OJK Membidik Penetrasi Kredit di Atas 35 Persen dari PDB
Sabtu, 18 Mar 2023, 00:00 WIBBADUNG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membidik penetrasi kredit nasional di atas 35 persen dari produk domestik bruto (PDB) karena masih banyak potensi yang bisa dielaborasi, salah satunya sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
"Jadi masih banyak ruang untuk bertumbuh untuk kredit di Indonesia, tidak hanya bicara kredit bank, tapi juga pembiayaan nonbank," kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, dalam seminar internasional terkait penilaian kredit di Badung, Bali, Jumat (17/3).
Seperti dikutip dari Antara, Mirza mengatakan realisasi kredit di Indonesia saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar 35 persen dari PDB. Berdasarkan data OJK, realisasi kredit perbankan pada Desember 2022 mencapai 6.424 triliun rupiah atau melonjak 11,35 persen jika dibandingkan periode sama 2021 mencapai 5.482 triliun rupiah.
Menurut dia, capaian realisasi kredit 2022 itu diperkirakan sekitar 35 persen dari total PDB atas dasar harga berlaku mencapai 19.588,4 triliun rupiah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022.
Dia menjelaskan persentase kredit perbankan di Tanah Air itu masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang mencapai sekitar 70 persen dari PDB negara gajah putih itu.
Lembaga Pembiayaan
Ia menyakini dukungan penetrasi kredit tidak hanya dikontribusikan oleh sektor perbankan, tetapi juga kredit nonbank seperti lembaga pembiayaan seperti Pegadaian, hingga lembaga keuangan informasi seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
Mirza menambahkan penilaian kredit alternatif yang inovatif atau Innovative Credit Scoring (ICS) berpotensi menjadi salah satu informasi untuk menilai calon debitur termasuk dari pelaku UMKM. ICS dapat menjadi cara baru selain penilaian kredit oleh Biro Kredit Konvensional yang menilai riwayat pembayaran pinjaman dan utang yang belum lunas.
Apalagi dengan era digital, informasi terkait transaksi yang tren saat ini seperti Beli Sekarang Bayar Kemudian (Buy Now Pay Later/BNPL) dan aktivitas digital UMKM dapat menjadi salah satu bagian penilaian dalam memperoleh akses kredit.
"Kita semua ada di era digital. Untuk menumbuhkan kredit, informasi dari aktivitas digital, bisa digunakan sebagai informasi ini untuk menumbuhkan kredit di Indonesia," ucapnya.
Untuk menumbuhkan kredit yang memenuhi prinsip hati-hati, lanjut dia, pemerintah memiliki program jaminan kredit termasuk bagi UMKM.
"Dengan banyaknya penduduk hampir 300 juta dari Sabang sampai Merauke, itu (35 persen kredit) belum cukup. Kami harus menumbuhkan banyak lagi pinjaman, tidak hanya dari bank tapi juga nonbank, tidak hanya menggunakan konvensional, tapi juga informasi digital," ucapnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Bayern Percaya Diri Atasi Gladbach
-
Pegula Jaga Asa Final Perdana di Dubai
-
Jalan Rusak Ditambal Aspal Instan, PUPR Kota Tangerang Lakukan Penanganan Sementara Demi Keselamatan Pengguna Jalan
-
Tecno Spark Go 3, Smartphone AI Terjangkau dengan Baterai Besar
-
Satgas Pangan Maluku Perketat Pengawasan terhadap Distributor
-
Pemkab Penajam Paser Utara Pantau Harga-Pasokan Pangan saat Ramadan
-
Whoosh Ngebut Lagi, 62 Perjalanan Siap Layani Penumpang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.