- Home
-
- Luar Negeri
-
- Dunia Sedang Bergulat Hada...
Dunia Sedang Bergulat Hadapi Dampak Bencana yang Makin Parah
Jumat, 01 Sep 2023, 00:03 WIBWASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, pada Rabu (30/8) waktu Washington, mengatakan bahwa krisis iklim sudah tidak dapat disangkal lagi karena negara-negara di seluruh dunia sedang bergulat menghadapi dampak bencana yang semakin parah.
"Saya pikir tidak ada lagi yang bisa menyangkal dampak krisis iklim. Lihat saja sekeliling," kata Biden pada wartawan di Gedung Putih di saat pantai barat negara bagian Florida menghadapi gelombang badai yang belum pernah terjadi sebelumnya yang melanda wilayah Big Bend akibat Badai Idalia.
"Banjir bersejarah, kekeringan yang lebih parah, panas ekstrem, kebakaran hutan parah yang menyebabkan kerusakan besar yang belum pernah kita lihat sebelumnya, tidak hanya di seluruh Kepulauan Hawai di AS, tetapi juga di Kanada dan belahan dunia lainnya. Kita belum pernah melihat api sebesar ini," kata Biden seperti dikutip dari Antara.
Biden mengatakan bahwa dia telah memerintahkan Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) untuk mengerahkan 1.500 personel dan 900 anggota penjaga pantai di seluruh wilayah tenggara saat Idalia mendekati daratan AS.
Pemimpin FEMA Deanne Criswell akan bertolak dari Washington menuju Florida pada Rabu malam untuk bertemu dengan Gubernur Ron DeSantis dan pejabat lainnya saat dia mempersiapkan penilaian federal atas kerusakan yang diakibatkan oleh Idalia.
Idalia menghantam wilayah Big Bend Florida pada Rabu pagi yang merupakan badai kuat kategori tiga, tetapi telah diturunkan menjadi badai kategori satu. Saat ini badai tersebut sedang bergerak melalui Georgia di mana Pusat Badai Nasional (National Hurricane Center) memperingatkan kemungkinan terjadinya badai petir dan sungai yang meluap, serta di timur Carolina, hingga Kamis.
Lakukan Transisi
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, yang diminta pendapatnya mengatakan dampak perubahan iklim semakin ke sini kian nyata. Bencana alam semakin bertambah banyak dan parah, sehingga setiap sektor perlu melakukan transisi.
Negara-negara di dunia, katanya, harus bersama-sama melakukan transisi, tak terkecuali Indonesia. Untuk penggunaan energi misalnya, Indonesia harus secepatnya melakukan transisi ke energi bersih. Pemerintah harus secepatnya mencari solusi permanen untuk shifting ke energi bersih.
"Perlu juga menyiapkan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung. Pembahasan Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT) harus dirampungkan secepatnya dalam waktu dekat," kata Hafidz.
PLN dan pemangku kepentingan industri lainnya, kata Hafidz, perlu duduk bersama untuk mencari jalan alternatif percepatan proyek EBT yang melibatkan semua pihak agar pemanfaatannya optimal.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Tercatat 50 Kejadian Bencana Alam di Wilayah Magetan Selama Januari 2026
-
BPBD Magetan Melaporkan Sejumlah Bencana Alam Akibat Cuaca Ekstrem
-
McLaren Awali Musim F1 2026 dengan Pendekatan Bertahan, Stella Akui Ferrari dan Mercedes Unggul
-
Penyaluran Bantuan Logistik untuk Korban Angin Puting Beliung di Probolinggo
-
Proses Verifikasi Penerima Bantuan Rumah Rusak Berat di Sigi
-
Pengecekan Legalitas 1.085 Batang Kayu Bulat di Sungai Kapuas
-
Waspadai Longsor Susulan di Cisarua
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.