BKKBN Harapkan DIY Fokus Cegah 'Stunting'
Sabtu, 03 Feb 2024, 03:15 WIBJAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengapresiasi capaian penanganan stunting di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Meski begitu, dia berharap para kepala daerah di DIY bisa lebih memperhatikan kebijakan terkait pencegahan stunting.
"Ini dimulai dari hulu atau calon pengantin (catin), dan kesehatan jiwa masyarakat. Ke depan tidak hanya stunting tetapi jiwanya juga," ujar Hasto, salam keterangannya, Jumat (2/2).
Dia mengatakan, catin di DIY yang telah mengisi aplikasi Elsimil sebanyak 4.131 dari 20.108 yang terdaftar nikah di KUA DIY. Data juga menunjukkan perempuan yang anemia di DIY sebanyak 4.131 orang atau 14,1 persen dari perempuan yang akan menikah yang melaporkan Hb-nya. "Yang kurus sebanyak 27,7 persen. Kalau menurut teori yang terlalu kurus dan anemia anaknya stunting," katanya.
Hasto mengungkapkan, angka prevalensi stunting di DIY sudah di bawah angka standar WHO sebesar 20 persen. DIY menempati posisi ke-5 terendah dengan capaian 16,4 persen.
Dia menambahkan bahwa rendahnya jumlah stunting berbanding lurus dengan turunnya angka kematian ibu dan bayi. DIY berada di urutan kedua setelah DKI Jakarta.
"Berdasarkan data, angka kematian ibu di DIY tercatat 58 per 100.000 kelahiran. Nasional 189. Jadi, DIY stuntingnya rendah, KB nya bagus, angka kematian ibu juga bagus. Kawin di usia mudanya, juga sudah bagus," ucapnya.
Kearifan Lokal
Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X, menerangkan, DIY sangat memperhatikan penurunan stunting, pencegahan pernikahan dini, dan permasalahan lain terkait kualitas SDM. Peraturan pendukung telah dibuat dan sudah terbangun sistem yang baik di DIY.
"Kami masih merasa belum puas. Maka, akan segera ada perbaikan-perbaikan untuk mempercepat capaian program sesuai target," jelasnya.
Dia juga ingin adanya edukasi untuk mewujudkan perubahan 'mindset' dengan melibatkan 'local wisdom' atau kearifan lokal. Menurutnya, edukasi adalah investasi intelektual yang sifatnya jangka panjang daripada memaksakan program sesaat.
"Jadi, kami mohon nanti ada semacam skema-skema pemikiran dengan local wisdom. Biasanya edukasi yang menggunakan local wisdom menjadi investasi intelektual. Dan itu tidak berarti berpendidikan tinggi," terangnya. ruf/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Lebaran Tanpa Biaya! Bank Mandiri Lepas 215 Bus untuk 10.000 Pemudik Gratis 2026
-
AS Klaim Mampu Buka Selat Hormuz Sendiri Tanpa Bantuan Negara Lain
-
Pertamina Patra Niaga Kalimantan Pastikan Distribusi BBM Makin Kondusif
-
Sri Lanka Batasi Pembelian BBM: Mobil Maksimal 15 Liter dan Motor 5 Liter per Minggu
-
FIFA Digugat Soal Harga Tiket Piala Dunia 2026, Final Tembus Rp2 Miliar
-
Tingkat prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara
-
Kemendag: Pemerintah Perkuat Penetrasi Produk Pangan Unggulan di Tiongkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.