Sertifikasi untuk Juri dan Pembuat Jalur Panjat Tebing di Mataram

Selasa, 14 Jul 2026, 22:17 WIB

Mataram - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Nusa Tenggara Barat menggelar kursus juri dan pembuat jalur (route setter) sertifikasi lisensi C2 untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) panjat tebing di wilayah setempat.

Ketua Umum FPTI NTB, Nadirah Al Habsyi mengatakan program ini menjadi sertifikasi tenaga ahli profesional pertama di NTB sejak 2010.

Ket. Foto: Ketua Umum FPTI Nusa Tenggara Barat (NTB), Nadirah Al Habsyi (tengah) beserta pengurus dan peserta kursus juri dan pembuat jalur (route setter) sertifikasi lisensi C2 panjat tebing di Sekretariat FPTI NTB di Gelanggang Pemuda, Kota Mataram, NTB. — Sumber: Antara

"Ini adalah fondasi dasar untuk menerus ke jenjang berkelanjutan untuk mendapatkan sertifikat lisensi C1," ujarnya di Mataram, Selasa.

Ia bersyukur bisa mengadakan kursus di tengah efisiensi anggaran. Meski demikian, kegiatan berjalan lancar didorong semangat yang kuat dan motivasi peserta untuk mengikuti kursus juri dan buka jalur dengan lisensi C2.

Ia mendorong agar peserta bersungguh-sungguh dalam mengikuti kursus. Apalagi instruktur didatangkan langsung dari Pengurus Pusat FPTI, yakni Wakil Ketua Bidang Kompetisi, juga instruktur dari Jawa Timur dan Bali.

"Peserta kelak akan menjadi tenaga juri yang profesional dan dapat diandalkan di NTB, maupun skala nasional," kata anggota DPRD NTB ini.

Nadirah berjanji akan memberikan kejutan berupa bonus uang tunai bagi peserta terbaik, sesuai dengan kriteria yang diatur oleh instruktur dan panitia.

Sementara Ketua Panitia Kursus, Tubsatun Azizulhaq, mengatakan pelatihan tersebut menjadi tahapan awal peserta memperoleh lisensi profesional.

"Terakhir sertifikasi tenaga ahli profesional bidang panjat tebing di NTB berlangsung 2010. Karena itu kami menggelar pelatihan ini sebagai langkah awal mencetak tenaga profesional baru," ujarnya.

Ia mengatakan, lisensi C2 sudah masuk kategori profesional. Namun peserta belum langsung menerima sertifikat setelah menyelesaikan pelatihan selama empat hari. Peserta harus mengikuti pre-test, post-test, ujian praktik, kemudian menjalani tiga kali magang pada kompetisi tingkat provinsi. Setelah peserta menyelesaikan seluruh tahapan, FPTI Pusat menerbitkan sertifikat profesional.

"Peserta mendapat waktu satu tahun untuk menyelesaikan tiga kali magang. Setelah itu pusat menerbitkan sertifikat," kata Tubsatun.

Tubsatun mengakui, minimnya agenda kompetisi daerah selama ini menjadi kendala peserta memenuhi syarat magang. Sebagian peserta bahkan harus mengikuti magang di Bali maupun Jawa karena NTB memiliki sedikit kejuaraan.

Pihaknya memanfaatkan Porprov sebagai wadah magang pertama. Pelatihan berlangsung pada 12 hingga 15 Juli. Setelah panitia menutup pelatihan, seluruh peserta langsung bergabung dalam kepanitiaan teknis cabang olahraga panjat tebing Porprov mulai 16 Juli.

Menurutnya, program tersebut melibatkan 22 peserta dari sembilan kabupaten di NTB. Seluruh peserta merupakan delegasi resmi pengurus cabang FPTI.

FPTI NTB juga menggratiskan seluruh biaya pelatihan. Pengurus bergotong royong menanggung seluruh kebutuhan peserta, termasuk menghadirkan dua instruktur dari FPTI pusat dari Surabaya.

Dari total peserta, sebanyak 13 orang memilih jalur juri, sedangkan sembilan orang mengikuti jalur route setter. Peserta jalur route setter menjalani magang sebagai asisten pembuat jalur sebelum memenuhi syarat menjadi route setter profesional.

Ia menambahkan, pelatihan tidak berfokus pada persiapan teknis Porprov, tetapi meningkatkan kapasitas SDM panjat tebing. Mengingat NTB baru memiliki tiga tenaga ahli profesional yang tercatat dalam basis data nasional FPTI. Kondisi itu mendorong FPTI NTB memperbanyak juri dan route setter profesional.

Lebih lanjut, panitia menerima 22 pendaftar hanya dalam waktu empat hari, meski persiapan pelaksanaan berlangsung singkat. Bahkan, FPTI NTB berencana kembali menggelar pelatihan serupa agar lebih banyak pelaku panjat tebing.

"Kami berharap pemerintah daerah, KONI, dan pihak terkait mendukung program pengembangan SDM ini. Karena sertifikasi menjadi bagian penting dalam jenjang karier juri dan route setter panjat tebing di Indonesia," katanya.

  • panjat tebing

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Ketum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon Hadiri Pelepasan Kontingen Indonesia ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Navigasi Udara Lumpuh, Ribuan Penerbangan di Inggris Kacau

Pengajuan Perubahan Data Desil, Anggota Dewan DIY Minta Dinsos Kawal Agar Sesuai Kondisi Ekonomi Riil Masyarakat

Kapok! Nekat Muncak Saat Ditutup, 8 Pendaki Ilegal Semeru Kena Blacklist Nasional Se-Indonesia

Hope: Dua Jam Tahan Napas saat Monster Alien Membantai Desa Terpencil Dekat Zona Demiliterisasi Korea

Pertamina Enduro VR46 Racing Team Yakin Faktor Motor Ducati Muluskan Adaptasi Bulega di MotoGP

Uni Eropa Siapkan Aturan 'Beli Produk Eropa' untuk Batasi Keunggulan Barang Tiongkok

Tolak Pungli dan Gratifikasi, Pemkot Banjarmasin Gelar Lomba Video Berhadiah Belasan Juta

Alphard Tabrak 10 Motor dan 3 Mobil di Menur Pumpungan Surabaya, Lima Orang Luka

Masifkan Gerakan Pangan Murah, Pemkot Surabaya Kolaborasi dengan KKMP dan Kelompok Tani Ringankan Beban Ekonomi Warga

Cegah Peredaran Daging HPR, Pemkot Jaktim Perketat Kuliner Khas di Kramat Jati

Sumur 15 Meter Mengering Total, Polres Ciamis Bangun Pipanisasi 300 Meter Selamatkan Warga!

Belum Punya Tim IT Mumpuni, UMKM Diimbau Tak Asal Kumpul Data Pribadi Konsumen

Kronologi 8 Pendaki Ilegal Kena Blacklist Karena Nekat Mendaki saat Semeru Erupsi dan Karhutla, Sempat Ada yang Tersesat

OJK Sentil Bank Digital: Tanpa Ekosistem, Bisnis Sulit Berkelanjutan

Minyak Dunia Naik, APBN Terancam Tertekan, Ini Langkah Anstisipasi Pemerintah

Airlangga Ungkap Rp11 Triliun Disiapkan untuk Rekening Massal, Apa Dampaknya?

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.