Manfaat Cuka sebagai Pembersih Kotoran yang Efektif dan Serbaguna
📅 Minggu, 02 Apr 2023, 19:29 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Istimewa
LONDON - Yang diperlukan hanyalah cuka putih, karet gelang, dan kantong plastik. Dalam waktu 25 menit, kerak kapur yang menempel di keran kamar mandi metalik menjadi sangat lunak, sehingga dapat dengan mudah dibersihkan dengan sikat gigi.
Tips ini merupakan bagian dari tren viral di media sosial dengan tagar #CleanTok - di mana orang-orang berbagi trik sederhana dengan hasil memuaskan, saat kotoran dengan mudah dihapus dan barang-barang Anda seperti disulap menjadi kembali cemerlang.
Namun meski ada ribuan produk pembersih komersial di luar sana, banyak pemengaruh di media sosial memilih menggunakan cuka. Dari membersihkan jendela hingga mencuci stroberi atau menyulap toilet kotor menjadi mengilap, sepertinya semua hal bisa dilakukan oleh bahan rumah tangga ini.
Cuka telah ditambahkan ke mesin pencuci piring, mesin cuci, dan bahkan digunakan oleh para ilmuwan untuk mendisinfeksi laboratorium. Tapi apa yang membuatnya begitu serbaguna?
Cuka dibuat melalui proses fermentasi dua langkah. Pertama, karbohidrat dalam bentuk apa pun dimasukkan ke sel ragi, yang mengubah gula menjadi alkohol dan karbon dioksida. Alkohol ini kemudian terpapar oksigen dan difermentasi lagi, kali ini dengan bakteri Acetobacter sebagai pengganti ragi, dan voila..., cairan alkohol diubah menjadi campuran air dan asam asetat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini adalah fenomena sama yang menghasilkan rasa asam pada minuman anggur yang dibiarkan terbuka semalaman.
Dalam hal pembersihan, unsur dari cuka yang paling berguna bisa dibilang adalah keasamannya - cukup ringan untuk tidak merusak kain dan permukaan, tetapi cukup kuat untuk menghilangkan noda dan endapan yang membandel.
Bahan makanan rumah tangga ini dapat memiliki pH serendah 2,2 - sekitar 10 kali lebih asam dari rata-rata minuman ringan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tingkat keasaman cuka komersial cenderung berada di ujung bawah kisaran ini, sementara versi buatan sendiri memiliki pH sekitar 3.
Ketika cuka ditambahkan ke noda, terutama yang disebabkan oleh endapan mineral seperti limescale (penumpukan kapur yang sebagian besar terdiri dari kalsium karbonat), asam membantu memecahnya. Reaksi ini menghasilkan garam (kalsium asetat, yang mudah larut dalam air) dan karbon dioksida.
Keuntungan lain dari cuka adalah sifat antimikrobanya. Meski beberapa bakteri dapat bertahan hidup di lingkungan asam, kebanyakan bakteri sehari-hari sulit untuk hidup dan bereplikasi dalam kondisi ini.
Maka dari itulah muncul teknik pengawetan, metode kuno mengawetkan makanan dengan menciptakan lingkungan yang tidak ramah bakteri menggunakan garam dan cuka. Membersihkan dengan cuka memiliki logika yang sama, dan penelitian telah menemukan bahwa cuka dapat membunuh berbagai patogen, termasuk E. coli.
Produk ini terbukti efektif untuk berbagai penggunaan, mulai dari membersihkan gigi palsu hingga mendisinfeksi buah dan sayuran.
Kiat pembersihan populer lainnya adalah mengoleskan cuka ke permukaan yang perlu dibersihkan, lalu taburkan soda kue dan perhatikan saat berbusa - trik yang sama digunakan untuk membuat "lava" untuk proyek gunung berapi di sekolah. Dalam hal ini, reaksi kedua bahan itu menghasilkan gelembung air dan karbon dioksida, yang berinteraksi membantu memecah kotoran secara fisik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!