Seychelles, Kepulauan Tempat Bajak Laut Menimbun Harta Karun
Senin, 04 Des 2023, 06:10 WIBSeperti Maladewa saat ini, Seychelles yang berada di Samudra Hindia menjadi pulau tropis yang menjadi tujuan wisata bahari. Pada era kolonialisme, pulau ini menjadi jalur pelayaran dari Asia ke Eropa, tempat bajak laut berlindung dan menimbun hasil perompakan kapal dagang.
Sejarah Seychelles sebelum abad ke-16, tidak pernah tercatat meskipun para pemukim Melayu dari Kalimantan pernah menjejakkan kaki di kepulauan ini. Mereka akhirnya lebih memilih Madagaskar sebagai tempat tinggal, meski telah mengenal pulau-pulau ini pada abad ketiga dan keempat sebelum masehi.
Orang-orang Arab juga diyakini telah mengunjungi pulau-pulau tersebut dan kemungkinan besar telah memperdagangkan buah khas Seychelles yang berlimpah yaitu kelapa laut atau coco de mer dalam bahasa Prancis, jauh sebelum kapal-kapal Inggris pertama tiba di pantai tersebut.
Penjelajah Portugis mulai menemukan Pulau Seychelles pada awal abad ke-16. Vasco da Gama yang pertama kali melakukan identifikasi pasti Seychelles pada 1502. Terumbu karang yang ditemukannya diberi nama Almirantes (Kepulauan Laksamana), diambil dari gelarnya sebagai laksamana pada 1517.
Sedangkan pulau-pulau granit di sekitarnya meski ukurannya cukup besar, sebagian besar masih tidak berpenghuni hingga abad ke-17 karena lokasinya yang jauh dari mana-mana.
Pada 1609, armada dagang Kongsi Dagang Hindia Timur Britania (British East India Company) yang hilang, mendarat di Pulau Utara. Mereka menemukan pulau tersebut dalam keadaan tidak berpenghuni. Di dalamnya kaya dengan kayu, air tawar, tanaman kacang, ikan, dan unggas, seperti yang dicatat oleh seorang pedagang Inggris.
Namun, Inggris tidak melakukan upaya untuk menetap di pulau-pulau tersebut. Celakanya selama satu setengah abad berikutnya, pulau-pulau tersebut menjadi tempat perlindungan bagi para bajak laut. Mereka menyerang kapal-kapal dagang yang sarat muatan dari Asia dan Eropa dan sebalik yang melewati jalur pelayaran strategis itu. Muatan kapal yang berisi barang-barang, batu mulia, perak, dan emas, diambil dan ditimbun di kepulauan ini.
Menjadi bagian dari jalur pelayaran dari Tanjung Harapan ke Laut Arab, lalu ke India dan Asia tenggara dan Asia timur, Kepulauan Seychelles ideal untuk berlabuhnya kapal. Bajak laut menyembunyikan harta karun yang didapat dari kapal dagang yang berlayar di dekat. Kisah-kisah bajak laut dan kekayaan yang mereka kubur di pulau-pulau ini telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Namun era bajak laut berakhir ketika Prancis menguasai Mauritius dan menamainya Isle de France pada tahun 1715. Mauritius sendiri adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudra Hindia, sekitar 900 kilometer sebelah timur Madagaskar, dan di selatan Seychelles dengan jarak 1.755 kilometer.
Mauritius merupakan pulau utama selain Kepulauan Cargados Carajos, Rodrigues, dan Kepulauan Agalega. Mauritius termasuk dalam Kepulauan Mascarene, beserta Pulau Reunion milik Prancis yang berada 200 kilometer sebelah barat daya Mauritius.
Dengan menguasai kedua wilayah Seychelles dan Mauritius, Prancis berambisi untuk memperkuat jalur perdagangan dan mengkonsolidasikan kekuasaan. Administrator kolonial Prancis mengirim Lazare Picault untuk memetakan pulau-pulau di timur laut Madagaskar.
