Modernisasi Irigasi untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Jumat, 20 Okt 2023, 00:01 WIB

JAKARTA - Implementasi modernisasi irigasi di sejumlah daerah dilakukan dalam rangka untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Modernisasi irigasi dilakukan melalui kegiatan perbaikan dan pembaruan keandalan penyediaan air irigasi, perbaikan sarana dan prasarana irigasi, penyempurnaan sistem pengelolaan irigasi, penguatan institusi pengelola irigasi, serta pemberdayaan sumber daya manusia.

"Kita perlu melakukan modernisasi irigasi untuk meningkatkan keandalan layanan irigasi menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan melebihi perencanaan semula," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Mohammad Zainal Fatah, di Jakarta, Kamis (19/10).

Ket. Foto: MOHAMMAD ZAINAL FATAH Sekjen Kementerian PUPR - Kita perlu melakukan modernisasi irigasi untuk meningkatkan keandalan layanan irigasi menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan melebihi perencanaan semula. — Sumber: ISTIMEWA

Seperti dikutip dari Antara, Zainal mengatakan Indonesia saat ini memiliki daerah irigasi seluas 9.136.028 hektare. Demi mendukung ketahanan pangan nasional, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai langkah, di antaranya pembangunan dan pengembangan jaringan irigasi baru, peningkatan tata kelola operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, serta rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi jaringan irigasi.

"Melalui modernisasi irigasi, kita mengharapkan perbaikan dan peningkatan kinerja layanan irigasi secara menyeluruh, khususnya pada jaringan irigasi yang dikelola pemerintah daerah. Sehingga ke depan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian guna mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," ujar Zainal.

Dimulai di Jabar

Dia mengatakan implementasi modernisasi irigasi telah mulai dilakukan di daerah irigasi Rentang, Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang mengairi areal pertanian seluas 87.840 hektare di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu dengan memanfaatkan debit Sungai Cimanuk.

"Dengan modernisasi yang telah dilakukan, maka pada tahun 2025 dapat meningkatkan indeks pertanaman hingga 280 persen di tiga kabupaten yang didukung daerah irigasi Rentang," katanya.

Selain modernisasi bendungan, Zainal juga menambahkan demi membantu peningkatan produksi pangan, Kementerian PUPR telah melakukan pembangunan 61 bendungan pada tahun 2014- 2024. Dari 61 bendungan itu, sebanyak 52 bendungan dengan total kapasitas tampungan 3.746,51 juta m3 memiliki potensi pemanfaatan layanan irigasi untuk 71 daerah irigasi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hidayat menyatakan data citra satelit penginderaan jauh atau remote sensing dapat dimanfaatkan untuk mengurai berbagai permasalahan pertanian, salah satunya sistem irigasi lahan persawahan.

Menurut Hidayat, citra satelit penginderaan jauh dibutuhkan di Indonesia yang memiliki wilayah luas.

Pada 2021-2022, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menginisiasi kajian Sistem Informasi Standing Crop atau Siscrop. Siscrop merupakan sistem pemantauan fase tumbuh padi berbasis teknologi penginderaan jauh skala nasional yang dibangun oleh Kementerian Pertanian dan BRIN.

Periset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Setyono Hari Adi, mengatakan ada tiga komponen yang berpengaruh terhadap kebutuhan air padi sawah, yaitu komponen tanaman, proses input-output dari atmosfer termasuk curah hujan dan evapotranspirasi, serta tanah yang berpengaruh terhadap kapasitas tampung air tanah.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.