Kenaikan Suku Bunga Solusi Paling Masuk Akal Atasi 'Capital Flight'

Sabtu, 04 Mei 2024, 00:07 WIB

» Upaya yang dilakukan BI untuk melawan tekanan pada nilai tukar selama ini tidak signifikan.

» Sinyal suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama dari The Fed seiring dengan inflasi yang kembali naik.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: BI, Federal Reserve - KORAN JAKARTA/ONES

JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve baru-baru ini memberi isyarat kalau biaya kredit kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, karena ekonomi AS masih bergulat dengan inflasi.

Sinyal kebijakan yang disampaikan petinggi The Fed itu, tentu akan berdampak pada perekonomian nasional terutama di sektor keuangan. Pernyataan tersebut dinilai akan menjadi sentimen negatif yang akan terus menekan nilai tukar rupiah akibat terjadinya pelarian modal (capital flight) dari pasar keuangan dan beralih ke aset safe heaven.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti yang diminta tanggapannya di Jakarta, Jumat (3/5) mengatakan, biaya kredit di AS akan semakin tinggi karena suku bunga Fed Fund Rate (FFR) terus naik.

Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, investor mengalihkan portofolio ke aset yang aman, sehingga terjadi capital flight dari pasar negara-negara berkembang.

"Biasanya untuk menjaga capital flight Bank Indonesia (BI) akan terus menaikkan suku bunga," papar Esther.

Pilihan menaikan suku bunga acuan oleh BI merupakan solusi yang paling masuk akal karena minim risiko. Hal yang perlu diwaspadai adalah adalah peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan dan sektor bisnis yang lesu karena enggan mengajukan kredit bank jika bunga kredit bank terus naik.

Pada kesempatan lain, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan, keputusan federal akan membawa dampak pada tekanan dollar atas rupiah semakin panjang lagi, dan itu akan menggerus strategi yang diterapkan Pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

"BI perlu menyikapi keputusan The Fed, terutama untuk menjaga rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam," kata Badiul.

Kebijakan seperti kenaikan suku bunga yang bisa menenangkan pasar, ketimbang triple intervention yang menghabiskan cadangan devisa seharusnya segera dikaji untuk diterapkan.

"Sentimen positif pasar harus dikelola BI agar rupiah kembali stabil," kata Badiul.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky mengatakan, upaya yang diambil oleh BI dalam upaya untuk melawan tekanan pada nilai tukar selama ini tidak signifikan (setidaknya hingga awal Mei) karena tekanan eksternal yang cukup besar.

Ke depan, tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh BI kemungkinan akan datang dari sisi nilai tukar. Meskipun ada beberapa tantangan dari sisi inflasi yang berasal dari harga pangan, tekanan inflasi diprediksi akan mereda dalam beberapa bulan mendatang seiring dampak El-Nino yang secara bertahap mulai turun dan periode libur musiman yang telah berlalu. Namun, ketidakpastian pasar keuangan global tetap berlanjut, didorong oleh sentimen high for longer yang berkepanjangan dan beberapa potensi eskalasi ketegangan geopolitik.

"Dalam hal ini, BI harus sangat waspada dalam menavigasi tekanan eksternal dan mengelola stabilitas rupiah. Hal ini menjadi sangat penting untuk memastikan stabilitas keuangan domestik, pertumbuhan sektor riil, dan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan,"paparnya.

Penurunan Ditunda

Sebelumnya diberitakan, dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal pada Rabu (1/5) lalu menyebutkan bahwa kurangnya kemajuan menuju sasaran inflasi 2 persen dalam beberapa bulan terakhir, menjadi isyarat penurunan suku bunga akan ditunda hingga paruh kedua tahun ini.

"Kemungkinan akan memakan waktu lebih lama untuk mendapatkan keyakinan bahwa kita berada pada jalur yang berkelanjutan untuk menurunkan inflasi sebesar 2 persen," kata Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell dalam keterangan pers.

"Saya tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan," jelas Powell.

Sinyal suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama dari The Fed mengikuti data terbaru yang menunjukkan bahwa inflasi kembali meningkat, sebagian besar disebabkan oleh mahalnya harga bahan bakar, sementara perekonomian AS tumbuh lebih lambat pada kuartal pertama tahun ini dari perkiraan sebelumnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.