Supernova 1006, Ledakan Bintang Paling Terang pada Abad ke-11
Selasa, 05 Mar 2024, 06:10 WIBDi langit tahun 1006, terjadi peristiwa langka yaitu sebuah benda bersinar dengan terang tiga kali lebih besar dari Planet Venus. Peristiwa yang dalam istilah modern disebut supernova ini, berlangsung hingga sebulan.
Supernova atau adinaya merupakan sebuah ledakan bintang yang menandai berakhirnya riwayat sebuah bintang di langit. Ledakan bintang itu sangat energik dan masif disebabkan oleh runtuhnya inti gravitasi sehingga memancarkan energi lebih banyak daripada ledakan nova.
Kecerahannya akibat ledakan bintang tersebut dapat bertahan hingga beberapa bulan. Ini biasanya terjadi ketika fusi nuklirnya tidak dapat menahan inti dari gravitasinya sendiri dan akhirnya inti runtuh dan meledak.
Pada 1006 Masehi terjadi sebuah peristiwa astronomi yang luar biasa terjadi di langit. Saat itu terjadi supernova paling hebat yang pernah disaksikan dan dicatat oleh manusia. Ledakannya terlihat dari Eropa hingga Tiongkok berdasarkan catatan dari para saksi yang dapat dikumpulkan.
Salah satu dari sekian saksinya adalah pemuda asal Kairo bernama Ali bin Ridwan yang saat itu berusia 18 tahun. Dari peristiwa ini, ia melakukan pencatatan dari hari ke hari yang menghasilkan salah satu catatan paling penting tentang peristiwa astronomi ini.
Sebagai peristiwa besar dan langka, sampai sekarang para astronom terus meneliti catatannya untuk mengumpulkan informasi tentang supernova yang kemudian dinamakan Supernova 1006 (SN 1006). Peristiwa ini berlangsung antara tanggal 30 April dan 1 Mei 1006.
Abu al Hasan Ali Ibnu Ridwan al-Misri (hidup antara 998 - 1068) demikian nama lengkapnya adalah seorang dokter, astrolog, dan astronom Mesir. Ia juga dikenal karena pengamatan SN 1006 pada tahun itu. Karyanya salah satunya adalah sebuah karya komentar yang ia tulis tentang Tetrabiblos karya Ptolemeus. Karyanya kemudian dikutip oleh penulis Eropa sebagai Haly atau Haly Abenrudian. Ia juga dikenal melalui polemik pahit dan terkenal yang ia lakukan terhadap dokter lain, Ibnu Butlan dari Baghdad.
Ketika peristiwa supernova terjadi, Ibnu Ridwan yang masih muda baru saja memulai pendidikannya di bidang kedokteran. Peristiwa supernova itu disebut sebagai bintang baru yang kemudian dikenal dengan nama Supernova 1006 ini, pertama kali muncul pada malam 17 Sya'ban 396 Hijriah atau 30 April 1006 M.
Cahaya ledakan bertahan sepanjang musim panas, namun pada pertengahan Agustus, matahari sudah bergerak begitu dekat dengan SN 1006 di langit Kairo. Supernova itu telah berada di atas cakrawala hanya pada siang hari, sehingga menyulitkan pengamatan lebih lanjut.
Pengamatan Langit
Pada saat kematiannya, yang mungkin terjadi pada 1067 atau 1068, Ibnu Ridwan telah menulis lebih dari 100 karya. Sebagian besar tulisannya adalah komentar tentang Galen dan Hippocrates atau risalah medis, beberapa di antaranya ia persembahkan untuk teman dan koleganya yang bernama Yahuda Ibnu Sa'ada. Ia juga menulis tentang filsafat, teologi, ilmu pengetahuan alam, astronomi dan astrologi.
Di salah satu bagian komentarnya mengenai Tetrabiblos karya Ptolemeus, dikemukakan sebuah bagian yang dikhususkan tentang ledakan unik yang disaksikan di masa mudanya pada 1 Mei 1006. Ledakan yang mengungkap kelahiran bintang baru SN 1006 sesuai dengan tingkat pengetahuan ketika itu.
Selain dari Ibnu Ridwan, catatan lain terkait SN 1006 di utara berasal dari Biara Sankt Gallen di Swiss. Oleh karena itu, ledakan itu pasti terlihat di seluruh dunia pada garis lintang mana pun di selatan Sankt Gallen. Namun tidak ada pengamat lain yang mendeskripsikannya dengan ketepatan ilmiah seperti Ibnu Ridwan:
"Sekarang saya akan menjelaskan sebuah ledakan (SN 1006) yang saya lihat di awal studi saya. ledakan ini muncul dalam tanda zodiak Scorpio, berlawanan dengan Matahari. Matahari pada hari itu 15 derajat di Taurus dan pemandangan di 15 derajat Scorpio," tulis dia. "Ledakan ini adalah benda melingkar yang besar, dua setengah hingga tiga kali lebih besar dari Venus. Langit bersinar karena cahayanya. Intensitas cahayanya sedikit lebih dari seperempat intensitas cahaya Bulan. Ia tetap berada di tempatnya dan berpindah setiap hari sesuai tanda zodiaknya hingga Matahari berada dalam posisi sekstil dengannya di Virgo, dan ia langsung menghilang," lanjut dia.
Ia kemudian merinci posisi Matahari, Bulan, dan planet lain, hingga derajat dan menitnya di setiap sektor zodiak saat bintang tersebut pertama kali muncul. Catatan akurat mengenai posisi planet-planet dalam catatan Ibnu Ridwan membantu para astronom modern menentukan tanggal SN 1006 dan menemukan posisinya di langit.
Satu milenium kemudian, diketahui bahwa yang disaksikan Ibnu Ridwan adalah supernova, ledakan dahsyat yang menandai matinya sebuah bintang. Namun, bintang baru itu tidak hanya terlihat di Mesir.
Menurut catatan astronomi Tiongkok, supernova tersebut berada di sebelah timur konstelasi Lupus, di selatan Di, dan satu derajat di sebelah barat Centaurus. Mereka juga menyatakan bahwa kecerahannya setara dengan setengah intensitas bulan purnama.
Setelah 7 bulan, supernova kembali terlihat di langit fajar antara tanggal 24 November dan 22 Desember 1107. Kemudian lagi catatan kuno mengatakan bahwa supernova tersebut terlihat setidaknya selama satu tahun. Ada kemungkinan bahwa bintang tersebut terlihat tidak menentu hingga 10 tahun menurut Kronik Tiongkok Sung Shih, mengacu pada bintang yang terlihat pada bulan November 1006 hingga Mei 1016.
Para astronom percaya dari catatan kuno bahwa ini adalah supernova Tipe 1a yang lebih terang dengan perkiraan magnitudo tampak maksimum yang mirip dengan cahaya setengah bulan yang menyusut hingga seukuran bintang.
Supernova tetap terlihat dalam berbagai tingkat intensitas sepanjang musim panas, sebelum menghilang pada musim gugur. Saat Bumi berotasi, ia menjadi terlihat kembali pada bulan Desember, dan muncul kembali setidaknya selama satu setengah tahun berikutnya. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.