Bulog Diminta Lanjutkan Intervensi
📅 Kamis, 05 Okt 2023, 11:48 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menginstruksikan Bulog agar terus menggelontorkan beras ke pasar, termasuk Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC). Langkah tersebut diharapkan dapat menekan harga bahan pokok tersebut sehingga dapat terkoreksi menuju titik keseimbangan baru.
"Saat ini, harga beras di PIBC sudah mengalami penurunan sehingga kita berharap harga beras di pasar turunan juga terus terkoreksi dan stabilitas harga dapat tercapai," ujar Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, saat meninjau gudang beras di PIBC dan meninjau Pasar Rawamangun, Jakarta, Rabu (4/10).
Menurut Arief, harga beras akan tertahan melalui upaya penggelontoran beras SPHP ke semua lini pasar. "Harga beras semestinya bisa tertahan dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dibanjiri ke PIBC seperti ini. Beras SPHP juga pemerintah salurkan melalui ritel modern dan pasar tradisional. Ini terus kita lakukan sambil menunggu panen," imbuh Arief.
Dia menuturkan adanya rencana penambahan bantuan pangan beras agar peran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dapat semakin menekan harga. "Dalam Ratas (rapat terbatas) terakhir, Bapak Presiden Joko Widodo telah meminta Ibu Menteri Keuangan untuk menyiapkan kelanjutan bantuan pangan beras di Desember tahun ini. NFA bersama Bulog senantiasa memastikan stok CBP tersedia dan siap salur ke masyarakat luas," pungkas Arief.
Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menyampaikan ketersediaan stok selalu menjadi perhatian pemerintah. "Kalau produksi kurang, pasti Bapak Presiden minta Bulog untuk tambah stok beras, karena pemerintah itu menjamin ketersediaan bagi masyarakat secara luas. Sampai akhir tahun stok aman, prediksi kita masih ada 1,2 juta ton," ujar Budi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun hingga saat ini stok beras yang ada di Bulog mencapai 1,7 juta ton, yang terdiri dari CBP sebanyak 1,67 juta ton dan stok komersil sekitar 69 ribu ton. Sementara penyaluran beras juga telah mencapai angka 1,7 juta ton yang digunakan antara lain realisasi SPHP sebanyak 799 ribu ton, bantuan pangan tahap pertama sebesar 640 ribu ton, dan bantuan pangan beras tahap kedua yang saat ini terus digenjot dengan realisasi terakhir telah mencapai 98,5 persen untuk bulan pertama sebesar 197 ribu ton.
Ramalan BMKG
Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, memprediksi musim kemarau akan berakhir di sebagian besar wilayah Indonesia mulai akhir Oktober ini, dan awal musim hujan secara bertahap, dimulai awal November 2023. Namun, akibat tingginya keragaman iklim, maka awal musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Sementara puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada bulan Januari-Februari 2024.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sesuai prediksi BMKG, puncak dampak El Nino terjadi pada bulan September, namun tadi kami juga menganalisis dari data satelit yang terkini, terlihat Oktober ini nampaknya intensitas El Nino belum turun. Fenomena El Nino ini diprediksi masih akan terus bertahan hingga tahun depan," ungkap di Jakarta, Selasa (3/10).
Dwikorita mengatakan level El Nino moderat akan terus bertahan dan berakhir pada bulan Februari-Maret 2024. Awal musim hujan sendiri, kata dia, berkaitan erat dengan peralihan Monsun Australia menjadi Monsun Asia. Saat ini, lanjut Dwikorita, Monsun Asia sudah mulai memasuki wilayah Indonesia sehingga diprediksi bulan November akan mulai turun hujan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!