PM Italia: Pertama Kali dalam Sejarah Paus Akan Hadiri Sesi AI KTT G7

Senin, 29 Apr 2024, 00:00 WIB

ROMA - Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, pada hari Jumat (26/4), mengatakan, Pemimpin Gereja Katolik Seluruh Dunia Paus Fransiskus akan menghadiri sesi kerja mengenai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada KTT G7 di Italia selatan pada bulan Juni.

"Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah bahwa seorang Paus akan berpartisipasi dalam kegiatan G7," kata Meloni seraya menambahkan Paus Fransiskus akan menghadiri "sesi penjangkauan" bagi para peserta tamu pada pertemuan negara-negara industri G7 di Puglia.

Ket. Foto: Pemimpin Gereja Katolik Seluruh Dunia, Paus Fransiskus. — Sumber: ANTARA/ANADOLU

Dikutip dari Barron, Paus berupaya mempengaruhi perluasan kecerdasan buatan, menyerukan perjanjian global untuk memastikan teknologi tersebut digunakan dengan cara yang etis.

Meloni mengatakan penting untuk memanfaatkan refleksi etika dan intelektual terbaik yang sedang dikembangkan dalam bidang AI dan memuji penelitian Vatikan mengenai penerapan praktis konsep algoretika, yaitu memberikan etika pada algoritma. "Kehadiran Paus Fransiskus akan memberikan kontribusi yang menentukan dalam menentukan kerangka peraturan, etika dan budaya untuk kecerdasan buatan," katanya.

Kekhawatiran terhadap AI telah meningkat sejak chatbot ChatGPT, gerbang pasar massal menuju AI generatif, muncul pada akhir tahun 2022.

Paus pada bulan Desember menerbitkan pesan enam halaman yang memperingatkan bahaya AI termasuk disinformasi dan campur tangan dalam pemilu, dan juga dalam pengambilan keputusan, mulai dari pembayaran jaminan sosial hingga penentuan sasaran senjata, yang tanggung jawabnya menjadi kabur.

Atur Pengembangan AI

Dia menyerukan perjanjian internasional yang mengikat untuk mengatur pengembangan dan penggunaan AI, untuk mencegah bahaya dan berbagi praktik yang baik.

"Komitmen kami adalah mengembangkan mekanisme tata kelola untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan berpusat pada manusia dan dikendalikan oleh manusia," kata Meloni.

KTT G7, yang mempertemukan para pemimpin Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, akan diadakan di Borgo Egnazia di Puglia pada tanggal 13 hingga 15 Juni.

Sebelumnya Jepang sedang mempertimbangkan membangun kerangka baru untuk dialog yang melibatkan negara-negara yang berpikiran sama untuk membahas peraturan internasional mengenai penggunaan yang tepat dari teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif, kata sumber pemerintah pada Sabtu.

Dikutip dari Kyodo, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida diperkirakan akan mengungkapkan rencana untuk meluncurkan pertemuan "Friends" mengenai masalah AI pada pertemuan dewan menteri Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan yang dijadwalkan pada 2-3 Mei di Paris, kata sumber itu.

Melalui kerangka kerja tersebut, Jepang akan menyerukan dukungan yang lebih luas terhadap "Proses AI Hiroshima," sebuah inisiatif yang diluncurkan tahun lalu oleh negara-negara Kelompok Tujuh untuk memfasilitasi diskusi mengenai pembuatan peraturan global, menurut sumber tersebut.

Langkah ini dilakukan ketika dunia sedang mencari cara untuk memanfaatkan alat AI generatif yang berkembang pesat, termasuk ChatGPT, sementara kekhawatiran berkembang bahwa penyebaran disinformasi melalui penyalahgunaan AI dapat mengancam demokrasi dan stabilitas politik.

Sumber tersebut mengatakan bahwa Jepang bertujuan untuk memainkan peran utama dalam pembuatan peraturan AI internasional yang akan mendorong pengembangan teknologi dan peraturannya.

Penciptaan Proses AI Hiroshima disepakati pada KTT G7 yang dipimpin oleh Kishida di Hiroshima pada bulan Mei.

Pada bulan Desember, para menteri digital G7 menyusun kerangka kebijakan komprehensif dari proses tersebut dan hal ini disetujui oleh para pemimpin G7 dalam telekonferensi di bulan yang sama.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.