Modernisasi Jaga Produksi Pangan

Jumat, 21 Jul 2023, 08:11 WIB

JAKARTA - Pemerintah perlu mencegah penurunan produksi pangan akibat dampak cuaca ekstrem El Nino yang puncaknya diperkirakan pada Agustus hingga September mendatang. Penggunaan teknologi hujan buatan dan varietas yang tahan terhadap lahan kering menjadi solusi.

"Banyak solusi, tidak mesti impor, kan pemerintah bisa inovatif sedikit, gunakan teknologi, juga bisa dengan riset. Jangan hanya ambil gampang saja, begitu stok pangan berkurang tinggal impor," tegas Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Jawa Tengah, Esther Sri Astuti, Kamis (20/7).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Dia menerangkan dampak El Nino menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) itu ditandai dengan curah hujan sangat rendah sehingga berpotensi memicu gagal panen dan kemunculan banyak penyakit. Untuk meminimalkan dampaknya, lahan pertanian dipastikan cukup air sehingga perlu pembangunan sistem irigasi yang baik.

"Jika memungkinkan dibuat hujan buatan untuk menjaga kecukupan air. Hal itu penting dilakukan agar tidak gagal panen sehingga ketersediaan stok pangan aman di Indonesia sekaligus mengupayakan untuk tidak impor," ucap Esther.

Alternatif lainnya, lanjut Esther, dengan menanam varietas tanaman tahan kondisi cuaca kering sehingga bisa tetap panen. "Sudah saatnya Indonesia tidak mengandalkan alam saja, tetapi teknologi pertanian menjadi suatu yang harus diupayakan dan diimplementasikan," tandasnya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi, mengatakan perlu membangun sinergitas kuat antara pemerintah pusat dan daerah, serta stakeholder terkait.

"Kita sepakati kita harus memiliki early warning system untuk kerawanan pangan dan gizi. Ini penting terutama karena kita menghadapi ancaman El Nino. Jadi, setiap daerah harus waspada dan melakukan mitigasi kerawanan pangan dan gizi di wilayah masing-masing," ujar Arief saat membuka Pertemuan Penguatan Analisis Sistem Peringatan Dini Kerawanan Pangan dan Gizi (SKPG), pada Kamis (20/7) di Bogor, Jawa Barat.

Pola Mitigasi

Arief menegaskan Sistem Kerawanan Pangan dan gizi yang dibangun NFA bersama pemerintah provinsi dan kabupaten kota menjadi early warning system yang harus dimanfaatkan untuk memitigasi faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya El Nino.

"Saya ingin bapak/ibu yang berada di level teknis di provinsi dan kabupaten kota benar-benar memahami SKPG ini, sehingga data yang dihasilkan nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan dan gizi," tegas Arief.

Pola mitigasi ini, lanjutnya, dimulai dengan membangun sistem berbasis digital. Karena itu, setiap daerah mengetahui situasi dan kondisi kerawanan pangan dan gizi di daerahnya.

"Ini penting karena sistem tersebut dihimpun berdasarkan berbagai aspek ketahanan pangan mulai dari ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan," ungkapnya.

Arief menegaskan setiap daerah harus memahami kondisi ketahanan pangan masing-masing. Dikatakannya, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, para pemimpin di daerah, baik gubernur dan bupati wali kota bertanggung jawab terhadap urusan ketahanan pangan di daerahnya masing-masing.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.