Sustainable Financing, Katalisator Untuk Menggapai Masa Depan Masyarakat Global Bebas Emisi
Sabtu, 11 Nov 2023, 22:52 WIBPADA pagelaran World Hydropower Congress di Bali pertengahan Oktober 2023, Pemerintah Indonesia menyerukan perlunya mempercepat transisi energi dari energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Transisi ke energi yang berkelanjutan (sustainable) itu untuk meredam kenaikan suhu bumi, sekaligus menyikapi perubahan iklim yang menimbulkan banyak bencana serta mengancam dan merugikan populasi dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri dalam sebuah pernyataannya melukiskan kondisi bumi saat ini, bukan lagi mengalami global warming (pemanasan global), tapi sudah masuk ke global boiling (dunia mendidih).
Lembaga internasional yang bermarkas di New York Amerika Serikat (AS) itu mengingatkan, jika suhu bumi terus dibiarkan lebih dari 1,5 derajat Celsius, maka diprediksi akan mengakibatkan sekitar 210 juta orang di dunia mengalami kekurangan air, 14 persen populasi akan terpapar gelombang panas, dan 297 juta rumah akan terendam banjir pesisir, serta 600 juta berpotensi mengalami malnutrisi akibat gagal panen.
Fakta bahwa pemanasan global (global warming) terus berlangsung terlihat dalam sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Science Advances. Para ilmuwan seperti ditulis dalam jurnal itu menganalisis lebih dari 100.000 gambar radar satelit untuk menilai kesehatan 162 lapisan es Antartika. Mereka menemukan bahwa volume es turun 71 persen dari tahun 1997 hingga 2021.
Kalau kondisi tersebut terus berlangsung para ilmuwan memperkirakan lebih dari 40 persen volume lapisan es Antartika akan hilang dalam 25 tahun, sehingga meningkatkan risiko kenaikan permukaan air laut.
Merespon kondisi tersebut, Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan kenaikan suhu bumi yang berakibat pada perubahan iklim global menjadi masalah serius yang harus disikapi semua kalangan.
Sebagai gambaran, kata Hafidz, dampak El Nino tahun ini saja sudah menaikkan suhu 0,9 derajat Celsius di sebagian area Samudera Pasifik. Kenaikan itu sudah menyebabkan cuaca ekstrem di hampir seluruh area ekuator (Asia, Afrika, dan Amerika Latin) selama hampir empat bulan.
"Di situlah pentingnya kerja sama global dan komitmen seluruh negara, yang serius menekan emisi dengan skemaNet Zero Emission(NZE) sesuai The Paris Agreement, agar pada 2030 kelak suhu global bisa tetap ditahan di bawah 1,5 derajat Celsius," kata Hafidz.
Indonesia sendiri menargetkan penurunan emisi 41 persen, atau 140 juta ton CO2 pada 2030 dan NZE pada 2050. Pekerjaan rumah paling serius terutama pada aspek transisi energi dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, yang berkontribusi paling besar dalam menyumbang emisi.
Menyikapi tantangan untuk menyelamatkan planet bumi ke depan, lembaga-lembaga internasional menggugah para pemimpin negara-negara untuk berkolaborasi dengan seluruh komponen masyarakat dunia membangun kesadaran dan melakukan aksi nyata mencegah pemanasan global.
Sebagai Inisiator
Sektor jasa keuangan pun seperti perbankan, asuransi dan industri pasar modal pun diharapkan memainkan peran penting dalam menjaga suhu bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celcius. Bahkan, menjadi inisiator dengan menghadirkan program "Sustainable financing" atau pembiayaan berkelanjutan.
Oleh Otoritas Jasa Keuangan Keuangan (OJK) sustainable financing di Indonesia didefinisikan sebagai dukungan menyeluruh dari industri jasa keuangan untuk pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.
Lembaga yang mengawasi sektor jasa keuangan itu bahkan telah telah menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan 2015-2019 pada 5 Desember 2014 yang berisi rencana kerja program keuangan berkelanjutan untuk industri jasa keuangan yang berada di bawah OJK, yaitu perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).
