Optimalkan Potensi Dana Pensiun untuk Perekonomian
Rabu, 17 Mei 2023, 09:56 WIBJAKARTA - Dana pensiun berpotensi menjadi kontributor dari sektor keuangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Potensi tersebut berasal dari kondisi demografi yang dimiliki oleh Indonesia.
"Potensi peningkatan kontribusi sektor finansial ke GDP (Gross Domestic Product atau PDB) masih bisa dikembangkan, salah satunya lewat dana pensiun," kata Wakil Direktur Utama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Jahen Fachrul Rezki saat konferensi pers Indonesia Financial Group (IFG) di Jakarta, Selasa (16/5).
Dia menjelaskan potensi tersebut berasal dari kondisi demografi Indonesia. Saat ini, Indonesia sedang berada di fase bonus demografi, yakni ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari jumlah penduduk berusia nonproduktif.
Artinya, pada 2045, tahun target visi Indonesia Emas 2045, ada banyak penduduk yang mulai memasuki usia pensiun. Dengan makin banyaknya penduduk yang masuk ke usia pensiun, maka kinerja dana pensiun akan meningkat, sehingga kontribusi dana pensiun ke PDB akan makin besar.
"Kami memperkirakan kontribusi asuransi terhadap PDB pada 2045 sekitar 3-5 persen. Jadi, memang secara substansial, masih banyak manfaat yang bisa kita dapatkan," jelas Jahen.
Meski begitu, dia mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami dengan baik perlindungan dana pensiun dari asuransi. Karena itu, perlu adanya upaya mendorong tingkat literasi keuangan masyarakat, khususnya untuk produk asuransi.
Hal tersebut yang melandasi LPEM bekerja sama dengan IFG guna menyelenggarakan konferensi nasional yang mengumpulkan kajian ilmiah terkait asuransi dan dana pensiun. Kajian ilmiah yang terpilih diharapkan dapat menjadi solusi bagi sektor asuransi dan dana pensiun.
"Kami sepakat berkolaborasi karena topik asuransi ini penting, sebab menyangkut hidup orang banyak. Tapi, kontribusi ke PDB rendah, karena mungkin isunya masih kurang di akademik. Jadi, kami harap ada banyak kajian dari konferensi ini yang bisa dimanfaatkan untuk asuransi dan dana pensiun," ujarnya.
Konsumsi Bertumbuh
Pada kesempatan lain, Senior Economis DBS Bank Radhika Rao memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 akan sekitar 5 persen secara tahunan. Dia menyebut konsumsi masyarakat akan kembali normal dan tumbuh moderat pada tahun ini, terutama di paruh kedua 2023.
"Dengan mempertimbangkan banyak faktor secara bersamaan, dengan normalisasi permintaan dan investasi tetap masuk, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5 persen," kata Radhika dalam media briefing daring yang dipantau di Jakarta.
Investasi juga akan tetap masuk ke sektor-sektor pertambangan, pengolahan logam, dan transportasi, sementara harga komoditas Sumber Daya Alam (SDA) yang sedang menurun diperkirakan akan memperlemah perdagangan. Namun pada saat yang sama, inflasi di Indonesia menjadi lebih terkendali dibandingkan inflasi negara lain di wilayah yang sama, terutama Filipina.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Komisi II DPR RI Dukung Kebijakan Pemerintah Cegah PPPK Dirumahkan
-
Kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok, Tim Gabungan Lakukan Evakuasi
-
Tingkatkan Kewaspadaan, Wamenkomdigi Soroti Ancaman Siber Akibat Komputasi Kuantum
-
Waspada, Penyakit Katup Jantung Berkembang Perlahan, Kenali Gejalanya Sejak Dini!
-
Biaya Logistik RI 14,29% PDB, Pakar Soroti 3 Penyebab Biaya Tinggi
-
Kabar Gembira, BPS: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat di 2026
-
FIFA: Spanyol Catatkan Rekor sebagai Tim yang Tak Terkalahkan dalam 38 Pertandingan, sejak 2024 hingga Piala Dunia 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.