Cegah Banjir, Pemkab Sidoarjo Normalisasi Sungai Waru Jelang Musim Hujan
Kamis, 05 Okt 2023, 00:14 WIBSidoarjo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Jawa Timur, melakukan normalisasi di Sungai Waru sebagai upaya mencegah banjir menjelang musim hujan seperti sekarang ini.
Wakil Bupati Sidoarjo Subandi di Sidoarjo, Rabu, mengatakan sungai tersebut berada di perbatasan Desa Ngingas dan Desa Kureksari, Kecamatan Waru.
"Sungai tersebut segera dinormalisasi. Sebab kondisi sungai memang terlihat dangkal dan banyak sampah," ucapnya.
Selain itu, kata dia, pelengsengan(turap) disisi timur yang berbatasan dengan jalan juga rusak sehingga pengendara harus lebih berhati-hari agar tidak terperosok ke sungai.
"Harus dinormalisasi terlebih dahulu. Karena ada dua saluran, yaitu saluran pembantu dan saluran tersier," ucapnya.
Menurutnya, kondisi sungai tersebut sangat memprihatinkan sehingga harus dinormalisasi supaya sungai tersebut ke depannya menjadi lebih dangkal
Ia berharap sungai tersebut dapat dimaksimalkan menjadi sungai tersier. Sehingga, kedua sungai akan dijadikan satu sebagai saluran pembuangan utama.
"Inilebarnya kurang lebih sekitar delapan meter, nanti yang sisi utara harus digeser dan dibuatkan jalan," ucapnya.
Ia mengatakan jalan dari arah timur hingga ke Delta Sari dapat dibetonisasi supaya manfaatnya akan lebih banyak dan kendaraan roda empat bisa melintas dengan nyaman.
"Kalau kami hitung panjang normalisasisekitar satu kilo meter, tapi kalau pelebaran jalannya tak terlalu panjang," ujarnya.
Ia memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBM SDA) Sidoarjo segera mengkaji secepatnya. Sehingga, normalisasi dapat dilakukan sebelum musim hujan tiba.
Sejumlah bangunan liar yang yang berada di atas sungai akan dibongkar, namun sosialisasi kepada warga sekitar juga terus digencarkan.
"Anggarannya kami carikan, apakah nantinya pakai dana bantuan keuangan (BK) atau yang lain. Kalau betonisasi mungkin diajukan 2025," ujarnya.
Anggota Komisi A DPRD Sidoarjo Warih Andono mengatakan normalisasi sungai tersebut memang diperlukan. Sebab jika terjadi hujan lebat, kondisi sungai tak memungkinkan menampung debit air yang melimpah.
"Kalau banjir sudah satu lutut, sungai ini sudah tidak kuat menampung, sehingga normalisasi sifatnya mendesak," tuturnya.
Ia menilai dampak sosial dari upaya normalisasi tersebut tidak akan terjadi karena penghuni bangunan liar juga sudah diberikan sosialisasi terkait rencana pembongkaran itu.
Penghuni bangunan liar sudah diundang dan diajak bicara bersama pemerintah desa setempat dan akan membongkar bangunannya secara mandiri nantinya.
"Mereka secara ikhlas mau pindah dan membongkar bangunan liar. Yang terdampak dari bangunan liar itu ada lima kepala keluarga," katanya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Hujan Dini Hari di Musim Kemarau Picu Banjir di Belasan Lokasi Surabaya, Armada Damkar Dikerahkan Sedot Genangan
-
Rumah Hancur, Penghuninya Tewas Akibat Ledakan Petasan
-
Meksiko dan Korea Selatan Perebutkan Puncak Grup A Piala Dunia 2026
-
Kasus Pembunuhan WNA Korea di Bekasi Terungkap, Eksekutor Dibayar Rp139 Juta
-
Korea Selatan Menuju Piala Dunia 2026 di Tengah Tekanan dan Kritik
-
Saham Asia Anjlok, Harga Minyak Mentah di Atas $100 di Tengah Kebuntuan AS-Iran
-
Dampak Ngeri AI bagi Keamanan Negara, Jepang Mulai Bentengi Sektor Vital
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.