Produk Fesyen SMK Perlu Dukungan Akses Perdagangan

Senin, 18 Mar 2024, 16:07 WIB

JAKARTA - Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wardani, menyebut, produk fesyen dari SMK perlu dukungan akses terhadap perdagangan. Menurutnya, Indonesia melalui pendidikan vokasi memiliki potensi besar dalam menciptakan SDM yang terampil dan berkualitas di bidang busana.

"Kami sangat berharap produk-produk kreatif dari anak-anak SMK ini bisa disalurkan atau diberikan jalan di arah mana perdagangan ini bisa kita putar, peluang mana yang bisa kami tangkap," ujar Wardani, dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara SMK dengan industri, di Jakarta, Minggu (17/3).

Ket. Foto: Penandatanganan Perjanjian Kerja sama antara BT Batik Trusmi dengan lima SMK yaitu SMKN 30 Jakarta, SMKN 32 Jakarta, SMKN 2 Cirebon, SMK Yami Waled Cirebon, dan SMK Bina Cendekia Cirebon untuk mendukung industri fesyen. — Sumber: istimewa

Dia menerangkan, perkembangan industri fesyen saat ini menghadapi tantangan dan peluang yang semakin kompleks. Oleh sebab inilah, pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi dinamika tersebut.

Wardani menambahkan, saat ini terdapat 1.130 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 10 Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) dengan kompetensi keahlian atau program studi tata busana yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka siap mengembangkan industri modest fashion.

"Ini sebuah tantangan untuk terus memperkuat kemitraan, mari bersama-sama memadukan potensi para guru, para siswa dengan pasar, bersama dengan potensi yang ada di industri, sehingga kita menyiapkan SDM sesuai dengan kebutuhan industri," katanya.

Lingkup Kolaborasi

Koordinator Tim Kerja Bidang Kemitraan Dit. Mitras DUDI, Kemendikbudristek, Yoggi Herdani, mengatakan, kerja sama dengan BT Batik Trusmi melibatkan lima SMK yaitu SMKN 30 Jakarta, SMKN 32 Jakarta, SMKN 2 Cirebon, SMK Yami Waled Cirebon, dan SMK Bina Cendekia Cirebon. Ruang lingkup kerja sama mulai dari penyelarasan kurikulum berbasis industri sampai rekrutmen lulusan pendidikan vokasi ke-5 SMK.

"Semoga kolaborasi ini dapat menciptakan ekosistem kemitraan sebagai rantai pasok yang solid dan berkelanjutan, dimana kerja sama ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi semua pihak," terangnya.

CEO dan founder BT Batik Trusmi, Sally Giovanny menjelaskan, kolaborasi dengan pendidikan vokasi, khususnya SMK ini dijembatani oleh Kemendikbudristek dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Bagi industri Batik Trusmi, adanya kemitraan dengan SMK menjadi sebuah peluang untuk mengembangkan bisnis, terutama dalam merekrut SDM tata busana yang terampil dan kompeten.

"Kami di industri fesyen, khususnya kriya memang industri yang padat karya sehingga membutuhkan banyak kolaborasi dengan pihak-pihak terkait," ucapnya.

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kementerian Perdagangan, berharap dampak dari kemitraan yang terjalin mampu memperluas pasar batik trusmi hingga mancanegara. Dalam dua tahun terakhir, Kemendag bersama Kemendikbudristek juga mendorong keterlibatan satuan pendidikan vokasi dalam ekosistem perdagangan melalui ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW).

"Semoga kolaborasi ini bermanfaat bagi kedua belah pihak, batik trusmi sebagai salah satu brand fashion tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," ucapnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.