Komisioner Iklim UE: Penting Tetapkan Target untuk Akhiri Bahan Bakar Fosil

Kamis, 02 Nov 2023, 00:01 WIB

DUBAI - Tuntutan untuk mencapai target penghapusan bahan bakar fosil dalam ajang Confeence of the Parties 28 (COP-28) di Dubai bukanlah hal yang remeh, namun merupakan permintaan mendesak yang didukung oleh ilmu pengetahuan yang sangat jelas.

Dikutip dari Barron, Komisioner Iklim Eropa, Wopke Hoekstra, Selasa (31/10), mengatakan Uni Eropa (UE) memiliki keinginan menghilangkan bahan bakar fosil, untuk mencapai puncak emisi gas rumah kaca (GRK) global pada 2025, meningkatkan energi terbarukan sebanyak tiga kali lipat, dan efisiensi energi sebanyak dua kali lipat pada 2030.

Ket. Foto: Komisioner Iklim Eropa, Wopke Hoekstra — Sumber: AFP/FREDERICK FLORIN

"Tentu saja beberapa hal ini tidak terlalu kontroversial, akan lebih mudah untuk mencapai target energi terbarukan dan target efisiensi energi dibandingkan menghapuskan bahan bakar fosil secara bertahap," kata Hoekstra.

Menurut komisaris baru yang telah mendapat sorotan tajam karena pengalaman masa lalunya di industri minyak ini, Uni Eropa bersedia mengambil "langkah tambahan" untuk membantu negara-negara berkembang, khususnya terkait kerusakan iklim.

"Namun, hal itu berarti semua negara kaya harus mulai berkontribusi," tambahnya dari Ibu Kota Uni Emirat Arab, Dubai, tempat para menteri dan perunding berkumpul selama dua hari pertemuan pendahuluan menjelang COP-28 bulan depan.

Pada pertemuan lanjutan tersebut, UE membahas "elemen inti" yang akan "menentukan hasil dan keberhasilan" perundingan iklim PBB mendatang. Unsur-unsur tersebut mulai dari mitigasi, dana kerugian dan kerusakan, hingga adaptasi.

Mengacu pada pidato Sultan Al Jaber yang akan menjadi tuan rumah pembicaraan, di mana ia mengatakan "sains harus memimpin kita", Hoesktra mengatakan bahwa hal itu tidak boleh diterapkan a la carte, tetapi di seluruh kebijakan dan keputusan.

"Kita juga perlu menyadari diperlukan lebih banyak dana. Para ilmuwan mengatakan kepada kita bahwa dana tersebut diperlukan dan peluangnya sudah dekat," tambahnya.

Berikan Bantuan

Uni Eropa telah menjadi pemimpin di antara negara-negara maju dalam upaya memenuhi janji memberikan bantuan tahunan sebesar 100 miliar dollar AS kepada negara-negara berkembang, dengan menyumbang 26 miliar dollar AS yang "sangat besar" untuk bantuan tersebut.

"Kami sangat bersedia dan berkomitmen untuk membantu menyiapkan dana kerugian dan kerusakan baru untuk negara-negara yang rentan," katanya.

Meskipun parameter pasti dari dana tersebut masih diperdebatkan, ia memperingatkan bahwa "kita hanya dapat melakukan hal ini dengan benar sekali".

"Dana ini benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang paling membutuhkan, khususnya negara-negara berkembang kepulauan kecil yang jelas-jelas merupakan pihak yang paling menerima perubahan iklim dan tidak mempunyai tanggung jawab apa pun atas apa yang terjadi," katanya.

"Mereka yang berkontribusi terhadap dana itu harus diperluas, kepada setiap orang yang memiliki kemampuan untuk membayar antar negara," ujarnya.

Dengan tidak hanya memilih satu negara tertentu, katanya, dengan mengurutkan negara-negara berdasarkan PDB, jelas siapa yang telah mengalami kemajuan ekonomi. "Dan dengan kekuatan ekonomi yang cukup besar, terdapat pula tanggung jawab yang besar".

Namun perundingan dua hari pra-COP-28 berakhir di Abu Dhabi pada Selasa dengan banyak komentar positif tetapi tidak ada kesepakatan.

Masalah utama yang muncul dalam pembicaraan awal tahun ini mengenai struktur, penerima manfaat, dan kontributor dana tersebut adalah bahwa negara-negara kaya menginginkan Tiongkok, negara Teluk, dan Singapura untuk ikut serta dalam pendanaan tersebut.

"Dana tersebut tidak hanya mengatasi bahaya yang disebabkan oleh perubahan iklim yang dipicu oleh negara-negara industri maju yang berdampak pada negara-negara miskin, namun juga akan menumbuhkan hal yang sangat penting, namun tidak berwujud yang disebut kepercayaan antara Utara dan Selatan," kata Hoesktra.

Ketika ditanya apakah UE akan mengupayakan kesepakatan final mengenai target penghapusan bahan bakar fosil pada perundingan COP28, Hoekstra menjawab para ahli paling terkenal di dunia "sebenarnya memberi tahu kita bahwa kita memerlukan lebih banyak tindakan".

"Tindakan tersebut memerlukan penghilangan bahan bakar fosil secara umum dan batu bara pada khususnya secara cepat," ujarnya.

"Ini bukan kesembronoan Uni Eropa. Ini bukan soal memilih-milih atau manuver politik," katanya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.