Telat Naikkan Bunga, Investor Keluar dari Pasar Keuangan RI
Senin, 13 Nov 2023, 00:03 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik mencapai 1,27 triliun rupiah pada 6-9 November 2023. Perkembangan tersebut berasal dari modal asing keluar bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) senilai 1,59 triliun rupiah dan di pasar saham 1,35 triliun rupiah, sementara modal asing masuk bersih di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai 1,66 triliun rupiah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, belum lama ini, mengatakan dengan demikian modal asing bersih yang masuk ke Indonesia sejak 1 Januari hingga 9 November 2023 mencapai 57,55 triliun rupiah di pasar SBN dan 19,28 triliun rupiah di SRBI, sedangkan modal asing keluar bersih di pasar saham mencapai 15,97 triliun rupiah.
Lebih lanjut dikatakan, premi risiko investasi atau premi credit default swaps (CDS) Indonesia 5 tahun tercatat sebesar 83,78 basis poin (bps) per 9 November 2023, relatif stabil dibandingkan per 3 November 2023 yang sebesar 83,83 bps.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada akhir pekan lalu melemah di level 15.670 per dollar AS jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan sehari sebelumnya di posisi 15.650 rupiah per dollar AS.
"Pada saat rupiah melemah, indeks dollar AS menguat ke level 105,91 pada akhir perdagangan Kamis (9/11).
Di sisi lain, imbal hasil atau yield SBN Indonesia tenor 10 tahun meningkat ke level 6,81 persen. Demikian juga dengan imbal hasil surat utang AS alias US Treasury Note tenor 10 tahun yang naik menjadi 4,624 persen.
BI Terlambat
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan pelarian modal asing itu mungkin disebabkan beberapa hal. Pertama, keterlambatan BI menaikkan suku bunga saat suku bunga the Fed dinaikkan.
Kedua, ketidakpercayaan investor karena ketidakpastian regulasi di Indonesia. Ketiga, perekonomian global melambat sehingga semua membatasi investasi. Sebab itu, langkah yang harus dilakukan adalah otoritas moneter harus ikut menaikkan suku bunga ketika Fed dinaikkan sehingga mengembalikan kepercayaan investor
Pada kesempatan yang berbeda, Guru Besar Ekonomi sekaligus Rektor Universitas Airlangga, Mohamad Nasih, yang ditemui baru-baru ini, mengungkapkan laporan BI soal aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik yang mencapai lebih dari satu triliun rupiah tersebut, menunjukkan dampak dari tren kenaikan suku bunga akibat kebijakan the Fed.
"Amerika perlu dana support yang cukup besar sehingga mereka mengupayakan tidak sampai ada pengurangan. Dengan demikian, semuanya akan lari ke sana, termasuk semua dana yang ada di luar negeri, akan tertarik ke dollar AS. Oleh karena itu, pasti dampaknya akan sangat luar biasa," tutup Nasih.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Harga Telur Bergejolak, Satgas Saber Pangan Jabar Turun Tangan Kendalikan Harga
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Arus mudik sepeda motor di Pantura
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.