Picault kemudian menemukan Mahé, pulau granit terbesar pada 1742. Beberapa pelayaran lagi mengikuti ekspedisi ini ke Seychelles dan akhirnya pada 1756, Prancis secara resmi mendeklarasikan Kepulauan Seychelles sebagai koloninya.
Pada 1770, pemukim Perancis, bersama budak Afrika mulai berdatangan di Pulau Mahé. Mereka secara bertahap mengembangkan pertanian dan mulai menanam kapas, tebu, dan sebagainya. Mereka juga memburu kura-kura raksasa yang menjadi makanan khas Seychelles saat ini.
Rivalitas
Inggris yang pernah hadir di pulau ini tentu saja tertarik untuk mengambilnya. Akhirnya pulau-pulau ini tidak akan lepas dari konflik antara Prancis-Inggris yang telah lama berlangsung sejak pecahnya Perang Tujuh Tahun pada 1754.
Ketika Inggris ingin menguasai pulau-pulau tersebut, Gubernur Seychelles, Queau de Quinssy, melalui strategi pasifiknya, secara konsisten berhasil menipu mereka dengan pura-pura menyerah. Mereka segera mengibarkan bendera Prancis segera setelah kapal Inggris berangkat.
Ketika Perang Napoleon berkecamuk, Prancis akhirnya kalah dari Inggris. Melalui Perjanjian Paris (1814), Isle de France berganti nama menjadi Mauritius dan dikuasai Inggris. Begitu pula Seychelles, meski pulau ini tidak berganti nama.
Inggris menghapuskan perdagangan budak pada awal abad ke-19 dan kemudian perbudakan itu sendiri pada 1835. Inggris mempunyai kebijakan untuk menyerang kapal-kapal budak Spanyol, Arab, dan kapal-kapal budak lainnya untuk dimerdekakan.
Budak-budak Afrika yang diselamatkan dikirim ke perkebunan untuk bekerja sebagai buruh. Untuk menghadapi perekonomian baru tanpa budak, para pekebun mulai menanam tanaman yang tidak terlalu padat karya seperti kelapa.
Meskipun Seychelles menjadi koloni resmi Kerajaan Inggris pada 1903 dan terpisah dari Mauritius, pengaruh Prancis terhadap bahasa dan budaya masyarakat Seychelles tidak hilang. Struktur sosialnya didominasi oleh sekelompok kecil pemilik perkebunan yang berbahasa Prancis. Sedangkan sebagian besar penduduknya terdiri dari keturunan budak yang tidak memiliki tanah yang berbicara dalam bahasa lokal mereka, Kreol.
Ketika Perang Dunia I meletus berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat Seychelles. Kemiskinan terus bertambah dan perekonomian terpuruk. Para pekerja segera membentuk serikat pekerja untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik. Menjelang awal Perang Dunia II, penduduk Seychelles mulai menuntut pemerintahan dalam negeri.
Kepulauan ini menjadi basis pasokan cadangan pada masa perang dunia. Ketidakpuasan masyarakat terus meningkat dan dalam keadaan seperti itulah partai politik pertama dibentuk pada 1939. Namun, partai ini hanya mewakili pemilik tanah besar yang merupakan minoritas. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Respons Cepat Longsor Area Jembatan Cikaleho Ruas Majalengka-Ciamis, Kementerian PU Siapkan Jembatan Bailey
-
Jajaki Kerja Sama Baru, Indonesia Siap Promosikan Budaya ke Kanada
-
Kemensos Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Rob di Jakarta Utara
-
Belgia Pesta 6 Gol ke Gawang Liechtenstein, Belanda Gagal Taklukkan Polandia di Rotterdam
-
Ini Dia Tips Memasak yang Lebih Efisien dari Pertamina
-
Bayer Leverkusen Siapkan Perlawanan Terbaik Hadapi PSG
-
Update Program Rutilahu Kabupaten Bandung: Target 15.000 Rumah Selesai dalam 3 Tahun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.