Pemulihan Ekonomi Hadapi Risiko Global
Senin, 19 Jun 2023, 10:58 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (B) memperkirakan perbaikan ekonomi domestik akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Bank sentral optimistis pertumbuhan ekonomi tajun ini berada di jalur 4,5-5,3 persen.
"Kami yakini perbaikan ekonomi domestik akan berlanjut pada kisaran 4,5 hingga 5,3 persen yoy," ujar Deputi BI, Filianingsih Hendarta saat membuka JaKreatiFest, di Jakarta, Jumat pekan lalu.
Meski terdapat perkembangan baik, ujar dia, masih ada risiko global yang membayangi perkembangan ekonomi nasional pascapandemi, di antaranya pemulihan ekonomi negara maju yang masih tertahan, serta tensi geopolitik yang masih berjalan.
Kemudian stance kebijakan moneter yang tetap tinggi, tetap kuat dan ketat di beberapa kebijakan ekonomi, juga terdapat peningkatan sistem stabilitas keuangan serta melambatnya disinflasi global.
Sementara inflasi Indeks Harga konsumen (IHK) diperkirakan kembali ke kisaran 3 persen pada triwulan III-2023.
Merespons kondisi tersebut, Fili mengatakan Bank Indonesia memiliki lima strategi pemulihan ekonomi nasional yang perlu dijalankan secara bersama-sama dengan k/l di tingkat regional dan nasional.
Strategi tersebut, yakni pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengembangan sektor pariwisata, pengembangan ekonomi syariah, perluasan ekonomi keuangan digital serta pengendalian laju inflasi agar tetap stabil dan terkendali.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo melaporkan, pada triwulan pertama 2023, DKI Jakarta menyumbang kontribusi sebesar 16,92 persen terhadap perekonomian nasional.
"Pada triwulan I-2023, kontribusi DKI Jakarta sebesar 16,92 persen terhadap perekonomian nasional," ujarnya pula.
Ke depan, dia mengajak berbagai pihak untuk bersinergi dan kolaborasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Terutama, diperlukan kebijakan untuk menjaga daya beli atau tingkat konsumsi belanja rumah tangga, akselerasi pemerintah, mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif serta mendorong digitalisasi ekraf serta penggunaan produk dalam negeri.
Inflasi Pangan
Kinerja perekonomian dalam negeri tahun ini menghadapi sejumlah tantangan berat, salah satunya inflasi pangan akibat dampak kemarau ekstrem atau El Nino. Karenanya, pemerintah harus mampu mampu mengendalikan inflasi saat fenomena El Nino, yang dapat mengakibatkan kekeringan di sejumlah wilayah di Indonesia, terjadi.
Ekonom Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo meminta pemerintah untuk mengidentifikasi dengan akurat mana daerah-daerah yang sangat dan sedikit terdampak El Nino, kemudian stok cadangan pangan di sana.
"Wilayah-wilayah yang relatif tidak terlalu merasakan efek El Nino bisa dimaksimalkan untuk menghasilkan produk pangan yang dapat dikirim ke daerah lain," jelasnya, beberapa waktu lalu.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Buntut Insiden Lift Mati, DPRD DKI Minta MRT Jakarta Pasang Cadangan Listrik di Seluruh Stasiun
-
Dilema Filipina: Antara Kebutuhan Energi dan Sanksi Barat terhadap Russia
-
Pemerintah Mengeklaim Harga Beras Tak Naik
-
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.