Kemudian, mereka menerbitkan Peraturan OJK No. 51/POJK. 03/2017 Tahun 2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, Dan Perusahaan Publik.
Dukungan sektor jasa keuangan pada program sustainable financing itu bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu partisipasi langsung (direct financing) dan tidak langsung (indirect financing). Partisipasi langsung bisa dalam bentuk bank menerbitkan obligasi hijau (Green Bond), kemudian menyalurkan ke sektor riil atau dunia usaha yang menerapkan prinsip bisnis ramah lingkungan.
Sedangkan, partisipasi tidak langsung berupa bank sebagai pembeli atau investor green bond atau sukuk hijau yang diterbitkan negara atau issuer lainnya, lalu dananya dimanfaatkan Pemerintah untuk membiayai proyek-proyek hijau seperti membangun pembangkit listrik tenaga surya, bayu dan hydro.
Salah satu bank yang sangat aktif bahkan banyak melakukan inovasi dalam program sustainable financing adalah Bank CIMB Niaga.
Hemat Energi
Direktur Complience, Corporate Affairs and Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei dalam media gathering Kejar Mimpi Actionation di Jakarta, Rabu (8/11) mengatakan sustainable financing di CIMB Niaga bukan hanya sekedar slogan, tetapi sebagai nafas dalam praktik operasional bank.
Hingga 2030, CIMB Niaga papar Fransiska fokus pada upaya mengurangi penggunaan listrik atau hemat energi sesuai dengan cakupan atau scope 1 dan 2. Scope 1 adalah pengurangan listrik di pabrik (produksi), sedang scope 2 pemakaian listrik di kantor atau rumah dan scope 3 pengurangan listrik untuk proses produksi di luar pabrik.
"Kami memulai dengan langkah yang tidak sulit, hemat listrik, paperless, lebih banyak menggunakan transaksi digital dan selektif melakukan perjalanan dinas, sehingga secara tidak langsung mengurangi emisi karbon kendaraan dan pesawat," kata Fransiska.
Aplikasi transaksi digital, mengurangi pemakaian kertas dan tidak menggunakan kendaraan pribadi ke kantor tanpa disadari telah mendukung program Pemerintah. Di sisi bank, aksi kecil tersebut membuat perusahaan lebih hemat dan efisien, sehingga secara finansial juga menguntungkan.
Trend selera nasabah pun akhir-akhir ini jelasnya cenderung menyukai produk-produk fashion, kecantikan maupun berbagai aksesoris dari bahan baku daur ulang (recycle) dan produk organik.
"Bank yang menerapkan praktik bisnis berkelanjutan pasti akan menarik bagi nasabah, karyawan dan investor," kata Fransisca.
Bursa Karbon
Dalam menjalankan fungsi intermediasi, dari total portofolio CIMB Niaga pada kuartal III-2023 sebesar 205,6 triliun rupiah, sekitar 25,6 persen diantaranya atau 52,55 triliun rupiah disalurkan untuk pembiayaan hijau.
Komitmen perseroan pada sustainable financing dipertegas Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan saat menyampaikan kinerja perseroan baru-baru ini.
"Sebagai bagian dari upaya kami untuk mendorong masa depan yang berkelanjutan, terutama mencapai emisi rendah karbon, kami aktif sebagai pembeli pertama unit karbon dalam peluncuran Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) baru-baru ini," kata Lani.
Hal itu sebagai dukungan dan straregi bank untuk mencapai NZE pada 2050 dan dukungan pada program dekarbonisasi Pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia.
CIMB Niaga kata Lani berkomitmen menjadi bagian ekosistem berkelanjutan yang fokus pada kolaborasi, transformasi dan transisi yang berkeadilan.
Dua program pembiayaan yang sudah diluncurkan CIMB Niaga yaitu Sustainability Linked-Loan/Financing dan Sustainable Financing. Program Sustainability Linked Loan/Financing (SLL) merupakan program pembiayaan yang menawarkan insentif bagi nasabah CIMB Niaga yang berhasil mencapai target terkait sustainability (Sustainability Performance Target/SPT) sesuai kesepakatan bersama di awal program.
