Isu Privatisasi Machu Picchu Picu Protes Pelaku Wisata, Jalur Kereta Wisata Diblokir

Jumat, 26 Jan 2024, 09:51 WIB

PERU - Para pengunjung situs Machu Picchu di Peru pada Kamis (25/1) ditemui oleh para pengunjuk rasa yang marah terhadap pemerintah karena memprivatisasi penjualan tiket di benteng Inca.

Operator tur dan warga menutup toko-toko sebagai bentuk protes dan memblokir jalur kereta wisata, sehingga memaksa penumpang berjalan kaki sejauh 3 km (1,8 mil) menuju pintu masuk.

Ket. Foto: Machu Picchu, 130 km dari kota Cusco, dibangun pada abad ke-15 di ketinggian 2.500 meter (8.200 kaki) atas perintah penguasa Inca Pachacutec. — Sumber: BBC/Getty Images

"Kami menentang privatisasi sistematis Machu Picchu. Masyarakat tidak setuju; perusahaan (tiket) ini dikontrak secara ilegal," kata perwakilan komunitas Darwin Baca kepada AFP.

Saat malam tiba, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan sekelompok pengunjuk rasa yang memblokir jalur kereta api, menurut reporter AFP di lokasi kejadian.Pihak berwenang belum melaporkan adanya penangkapan.

Wisatawan melihat rencana perjalanan mereka terganggu oleh protes tersebut, namun Kementerian Kebudayaan mengatakan di media sosial bahwa kunjungan ke Machu Picchu berlangsung "normal".

Kolektif lokal mengklaim bahwa perusahaan yang memberikan kontrak penjualan tiket, Joinnus, akan mendapat komisi sebesar $3,2 juta per tahun.

"Tidak ada privatisasi. Kami harus memastikan kontrol mutlak terhadap semua orang yang memasuki benteng kami" karena dampak dari padatnya lalu lintas wisatawan di lokasi tersebut, kata Ana Pena, penasihat Kementerian Kebudayaan, pada konferensi pers.

"Ada risiko Machu Picchu akan dihapus dari daftar Warisan Dunia UNESCO," tambahnya.

September lalu Peru menutup sementara tiga sektor Machu Picchu akibat dampak padatnya volume pengunjung di lokasi tersebut.

Machu Picchu, 130 kilometer dari kota Cusco, dibangun pada abad ke-15 di ketinggian 2.500 meter (8.200 kaki) atas perintah penguasa Inca Pachacutec.

Bangunan ini dianggap sebagai keajaiban arsitektur dan teknik dan dinyatakan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1981.

Pariwisata adalah kunci bagi perekonomian Peru, dengan negara ini menarik sekitar 4,5 juta pengunjung sebelum pandemi virus corona pada tahun 2020.

Jumlah tiket akses harian ke benteng ditingkatkan menjadi 4.500 per hari mulai bulan ini, dari sebelumnya maksimum 3.800.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.