHSG Hari Ini Berpotensi Volatil di Tengah Sikap Wait and See Pertemuan The Fed
-
Alarm Pasar Saham: IHSG Anjlok Nyaris 20% Sepanjang 2026
-
Pergerakan indeks harga saham gabungan
-
IHSG Sepanjang 2026 Ambles 30 Persen Lebih, Gejolak Global Guncang Kepercayaan Investor
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.