Melalui SPT tersebut, CIMB Niaga mendorong nasabah untuk menerapkan praktik-praktik bisnis keberlanjutan dan menciptakan dampak positif melalui aktivitas usaha nasabah.
Sedangkan, program Sustainable Financing ditujukan kepada nasabah pembiayaan CIMB Niaga yang bergerak di bidang usaha berwawasan lingkungan dan/atau sosial. Nasabah yang mengimplementasikan program itu akan mendapat insentif dari CIMB Niaga, sehingga dapat meningkatkan motivasi untuk terus mengembangkan usaha yang sejalan dengan prinsip berkelanjutan.
Komitmen CIMB Niaga pada sustainable financing secara detail dipaparkan Direktur Consumer Banking CIMB Niaga, Noviady Wahyudi dalam beberapa produk pembiayaan yang inovatif.
Menurut Noviady, CIMB Niaga memberi insentif special rate (bunga khusus) kepada nasabah atau debitor yang menjalankan bisnis ramah lingkungan. Bahkan, bank juga menawarkan fasilitas pembiayaan green mortgage dan pembiayaan mobil ramah lingkungan (listrik) serta Giro Kartini bagi pengusaha wanita.
Pembiayaan hijau CIMB Niaga di sektor konsumer kata Noviady pada 2022 lalu mencapai 120 miliar rupiah. Sedangkan, sepanjang kuartal III-2023 saja atau periode Juli-September 2023 sudah tercatat 130 miliar rupiah.
"Pembiayaan ke sustainable financing sangat prospektif, kalau dianalisis bisa sampai 3-4 kali dari realisasi tahun lalu," katanya.
Pencapaian tersebut mendorong pihaknya terus menggenjot pembiayaan kendaraan listrik melalui anak usahanya CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) seiring dengan pemberian insentif yang dikeluarkan Pemerintah.
Tingkatkan Pendanaan
Dengan besarnya potensi pembiayaan ke sektor yang ramah lingkungan Peneliti Ekonomi Lingkungan yang juga Pendiri Think Policy, Andhyta Firselly Utami mendorong perbankan di Tanah Air agar meningkatkan pendanaan ke proyek-proyek EBT guna mendukung terwujudnya zero emisi karbon pada 2050.
"Perbankan memiliki peran dalam mendukung proyek-proyek yang fokus pada energi terbarukan, efisiensi energi, dan tata kelola perusahaan yang baik," kata Andhyta.
Dengan peran perbankan yang sangat vital dalam mendorong transisi energi, maka sangat wajar instrumen sustainable financing yang dikembangkan masing-masing bank menjadi katalisator menuju masa depan Planet Bumi yang lebih baik, berkelanjutan dan bebas emisi.
Inovasi-inovasi produk pembiayaan hijau seperti yang digagas CIMB Niaga diharapkan menjadi katalisator di industri perbankan untuk memperluas produk tersebut. Dengan demikian, di sisi demand atau end user, konsumen yang menkonsumsi dan menggunakan jasa produk hijau terus meningkat.
Selain memperluas basis produk hijau, kampanye dan promosi serta pemberian insentif akan sangat menentukan keberhasilan menuju masyarakat global yang nir-emisi (bebas emisi).
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Vitto Budi
Berita Terkait:
-
Langkah Strategis! Bank Mandiri Siapkan Buyback Rp1,17 Triliun dengan Kalkulasi Matang
-
Mapala Banten Kritik Darurat Sampah lewat Bendera di TPA Bangkonol
-
Percepatan Transisi Rendah Karbon pada Sektor Bangunan di Indonesia Melalui Pedoman Pengadaan Hijau
-
Islandia Bidik Jadi Anggota UE, Referendum Digelar Agustus 2026
-
Transaksi Digital Hasilkan 0,14 Gram Emisi
-
Kebiasaan Buruk PLN Biarkan Listrik Mati Mendadak Banyak Mencelakakan Orang. Banyak Terjebak di Lift
-
Kejar Target NZE 2060, PGN Kebut Penurunan Emisi Karbon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.