Pacu Diversifikasi Pangan

Senin, 24 Jul 2023, 10:06 WIB

JAKARTA - Pemerintah harus mempercepat diversifikasi pangan lokal pengganti gandum untuk membendung bertambahnya angka kemiskinan. Sebab, akibat imbas geopolitik, harga pangan global diperkirakan terus naik ke depannya.

Direktur Center and Economic Law Studies (Celios), Bhima Yudhisthira, memperingatkan keputusan Russia menarik diri dari kesepakatan biji-bijian di laut hitam bisa mempengaruhi pasokan gandum untuk industri makanan minuman (mamin) di dalam negeri.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Meskipun impor gandum Indonesia sebagian besar dari Australia dan hanya 166.758 ton dari Ukraina, tetapi efek berkurangnya suplai gandum Russia juga berdampak serius ke perebutan gandum di tingkat global.

"Harga gandum yang jelas untuk kontrak baru bisa naik, kemudian negara yang kekurangan stok akan beli juga dari Australia. Ini kalau tidak hati-hati bisa jadi rantai pasok gandum bergeser semua," ujarnya pada Koran Jakarta, Minggu (23/7).

Menurut Bhima, sebagian besar masyarakat miskin yang terbiasa makan mi instan, misalnya harus menanggung kenaikan harga apabila ada gangguan stok gandum. "Dari data kemiskinan per Maret 2023, mi instan menyumbang 2,56 persen garis kemiskinan perkotaan dan 2,24 persen di pedesaan," sebutnya.

Makanya, dia mendorong sejumlah solusi, pertama, segera menurunkan ketergantungan gandum khususnya dalam pemenuhan karbohidrat. Pengembangan pangan lokal perlu mendapat dukungan yang serius.

"Banyak pangan lokal alternatif yang daya saingnya bisa menjadi substitusi gandum," ungkap Bhima.

Kedua dengan mendorong perusahaan pengolahan pangan untuk terus memperbesar serapan pangan alternatif selain gandum

Ketiga, pemerintah khususnya perwakilan dagang dan kedutaan di negara seperti Russia dan Ukraina perlu terus memantau perkembangan situasi dan memberikan alternatif solusi jika terjadi krisis gandum.

Keempat, memanfaatkan forum G20, forum Asean yang dihadiri perwakilan Russia dan AS untuk menghentikkan perang yang mengganggu stabilitas pangan global.

Dosen Gastronomi Sekolah Tinggi Ekonomi Trisakti, Saptarining Wulan, mendesak pemerintah bergerak cepat apalagi selain masalah geopolitik, RI juga tengah dihadapkan dengan El Nino pada Agustus hingga September mendatang. Artinya, stok pangan tidak boleh terganggu.

"Jika suplai pangan terganggu, bisa menimbulkan kerusuhan. Orang-orang sensitif karena lapar. Mereka butuh asupan makanan. Jika kedaulatan pangan tidak disiapkan dari sekarang maka kita akan alami kekurangan pangan ke depan. Makanya diversifikasi pangan itu harus dipercepat. Optimalkan sumber pangan yang telah menjadi kebiasaan nenek moyang kita dahulu. Jangan bergantung pada gandum dan beras," tegas pakar pangan lokal Trisakti tersebut.

Tak Terganggu

Setelah Russia membekukan kesepakatan biji bijian di laut hitam, India pun melarang ekspor beras non-Basmati mulai 20 Juli lalu. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menyatakan larangan tersebut secara signifikan tidak akan mempengaruhi kondisi ketahanan pangan nasional.

Arief mengatakan pemerintah telah mempersiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras termasuk menghadapi El Nino.

"Kita akan pastikan bahwa Indonesia memiliki stok yang cukup, hitungannya carry over dari 2022 ke 2023 itu ada sekitar 4 juta ton, kemudian dari amatan KSA (Kerangka Sampel Area) kita punya produksi lebih dari 2,8 juta ton amatan bulan Mei, jadi kita optimistis beras aman," ujarnya akhir pekan lalu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.