Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa Orang Rela Korbankan Waktu dan Tenaga Membela Paslon Pilihannya?

📅 Senin, 22 Apr 2024, 10:57 WIB | Oleh: Tim Penulis

2. Bias kognitif

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa manusia rentan terhadap bias kognitif, yang dapat memengaruhi persepsi dan proses pengambilan keputusan.

Salah satu bias tersebut adalah bias konfirmasi, yakni ketika individu mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka dan mengabaikan bukti-bukti yang kontradiktif. Kecenderungan ini dapat mengarah pada pembentukan ruang gema.

3. Tribalisme

Ada pula fenomena psikologi yang disebut tribalisme, yakni ketika masyarakat menganggap lawan politik mereka sebagai anggota "suku" saingan. Mereka cenderung memandang lawan politik mereka dengan penuh kecurigaan dan permusuhan, sehingga semakin memperkuat posisi mereka. Tribalisme ini dapat memperburuk polarisasi ini karena memunculkan pola pikir "kita versus mereka".

4. Emosi

Emosi juga memainkan peran penting dalam fanatisme politik. Penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi, bukan pertimbangan rasional.

Kampanye politik mahir dalam memanfaatkan emosi untuk menggalang dukungan, memanfaatkan perasaan takut, marah, dan harapan publik guna memobilisasi gerakan.

Selain itu, individu mungkin mengembangkan keterikatan emosional dengan pemimpin politik, memandang mereka sebagai simbol harapan atau perwujudan aspirasi mereka. Investasi emosional ini dapat menciptakan rasa kesetiaan dan pengabdian yang melampaui evaluasi rasional.

Faktor-faktor tersebut dapat memperkuat fanatisme politik pada diri individu. Ketika seseorang sudah menjadi fanatik, ia cenderung akan lebih tertutup dan menolak sudut pandang yang berlawanan dengannya. Keyakinannya kepada tokoh politik sangat kuat, bahkan terlalu kuat sehingga ia enggan melakukan evaluasi kritis pada tokoh tersebut.

Para fanatik percaya bahwa pandangan politik mereka lebih unggul dibandingkan pandangan politik orang lain, sehingga kerap kali mengarah pada penghinaan atau diskriminasi terhadap pihak lawan.

Mereka menjadi lebih rentan untuk bersikap intoleran dengan menyerang atau menjelek-jelekkan pihak yang berbeda pendapat dibandingkan terlibat dalam dialog konstruktif. Mereka juga lebih terobsesi secara berlebihan pada tokoh politiknya dan tidak jarang merugikan hubungan pribadi, kesehatan mental, atau aspek kehidupan lainnya.

Membangun fanatisme politik yang 'sehat'

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Otomotif
Audi Segera Luncurkan SUV P...

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam,  Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam, Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.