Kenaikan PMI Manufaktur AS Bakal Tekan Rupiah
Kamis, 26 Okt 2023, 00:03 WIBJAKARTA - Kenaikan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Amerika Serikat ke level 51 atau ekspansif dan lebih tinggi dari perkiraan 49,8 akan menekan nilai tukar rupiah. Sebab, dengan masuknya PMI ke level ekspansif menunjukkan ketahanan ekonomi AS, sehingga bank sentralnya Federal Reserve makin leluasa menaikkan suku bunga.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan data menunjukkan berlanjutnya ketahanan perekonomian AS, memberikan lebih banyak ruang bagi Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Di sisi lain akan mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe-haven.
"Bank sentral akan mengadakan pertemuan minggu depan untuk memutuskan suku bunga, meskipun pasar secara luas memperkirakan the Fed akan tetap mempertahankan kebijakannya. Namun, para pejabat Fed telah mengisyaratkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini, dan suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, setidaknya hingga akhir tahun 2024," ungkap Ibrahim seperti dikutip dari Antara.
Saat ini, pasar disebut sedang menunggu rilis data ekonomi AS, terutama data Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III/2023 yang akan dirilis pada Kamis (26/10). Laporan data PDB AS akan diikuti oleh rilis data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures), pada hari Jumat (27/10).
Sementara itu, analis pasar uang, Lukman Leong, menyampaikan bahwa investor mulai mengalihkan perhatian pada data ekonomi AS dan pidato Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell.
"Investor mengantisipasi apabila Powell akan kembali bernada hawkish seperti minggu lalu. Pidato ini adalah yang terakhir bagi the Fed sebelum periode lockdown menjelang FOMC (Federal Open Market Committee) minggu depan," katanya.
Ekspektasi Inflasi
Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan memang kenaikan PMI manufaktur AS menunjukkan peningkatan keyakinan manajer pembelian.
Hal itu berarti terjadi pemulihan ekonomi dan pertumbuhan diharapkan lebih besar lagi.
"Kondisi di mana perekonomian bekerja dengan sumber daya penuh akan mendorong ekpektasi inflasi meningkat," kata Suhartoko.
Ekspektasi inflasi itu akan mendorong ekspektasi the Fed menaikkan suku bunga acuan dan dilanjutkan dengan capital inflow ke AS. Ini yang menyebabkan pelemahan rupiah.
Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Gresik, Jawa Timur, Leo Herlambang, mengatakan rupiah akan terus mengalami pelemahan dengan tren kenaikan suku bunga the Fed.
"Negara-negara kuat yang mengalami inflasi seperti AS atau negara-negara di Eropa tentu tidak ingin terjadi pengurangan nilai pada mata uangnya, sehingga mau tidak mau mereka menaikkan suku bunganya," kata Leo.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
VAR Gagalkan Pesta Persijap, Drama 4 Gol di Bantul Bikin Laskar Kalinyamat Gigit Jari
-
Pemudik Mulai Melintas di Jalur selatan dan Tengah Jateng
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
Rupiah Hari Ini Melemah Jadi Rp16.970 per Dollar AS Seiring Ketidakpastian Konflik di Timur Tengah
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
-
IEA: Lebih dari 40 Aset Energi Timur Tengah Rusak Parah, Rantai Pasok Global Terancam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.