Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Karena Kurang Inovatif dan Kalah Saing, Tupperware Terancam Bangkrut

📅 Minggu, 16 Apr 2023, 17:37 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Karena Kurang Inovatif dan Kalah Saing, Tupperware Terancam Bangkrut Doc: AFP

LEOMINSTER - Perusahaan berbasis Amerika Serikat yang sudah berusia 77 tahun itu mulai melihat timbulnya retakan dalam model bisnis revolusionernya. Utang yang kian menumpuk serta penjualannya yang merosot membuat manufaktur wadah kedap udara itu terancam bangkrut jika tidak ada investor yang mendanai.

Meski perusahaan itu sudah berupaya untuk memasarkan produknya dengan gaya baru kepada generasi-generasi muda, penjualannya tetap tidak bisa didongkrak.

Perusahaan wadah plastik itu terkenal dengan strategi pemasaran mereka yang ikonik pada era '50-an sampai '60-an, yakni mengajak ibu-ibu rumah tangga mengadakan "pesta Tupperware" untuk memamerkan -sekaligus menjual- produk-produk plastik itu kepada tetangga dan teman-teman mereka.

Namun, model bisnis inti dari Tupperware yang memperkerjakan wiraswasta lepas guna menjual produk dari rumah mereka sendiri, telah lama ketinggalan zaman. Bahkan, taktik itu sudah ditinggalkan total di Inggris sejak 2003.

Kini, petinggi-petinggi perusahaan mengakui bahwa, tanpa pendanaan baru, merek yang namanya sudah menjadi sebutan tersendiri itu bisa saja hilang total.

"Kita menggunakan itu [Tupperware] sebagai kata benda, yang cukup unik bagi sebuah merek," kata Catherine Shuttleworth, pencetus perusahaan analisa sektor ritel, yakni Savvy Marketing. "Saya pikir banyak orang muda akan kaget jika tahu itu adalah nama merek," imbuh dia.

Meskipun Tupperware disebut sebagai "produk mukjizat" pada awal peluncurannya beberapa dekade yang lalu, Shuttleworth menambahkan sekarang pasar itu dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan yang menawarkan alternatif yang lebih murah dalam beberapa tahun terakhir.

Penjualan Tupperware sempat meningkat tajam di kala pandemi Covid-19, dengan kebanyakan masyarakat lebih memilih untuk memasak dan menyimpan makanan di rumah. Tetapi, peningkatan itu ternyata hanya bersifat sementara.

Penjualan sudah semakin menurun sejak itu, terutama karena perusahaan itu "kurang inovatif" dalam 10 sampai 20 tahun terakhir. Sehingga, mereka kalah dengan kompetitor-kompetitor, ungkap Shuttleworth.

Kenyataan bahwa Tupperware kurang berinovasi seperti bertolak belakang dengan masa lalu mereka. Perusahaan itu pertama didirikan oleh seorang pria bernama Earl Tupper. Namun, duta mereknya adalah seorang perempuan bernama Brownie Wise.

Produk buatan Tupper menjadi inovasi baru, yakni menggunakan plastik untuk membuat makanan tetap tahan lama. Khususnya, pada zaman itu ketika kulkas masih terlalu mahal buat kebanyakan orang. Tetapi, sebelum kedatangan Wise, produk itu kurang laris.

Sebagai cara untuk memasarkan produk itu, Wise mulai mengorganisir acara-acara untuk menjual wadah-wadah plastik itu dengan bertemu langsung dengan para ibu-ibu rumah tanga yang menjadi sasaran penjualan.

Pesta Tupperware tak hanya bertujuan untuk menjual Tupperware, tetapi juga untuk bergaul dengan ibu-ibu lain.

Gaya inovatif Wise dan kemampuannya untuk menjual banyak produk membuatnya diangkat ke tingkat eksekutif pada zaman di mana kebanyakan perempuan tidak boleh menginjakkan kaki ke dalam ruang rapat pimpinan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

38 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.