• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Penemuan Kertas Ubah Perad...

Penemuan Kertas Ubah Peradaban Dunia

Kamis, 21 Sep 2023, 06:10 WIB

Kertas yang halus dan tipis ditemukan di Tiongkok pada tahun 105 M. Penemuan kertas sangat membantu penyebaran sastra, literasi, serta seni lukis kaligrafi

Meluasnya penggunaan kertas dan percetakan merupakan ciri Tiongkok kuno yang membedakannya dari kebudayaan kuno lainnya. Secara tradisional, kertas ditemukan pada awal abad ke-2 M, namun terdapat bukti bahwa kertas ditemukan jauh lebih awal.

Ket. Foto: — Sumber: Wikimedia

Kertas pada zaman Tiongkok kuno digunakan untuk menyebarkan literatur dan informasi. Bahan tumbuhan lebih murah dan ringan dibandingkan bambu, kayu, atau sutra. Selain untuk menyebarkan literatur dan literasi, kertas juga digunakan untuk berbagai keperluan lain mulai dari topi hingga kemasan.

Proses kertas hingga mencapai bentuk yang tipis perlu waktu berabad-abad. Bahan untuk menulis ini diperdagangkan di seluruh Asia dan digunakan dalam pembuatan uang kertas pertama pada awal abad ke-12 masehi.

Terdapat banyak bukti arkeologis mengenai jenis kertas primitif dari abad ke-2 SM di Tiongkok, yang sebagian besar menggunakan rami (Boehmeria nivea). Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang berbentuk rumpun, yang mudah tumbuh di berbagai lahan dan relatif aman dari serangan hama.

Dipercaya bahwa penemuan kertas bentuk awal ini terjadi secara tidak sengaja setelah pakaian yang terbuat dari rami dibiarkan terlalu lama setelah dicuci. Dari sini terbentuk residu di dalam air yang kemudian dapat ditekan menjadi bahan baru yang berguna.

Sedangkan penemuan kertas yang lebih halus terjadi Pada tahun 105 M. Cai Lun, Direktur Bengkel Kekaisaran di Luoyang, adalah orang yang berjasa menciptakan kertas dengan menggunakan serat tumbuhan yang direndam. Bahan ini lalu ditekan, dikeringkan menjadi lembaran pada bingkai atau kasa kayu.

Bambu atau potongan kayu yang rumit dan sutra yang mahal telah digunakan selama berabad-abad sebagai permukaan untuk menulis. Namun kertas dari bahan rami kemudian alternatif yang lebih ringan dan murah. Akhirnya kertas jenis ini dibuat dalam gulungan.

Seiring waktu, serat-serat yang berbeda diujicobakan untuk membuat kertas, sehingga kualitasnya meningkat pesat pada akhir periode Dinasti Han (206-220 M). Serat dari berbagai tumbuhan, batang rumput, bahan nabati, rami, kulit pohon, dan bahkan kain perca digunakan sebagai upaya eksperimen terus-menerus untuk menemukan campuran bahan termurah yang menghasilkan kertas dengan kualitas terbaik.

Penggunaan rotan selama berabad-abad hingga digantikan oleh serat bambu sebagai bahan baku paling umum sejak abad ke-8 masehi. Salah satu alasan penggantian rotan adalah karena permintaan terhadap kertas begitu besar sehingga tanaman yang pertumbuhannya lambat hampir musnah di wilayah tertentu di Tiongkok.

Bambu tumbuh lebih cepat dibandingkan rami sehingga merupakan pilihan yang jauh lebih murah. Sejak Dinasti Song (960-1279 M) teknik produksi kertas menjadi lebih baik dan bahan baku utamanya kini adalah kulit pohon murbei yang direbus. Kertas Tiongkok memiliki kualitas yang sangat tinggi sehingga diperdagangkan ke negara-negara asing di sepanjang Jalur Sutra.

Lembaran kertas tersedia dalam berbagai ukuran dan banyak corak warna. Bahan, teknik, dan preferensi bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, namun terdapat risalah yang ditulis mengenai subjek ini, yang paling awal ditulis oleh Su I-chien (957-995 M).

Kertas khusus dengan tekstur, pola atau warna yang menarik disediakan untuk kaligrafi dan seni. Jenis kertas ini dibuat dari beras, jerami gandum, kulit kayu cendana, batang kembang sepatu, bahkan rumput laut.

Orang Tiongkok pada dasarnya merahasiakan keterampilan pembuatan kertas, sama seperti ketika menyembunyikan cara membuat produk kain sutra. Tapi rahasia jarang tetap tersimpan selamanya. Akhirnya dunia luar atau setidaknya dunia di sebelah barat Tiongkok, memperoleh pengetahuan tentang pembuatan kertas pada abad ke-8 M, atau bahkan mungkin lebih awal.

Pemicunya adalah ketika sekelompok pembuat kertas ditawan pemenang dalam Perang Talas yang terjadi pada 751. Konflik ini terjadi di perbatasan antara Bani Abbasiyah dari Arab dengan Dinasti Tang Tiongkok yang memperebutkan kekuasaan di Syr Darya.

Bani Abbasiyah yang tampil sebagai pemenang dari Arab menawan mereka yang ahli membuat kertas. Selanjutnya di pusat pemerintahannya di Baghdad setelah itu menjadi produsen kertas utama. Eropa pada abad pertengahan pada akhirnya juga memproduksi sendiri kertas berkualitas tinggi.

Mesin Cetak

Penemuan kertas sangat membantu penyebaran sastra dan literasi, menjadikan buku lebih nyaman digunakan dan lebih murah. Para sarjana di akademi kekaisaran diberikan ribuan lembar kertas setiap bulan oleh pemerintah.

Berdasarkan bukuPaper Trail An Unexpected History Of A Revolutionary Inventionoleh Alexander Monro, pada abad ke-2 kertas digunakan oleh biksu Buddha dengan mengisi ribuan gulung kertas dengan do'a untuk menyampaikan pesan mereka tidak hanya ke istana dan para birokrat. Para biksu, penyair, dan Konfusius menambahkan karya mereka ke tumpukan kertas begitupun para pelajar yang menulis surat dan puisi.

Lebih jauh lagi, kombinasi kuas, tinta, dan kertas akan menjadikan lukisan dan kaligrafi sebagai bidang seni terpenting di Tiongkok selama dua milenium berikutnya. Dengan ditemukannya mesin cetak blok, baik di Korea atau Tiongkok, dan mungkin pada abad ke-8 masehi, permintaan akan kertas meroket, terutama dari para cendekiawan Buddha dan kuil.

Pada abad ke-10 M, ketika terjadi kebangkitan Neo-Konfusianisme, pencetakan karya klasik Konfusianisme berkembang pesat. Dengan penemuan mesin cetak yang dapat dipindahkan, mulai abad ke-11 atau ke-12 M, kertas harus lebih tebal agar dapat menahan balok-balok logam yang berat.

Namun kedua penemuan tersebut mesin cetak dan kertas akan merevolusi komunikasi dan tetap tidak tertandingi dalam hal pengiriman barang dan menyimpan informasi hingga kedatangan komputer. Kertas sangat dihargai di Tiongkok kuno sehingga digunakan untuk membayar upeti dan pajak kepada negara pada masa Dinasti Tang (618-907 M).

Selain digunakan untuk menulis dan buku, kertas juga digunakan untuk membuat peta topografi dan militer sejak Dinasti Han dan seterusnya. Digambar pada skala yang cukup akurat, mereka menyertakan kode warna dan simbol untuk fitur lokal dan mencakup area spesifik dalam skala yang diperbesar. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.