Tren Pelemahan Ekspor Masih Berlanjut
📅 Sabtu, 16 Mar 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Februari 2024 mencapai 19,31 miliar dollar AS atau turun 5,79 persen dibanding Januari, yang disumbang oleh produk migas dan nonmigas.
Pelaksana Tugas Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan nilai ekspor nonmigas Februari 2024 sebesar 18,09 miliar dollar AS turun dari 19,1 miliar dollar AS, sedangkan ekspor migas turun dari 1,4 miliar dollar AS menjadi 1,22 miliar dollar AS.
"Tren pelemahan ekspor masih berlanjut. Total nilai ekspor mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan, secara bulanan penurunan terjadi di sektor migas maupun nonmigas," kata Amalia, di Jakarta, Jumat (15/3).
Nilai ekspor pada Februari 2024 juga turun 9,45 persen dibanding dengan tahun sebelumnya. Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor gas sebesar 39,08 persen menjadi 504,7 juta dollar AS. Namun sebaliknya, ekspor minyak mentah naik 25,09 persen menjadi 196,7 juta dollar AS dan ekspor hasil minyak naik 25,15 persen menjadi 515,5 juta dollar AS.
Pada sektor nonmigas, komoditas yang nilai ekspornya turun yaitu besi dan baja 622,5 juta dollar AS, lemak dan minyak hewan/nabati 495,7 juta dollar AS, logam mulia dan perhiasan/permata 114,3 juta dollar AS, produk kimia 64,5 juta dollar AS dan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya 17,8 juta dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, komoditas yang meningkat adalah bijih logam, terak dan abu 223,5 juta dollar AS, bahan bakar mineral 208,6 juta dollar AS, kendaraan dan bagiannya 76,6 juta dollar AS, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya 68,1 juta dollar AS dan alas kaki 3,1 juta dollar AS.
BPS juga mencatat ekspor produk industri pengolahan turun 9,22 persen yang disumbang oleh penurunan ekspor minyak kelapa sawit. Ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 5,37 persen disumbang oleh peningkatan ekspor kopi.
"Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya, naik 9,70 persen yang disebabkan oleh meningkatnya ekspor bijih tembaga," kata Amalia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan nilai ekspor Indonesia yang turun disebabkan tidak ada windfall (rezeki nomplok) karena ada lonjakan harga komoditas yang diekspor Indonesia.
Turunnya ekspor, katanya, karena resesi di negara destinasi ekspor Indonesia seperti Inggris dan beberapa negara lainnya.
"Kemungkinan juga didorong impor bahan makanan (beras dan gandum), dorongan dari ekspor energi juga belum bisa banyak meskipun harganya naik, tapi tidak setinggi dulu," urainya.
Kondisi tersebut diperparah dengan perlambatan ekonomi di mitra dagang Indonesia seperti Jepang dan Tiongkok.
Terlalu Bergantung Komoditas
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan penurunan nilai ekspor karena Indonesia terlalu tergantung pada ekspor komoditas dan olahan primer yang nilai tambahnya tidak besar dan terlalu fluktuatif dari sisi permintaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!