- Home
-
- Luar Negeri
-
- Mogok Massal Dokter Korsel...
Mogok Massal Dokter Korsel Berkepanjangan, Para Profesor Ancam Mundur
Jumat, 15 Mar 2024, 11:00 WIBSEOUL - Menteri Kesehatan Korea Selatan Cho Kyoo-hong membuat permohonan kepada profesor fakultas kedokteran untuk tidak mengundurkan diri massal guna mendukung pemogokan berkepanjangan oleh dokter pelatihan.
"Masyarakat akan kesulitan memahami profesor kedokteran yang berpartisipasi dalam aksi kolektif dengan menelantarkan pasien padahal mereka seharusnya fokus membujuk dokter dan mahasiswa yang masih dalam masa pelatihan untuk kembali ke rumah sakit dan sekolah," kata Menkes Cho pada pertemuan tanggapan pemerintah di Seoul, Korea Selatan, Jumat (15/3).
Tercatat lebih dari 90 persen dari total 13.000 dokter yang masih menjalani pelatihan di negara tersebut telah berhenti dari pekerjaannya selama hampir empat pekan dalam bentuk pengunduran diri massal untuk memprotes keputusan pemerintah yang meningkatkan kuota pendaftaran sekolah kedokteran sebanyak 2.000 kursi.
Aksi itu semakin meningkat ketika para profesor fakultas kedokteran mengancam akan mengajukan pengunduran diri secara massal kecuali pemerintah memberikan terobosan dalam pemogokan yang berkepanjangan.
Para profesor dari 19 fakultas kedokteran pada awal pekan ini bahkan sudah membuat komite darurat dan berencana menyelesaikan pertimbangan untuk mengajukan pengunduran diri secara kolektif pada Jumat ini.
"Jika para profesor khawatir dengan dokter junior dan mahasiswanya, mohon bujuk mereka untuk kembali ke tempat pendidikan," ucapnya.
Lebih lanjut Cho mengatakan otoritas kesehatan akan memiliki pusat medis tingkat atas untuk memprioritaskan pasien dalam kondisi kritis karena mengingat pasien dengan gejala ringan masih menempati 27 persen dari total pasien yang dirawat.
"Kami akan memastikan perawatan tepat waktu bagi pasien dalam kondisi kritis di fasilitas medis berskala besar," tuturnya.
Adapun pemerintah Korea Selatan berupaya meningkatkan jumlah mahasiswa kedokteran secara signifikan untuk menghadapi populasi penuaan yang cepat di negara tersebut dan kekurangan dokter di daerah pedesaan dan daerah-daerah penting seperti bagian anak-anak dan unit gawat darurat.
Sebaliknya, para dokter mengatakan kenaikan kuota akan menurunkan kualitas pendidikan kedokteran dan mengakibatkan biaya pengobatan yang lebih tinggi bagi pasien.
Mereka menyerukan langkah-langkah agar pemerintah terlebih dahulu menangani para spesialis yang dibayar rendah dan meningkatkan perlindungan terhadap tuntutan hukum malpraktik medis yang dinilai masih sangat berlebihan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Mike Tyson: Paul Bisa Andalkan Kekuatan Pukulan Hentikan Joshua
-
Polda Metro Jaya Beri Pendampingan Psikologis Korban Kecelakaan SDN 01 Kalibaru
-
Pengusaha Rokok Muhammad Suryo Tak Penuhi Panggilan KPK
-
AFC Challenge League: Dewa United Bermain Imbang 1-1 Kontra Phnom Penh Crown
-
Tanpa Trump, Para Pemimpin Dunia Berkumpul di KTT APEC untuk Mengatasi Ketidakpastian Perdagangan Global
-
Deklarasi Arah Indonesia Digital
-
Sambut Libur Nataru, Pertamina Patra Niaga Beri Diskon Avtur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.