Pertemuan Tingkat Menteri WTO Menemui Jalan Buntu

Sabtu, 02 Mar 2024, 00:05 WIB

ABU DHABI - Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organisation (WTO) memperpanjang satu hari perundingan pada pertemuan tingkat menteri di Abu Dhabi pada hari Kamis (29/2), dengan sesi penutupan ditunda, dan tidak ada tanda-tanda terobosan dalam pembicaraan untuk menetapkan aturan perdagangan global yang baru.

Dikutip dari The Straits Times, konferensi dua tahunan ini berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri subsidi penangkapan ikan dan memperluas moratorium tarif perdagangan digital, sebuah langkah yang ditentang oleh India dan Afrika Selatan.

Ket. Foto: Para delegasi menghadiri Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organisation (WTO) ke-13 di Abu Dhabi, Senin (26/2). WTO memperpanjang satu hari perundingan pada pertemuan tingkat menteri di Abu Dhabi pada hari Kamis (29/2) — Sumber: GIUSEPPE CACACE/AFP

Beberapa perundingan dilakukan lewat tengah malam ketika para pejabat berupaya menuntaskan kesepakatan mengenai berbagai perubahan peraturan perdagangan. Juru bicara WTO, Ismaila Dieng, mengatakan para menteri telah bekerja keras dan membuat kemajuan nyata.

"Namun, perundingan sulit dilakukan karena adanya keterkaitan antara bidang-bidang yang dinegosiasikan," katanya, seraya menambahkan para menteri akan berkumpul kembali pada Jumat pagi untuk meninjau revisi terbaru.

Pengumuman perjanjian akhir yang dijadwalkan setelah empat hari perundingan antarpemerintah antara 164 anggota WTO diundur untuk hari kelima hingga pukul 14.00 waktu setempat pada hari Jumat di negara Teluk tersebut. Ini menyusul penundaan empat jam sebelumnya.

Beberapa peserta ragu-ragu kesepakatan akan tercapai pada saat itu, dan mengatakan masih ada perbedaan pendapat yang serius mengenai berbagai isu yang dimaksudkan untuk mengatasi perdagangan global, meskipun yang lain mengatakan suasana telah sedikit membaik pada hari itu.

Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Katherine Tai, mengatakan terobosan masih mungkin dilakukan, namun pertukaran yang kompleks akan diperlukan bahkan untuk topik yang tidak terlalu sulit seperti pembatasan subsidi penangkapan ikan.

"Jika sebagian atau seluruh perundingan yang bertujuan memperbaiki peraturan perdagangan global gagal, fragmentasi di antara blok negara-negara berkembang BRICS akan berkontribusi," katanya.

Masih Berusaha

Sementara itu, Menteri Perdagangan Selandia Baru, Todd McClay, mengatakan hal ini merupakan pertanda baik para delegasi masih berusaha untuk membahas permasalahan itu. "Ada keinginan untuk mencapai hasil, namun ada delegasi dari kedua belah pihak yang membahas masalah itu dan mengatakan satu-satunya cara kita bisa mendapatkan hasil adalah jika kekhawatiran kita diatasi," katanya.

Namun, McClay, yang merupakan fasilitator pembicaraan untuk memperpanjang moratorium tarif digital selama 25 tahun, mengatakan belum ada gerakan untuk mengatasi kebuntuan.

Sementara itu, Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, menyayangkan beberapa negara menghalangi perjanjian tersebut, namun ia tidak memberi isyarat New Delhi akan membatalkan penolakannya terhadap perpanjangan keringanan tarif digital.

"Tentu saja kami merasa sedih beberapa negara masih menghambat hasil signifikan yang bisa membantu negara-negara kurang berkembang dan negara berkembang mendapatkan kepercayaan terhadap kerja WTO," kata Goyal.

Namun, dia menyuarakan optimisme hasil seperti itu dapat dicapai dalam perundingan itu. Tai mengatakan kebuntuan dalam perpanjangan moratorium perdagangan digital dapat terbuka jika sektor pertanian juga dibuka, namun ia mencatat bahwa negosiasi itu sulit.

Sekelompok negara di kepulauan Pasifik, termasuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, juga menentang rancangan kesepakatan mengenai perubahan subsidi perikanan, dan Wakil Perdana Menteri Fiji, Manoa Seru Kamikamica, mengatakan hal itu tidak cukup.

"Delegasi perdagangan dari negara maju menolak prospek ini. Pertemuan penting antara negara-negara Kepulauan Pasifik dan negara-negara pemberi subsidi besar seperti Uni Eropa, Tiongkok, dan Jepang direncanakan akan dilaksanakan pada dini hari Jumat pagi," kata sebuah sumber.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.